Monday, 14 March 2016

first

 KLARABELA

  
             Seperti biasa pukul lima sore klarabela duduk di pojokan sofa café stars, dia sendiri dan nampak gelisah. Mata nya sibuk mengamati layar handphone nya sambil sekali kali memainkan.nggak ada satupun panggilan masuk ataupun pesan singkat dari kekasihnya. Dhafin.
Ya, klarabela hari ini ada janji ketemuan sama kekasih kesayangannya itu di café ini. Tempat  favorit mereka dari awal pacaran sampe tiga tahun ini. Klarabela nampak kesal, ia tahu dhafin emang sering telat datang tapi kali ini keterlaluan, sudah dua jam dia menunggu tapi nggak ada juga kabar dari kekasihnya itu.
“vaa” dia memanggil eva, waitress yang sudah akrab dengannya, si empunya nama buru-buru menghampiri. “ gue pesen hot chocolate aja ya va “
“ mm nggak nunggu yayang nih mbak? “ Klarabela menggeleng mantap
“ nggak va keburu kering tenggorokan gue nanti “ tandasnya cepat. Eva tersenyum kecil. nggak lama dia pergi dari hadapan klarabela.
            Di meja itu kemudian dia menenggelamkan kepalanya, rasanya campur aduk sekarang. Antara kesal mau nangis dan nyesel kenapa tadi nggak dengerin nasihat teman-teman kantornya saja. Kalau saja dia tadi nurut buat ikut menghabiskan voucher menang tender dan malah merelakan cabut kantor lebih awal demi dhafin yang kalau janjian pasti ngaret seabad, pasti semua nggak akan kejadian begini.sekarang sudah dua jam berlalu tapi nggak juga itu orang muncul.
“ klara “ ada yang memanggilnya,dia berdiri didepan sofa klara,diangkatnya kepalanya segera. Raut wajahnya terlihat sumringah. Itu pasti dhafin. Nggak lama kemudian begitu dilihatnya jelas,siapa yang datang. Hilang lah sumringahnya.
“ ah elo faa. “ katanya bête. Itu adik laki-lakinya, Raffandiva. Yang kuliah disemester akhir jurusan hukum. Adiknya buru-buru duduk.
“ nungguin dhafin ya lo. Segitunya banget sih lo. Tuh muka macem jomblo ngenes aja sih dipojokan café sendirian gini. Abis nangis ya lo kak” dia mengacak-ngacak rambut cepolan kakaknya, kakaknya cemberut. Dibenahinya lagi rambutnya, ya maklum lah biarpun jarak mereka tujuh tahun tapi keakrabannya emang sudah seperti orang pacaran, malah klara akuin kalau sikap adiknya itu melebihi sikap dhafin kepadanya. Terkadang lebih mesra dan penuh perhatian
“ lo ngapain sih fa disini, cabut kuliah ya lo. “ rungutnya kesal tak dipedulikan ocehan adiknya itu.
“ gue janjian sama temen kak “ mata dafa mengamati sekeliling café mencari dimana temannya duduk. “ VOOO “ Raffa memanggil seorang pria yang duduknya ditengah sofa café, pria itu mencari sumber suara. Matanya melotot lebar lalu tersenyum dia berdiri dan beranjak dari tempat nya duduk berjalan ke arah pojokan café tempat klarabela dan raffa duduk.
            Klarabela kelihatan salah tingkah, orang yang dipanggil adiknya itu yang sedaritadi memperhatikannya. Iya dia, ternyata dia teman raffa. Orang itu memang sudah sejam lalu di sofa tengah, dia menunggu juga. Sedari tadi itu orang selalu melihatnya dari kejauhan, sesekali melempar senyum.“ sorry vo lama ya lo nunggu gue “ mereka berpelukan layaknya sahabat yang sudah lama tidak bertemu. “ sorry ya tadi gue ada kelas sebentar maklum lah udah semester akhir ngejar-ngejar dosen pembimbing juga nih “ jelas raffa panjang lebar. Temannya itu cuma membalas dengan senyum lembut . “ eh iya, ini kakak gue vo “
 Klarabela kaget diposisi bengong, matanya melotot salah tingkah. “ hai, aldevo “ teman raffa menyodorkan tangannya.
“ hai, klarabela “ klara mengontrol kesalah tingkahannya. Di balasnya segera tangan devo, entahlah berdesir kencang sekali dadanya seketika. Genggaman dan senyuman hangat devo meredam kekesalannya hari ini. Seperti kekuatan besar yang dibawa orang ini sampai membuat klara salah tingkah dan mati gaya dibuatnya padahal kalau ditelusurin lebih jauh lagi dia juga pasti seumuran adiknya, masih kuliah masih kencuran lah.
“ panggil klara aja “ dia buru-buru melepas jabatan tangan devo.
            Lagi-lagi devo melemparkan senyum manisnya. “ vo, kayaknya kita gabung disini aja ya, kakak gue ga keberatan kok. Ya kan kak? “ si raffa mulai sok tahu, klara memincingkan mata tajamnya. “ daripada lo kena harapan palsu kak mending kita temenin deh, gak kok gak keliatan tante-tante banget “
 Klarabela spontan mencubit perut adiknya itu. Sial! Dibilang tante-tante lagi gue, rungutnya dalam hati. “awwww, sakit tau. Ini diluar kak jangan bikin malu kek “ raffa kesakitan, dia mengelus elus perutnya, devo yang masih berdiri memperhatikan tingkah kakak adik itu tersenyum geli.
“ you’re an idiot, bro “ klarabela mendesis sembari melotot tajam kearah raffa, adiknya itu sih malah terkekeh geli. “ duduk aja vo, sini “ mau tidak mau sebagai perempuan dewasa yang punya keramah tamahan tinggi dan menghargai teman adikknya akhirnya dia pun mengiyakan tawaran adiknya itu. Yah lumayanlah kalaupun kekasihnya itu yang daritadi belum nongol juga gagal datang, dua anak-anak ini bisa jadi teman nongkrong santai. Asal nggak dibilang aja sih lagi ngasuh berondong.
            “ jadi sekarang lagi sibuk apa vo? “ Tanya raffa setelah temannya itu duduk dihadapan mereka, lebih tepatnya sih duduk dihadapan klarabela.
 “ sibuk cari kesibukan aja nih “ balasnya  “ lo sendiri gimana? “
“ hahaha gue sih lagi mau skripsian vo, ya sesekali jadi supir antar jemput nyonya satu ini aja. “ jelas raffa diiringi cemberut klara. Devo melirik dan bikin klara jadi salah tingkah
“ asik dong ya punya adik sebaik lo fa, sama kakak nya sayang banget. Kayak orang pacaran aja. Gue aja iri banget “
“ hahahha bisa aja lo vo. Ya maklum lah gue bisa jadi serep kalo-kalo pacarnya klara lagi kumat stressnya. Semacam diberi harapan palsu gitu deh “
            Raffa ini benar-benar membuat klarabela malu. Pipi nya memerah seperti tomat, sebenarnya bukan karena dia malu jadi bahan bercandaan raffa,tapi klara malu sekali diperhatikan seperti itu sama aldevo. Itu orang ngeliatinnya ademm banget, senyumnya lhoo memukau. “ jadi, dari tadi nungguin pacar nya ya kak? “ aldevo memulai bersuara lagi. Klarabela melebarkan matanya. Terbelalak kaget, bukan karena dia malu karena si devo ini ternyata memang memperhatikan dia diawal dia datang sampai setibanya raffa,tapi klara kaget waktu devo memanggilnya ‘kak’ . ampun deh, kalau si raffa mah nggak papa, namanya juga adik sendiri dan kalau didepan orang tua mereka apalagi papa nya kalau didengarnya raffa memanggil dengan sebutan nama saja kekakak nya itu bisa habis dimaki-maki dia.
“ klara aja deh kayaknya vo, tua amat gue dipanggil kakak. “ jelas klara terbata bata menahan malu. raffa tertawa geli. “ berarti lo juga lama banget dong ya nungguin si raffa ? “ Tanya klara mengalihkan obrolannya. Raffa berhenti ketawa
“ masa sih vo ? “ raffa seakan nggak percaya
“ lumayan sih….” Jawab devo “ sejam gitu “ lanjutnya lagi . spontan saja klarabela tertawa geli sejadi jadi nya. Raffa gentian cemberut
“ nah lo juga kan masuk kategori pemberi harapan palsu ke orang. Paraaahhh….sejammm bokk… “ klara balas mencibir, raffa manyun saja.
“ maaf ya vo tadi emang ada kelas dadakan gitu “ raffa kembali menjelaskan, si devo manggut-manggut saja. “ oh iya kak, lo inget ga sih ini devo anaknya om irwan kak. Dia baru balik dari aussie seminggu lalu. “ raffa mulai membuka obrolan lagi.
“ oh pantesan kayaknya lo ga asing banget, kayak pernah ngenalin tapi dimana gitu “ klarabela kembali bersahabat, dia menanggapi sesantai mungkin. Devo pun kembali melemparkan senyuman hangatnya. Itu senyum bener-bener bikin klarabela mati gaya. Duh, adem banget. Nggak pernah dia merasakan getaran ini sewaktu menatap dhafin. Kenapa ya dengan dirinya, masa senyuman anak kuliahan saja bisa bikin dia jadi salah tingkah, parahnya bikin dia lupa keselnya. “ gimana bokap nyokap vo, sehat? Kuliah lo udah kelar? Tinggal dimana? “
Uuuuuuuuuups….pertanyaan borongan klarabela ini pasti memicu keresehan adiknya nih sebentar lagi.. “ lo apaan sih kak? Heboh amat deh? Penasaran banget apa karena kesemsem sama devo? “ gosh! Si raffa ini ingin sekali rasanya dia rendam di air mendidih. Ngapain sih pake nyeletuk kaya gitu.
“ rese lo ah fa. “ klara bersungut sebal. Devo tertawa kecil.
“ nggak papa kok  gue seneng ditanya banyak sama kakak lo ini fa. Itu artinya kan gue masih diinget dia “ aldevo menanggapi dengan sopan dan kalem.
            Klarabela mau mati saja sore ini rasanya, kenapa ini anak ngomong begitu sih tapi malah bikin dia malu malu kucing.  Aduh ini kayak kelakuan anak abg banget sih ini duh.
Setengah jam berlalu. Klarabela mulai nyambung gabung sama dua anak kuliahan ini, dia malah mulai lupa dengan suntuknya menunggu dhafin yang nggak juga datang. Aldevo ternyata cukup pintar, dari caranya bicara dan membahas binis serta bahan skripsi raffa pun kelihatan dari caranya bicara. Salut juga.
“ klara “ disela obrolan itu ada suara berat milik seseorang yang nggak asing untuk klara. Mata orang itu melotot lebar
“ dhafin….” Klara kaget, 
“ kamu mau ngebahas apa tadi? Sorry aku telat “ dada klara rasanya sesak seketika dengar pertanyaan dhafin tadi. Selama ini dia nunggu Cuma bilang sorry? Dan nanya pula, mau ngebahas apa? Emang dia nggak ingat dia sendiri yang bikin janji yang katanya mau ngerayain anniversary ketiga tahun mereka.gila, dhafin mulai gila. Lagian ini orang nggak tahu sopan santun banget sih, tiba-tiba datang. Nggak pake salam nggak pake basa-basi langsung nembak aja.
“ fin, gabung sini aja “ raffa memecah keheningan,
“ bisa kita berdua aja kla? “ dhafin mengacuhkan raffa. Suara dhafin meninggi kearah klara. Raffa yang dengar menggepal tangannya keras, rasanya ingin dia tonjok wajah pria itu seenaknya bersikap seolah nggak ada apa-apa hari ini, tiba-tiba datang pula. Kasar. Klara yang tau adiknya emosian dan sayang banget, buru-buru mengecup pipi raffa masih diposisi duduknya.
“ aku duluan pulang ya, ketemu dirumah aja “ bisiknya lembut demi meredam suasana dan kemarahan raffa. Lagipula nggak enak sama devo. Raffa balas senyum lembut saja, dia sadar ini tempat umum dan dia nggak mau membuat malu kakaknya didepan banyak orang apalagi didepan aldevo. “ duluan ya vo “ klarabela berdiri segera, dia pamit ramah, devo balas dengan senyum.
            Raffa memperhatikan kepergian kakaknya itu bersama kekasihnya keluar café, sebenarnya raffa sudah tidak mempercayai lagi pria itu. Sayangnya rasa cinta kakaknya itu ke dhafin memang besar dan sulit sekali membuatnya menjauh meskipun beberapa bulan ini sikap dhafin mulai berubah. Raffa selalu mendoakan yang terbaik untuk kakaknya itu, sudah berulang kali dia mencintai orang  yang salah dan dengan dhafin ini, klarabela sepenuhnya menaruh harapan agar dia menjadi yamg terakhir pelabuhan cintanya. Semoga saja..

****

Sementara itu didalam mobil..
 “ maksut kamu apa tadi bilang gitu fhin? “
Klara akhirnya memberanikan membuka suara karena sejak dia keluar café dan masuk mobil, dhafin cuma diam raut wajahnya merah seperti orang mau marah.tangannya menggepal keras setir mobil. Itu mobil masih terpakir diparkiran café. “ kamu sengaja mau bikin aku malu? “
            Dhafin menoleh cepat “ pikiran kamu negatif mulu ya kla.” Potong pria itu dengan nada tinggi, klara kaget melotot. “ adik kamu tuh yang suka ikut campur masalah kita “ kini raut wajah klara memerah kesal “ sengaja banget dia bawa temen kan mau tau aja urusan kita, iya kan?  “
“ kok kamu jadi bawa-bawa raffa sih? Nggak ada hubungannya fhin. “ klarabela mulai meninggikan suaranya juga, dia kesal bukan main.
“ adaa! “ sahut dhafin tegas dan kasar. “ belom jadi suami kamu aja ya, aku tuh ngerasa raffa tuh nggak ngehargain aku. Bisanya cuma ikut campur aja. Mau sampe kapan sih dia ikut kemanapun kamu pergi? Dia itu udah kuliah kla. Udah gede “
            Klara makin nggak ngerti aja sama isi kepala dhafin saat ini. dia nungguin dhafin daritadi ini hasilnya, yang nggak masuk akal. Dia ngajak klara pergi tapi cuma mau bahas masalah begini. Tentang raffa, kenapa jadi adiknya yang disalahkan ? klara nggak pernah bisa nahan amarah apalagi air mata kalau adik atau keluarga nya sudah dibawa-bawa dalam masalahnya.
“ denger ya fhin “ potong klara cepat lantang, dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya, marahnya sudah nggak bisa diredam lagi.  “ kalo kamu mau bahas yang lain silahkan, tapi kalo kamu tiba-tiba masukin raffa didalamnya aku nggak terima ya. Harusnya aku yang marah fhin. Akuuu “ matanya membesar,  nampak merah dan menahan airmata yang hampir keluar. “ dua jam aku nunggu kamu. Kamu yang buat janji kamu yang bilang punya kado special ditahun ketiga kita, tapi tadi kamu dateng telaaat banget dan pake nanya mau ngebahas apa? “ klara menggebu. Kali ini dhafin memang keterlaluan membuatnya kesal “ kamu tiba-tiba dateng dan langsung melotot. aku nggak ngerti fhin kenapa sama kamu sekarang? Kalo pun kamu nggak bisa nerima adikku, itu artinya sama aja kamu belom bisa nerima aku apa adanya “
“ KLARAAA!! “ dhafin berteriak kencang. Klara sebodo amat.
“ kalo tadi nggak ada mereka aku udah kaya orang gila. Sendirian nggak jelas. Seenggaknya raffa selalu ada buat aku dimanapun dan kapanpun aku butuh “
“ dan temannya itu kan maksut kamu? “
            Klara kaget luar biasa. Dhafin membuatnya semakin gila sore ini. Klarabela membuka seatbelt nya cepat. Di lihatnya dhafin lebar-lebar. Dia menghela nafasnya panjang, berusaha menahan tangisnya. “ bener kata raffa ya emang, buang-buang waktu berdua kamu sekarang “ dia membuka pintu mobil. Dilangkahkan kakinya keluar lalu dibanting nya pintu mobil dhafin yang keren itu dengan kasar dan keras. Klarabela marah sekali, pria didalam mobil itupun tak sepatah katapun mengeluarkan suaranya untuk mencegah wanita nya itu tidak meninggalkannya. Dia cuma diam. Bodoh
                                                           
****

Sudah tiga hari semenjak kejadian sore itu klarabela belum menghubungi dhafin,  begitu juga sebaliknya. Nggak ada sedikitpun pesan atau telepon permintaan maaf dari pria itu. Klarabela masih nggak habis pikir aja dengan dhafin sekarang, sejauh itu dia berfikiran negatif pada adiknya ditambah dengan devo pula. Begitulah sifat dhafin yang kadang klarabela nggak pernah bisa terima, kalau sudah salah dan lelah dari kesehariannya pasti hobi banget cari masalah, pake bawa-bawa orang lain didalamnya.
Piiip…piiip
Suara pesan singkat masuk. Dhafin.
Klara yang baru saja membenahi meja kerjanya melongok. Entahlah kali ini rasanya biasa saja mendapat pesan dari pria itu tidak seperti se excited biasanya. Hati klara masih terlalu marah memaafkan pria itu
“ sayang aku jemput ya kita dinner.. “ begitu kira-kira isi pesannya, dan perasaan klara kali ini hambar sekali.
“ ciyeeee akhirnya baikan niiih “ suara denis memecah kegundah gulana hati klarabela. Dia buru-buru sok sibuk beresin meja kerjanya lagi, bersiap pulang. “ tumben nih nggak dibales cepet. Ntar nyesel loh “ ledek denis lagi.
Tuk! Dilemparnya kertas kecil kearah denis, teman kerjanya itu terkekeh geli.  Klarabela memasukan handphone nya kedalam tas, mengabaikan pesan dhafin yang masuk yang biasanya selalu dia tunggu. “ pulang yuk beb “ denis merangkul pundak klara cepat, klara melepasnya cepat
“ sinting! Ganggu mulu lo ah, gue lagi gak mood nih “ katanya sembari mencepol rambutnya. Denis cuma senyum-senyum.
“ raffa jemput nggak ? “ Tanya denis lagi.
“ nggak, gue naik taksi aja deh. “
“ bareng gue aja yuk “ katanya cepat. “ yah mumpung lo lagi ga mood sama si dhafin, nggak papa deh gue jadi serep, relaa gue “ cerocos nya ngaco. Klara tertawa.
“ emang pinter ya lo ngehibur gue nis “ kali ini klara menanggapinya dengan tawa. Denis tersenyum akhirnya bisa juga melihat sahabatnya itu tersenyum setelah tiga hari ini murung terus dimeja kerja, sampai kerjaan terlantar.
“ gak bisa ngambil hati lo doang gue sayangnya sih bel…” denis melanjutkan kata-katanya, klara mencibir geli. Bisa aja ngegombalnya ini manusia alien, pikirnya “ yuk beb “ denis merangkulnya lagi sampai mobilnya.
Denis dan klara sahabatan emang sudah cukup lama sih semenjak dari bangku sma sampai akhirnya mereka kerja diperusahaan yang sama, yang denis bilang tadi ada benarnya juga sih. Kadang dia emang rela aja dijadiin serep sama klarabela. Bukan klaranya sih yang minta denis sendiri suka nawarin jasa nya.
“ tumben sih lo lama amat berantemnya bel? “ Tanya denis ditengah perjalanan
“ makin kesini dia makin kekanakan nis, gue jadi ragu. “
“ terus mau lo putusin? “ denis nyeletuk seenak jidat sembari memakai kacamata hitamnya. Klarabela diam “ mmm maksut gue lo mau ambil tindakan apa lagi sayaang….” Melihat klara diam begitu denis jadi nggak tega juga dia ralat pertanyaannya tadi masih dengan gayanya yang ceplas ceplos. Klara mengusap air matanya yang jatuh. Rasa sakit omongan dhafin kemarin masih ada. Masih nggak bisa diterimanya, tiga hari sudah dia diamkan orang itu. Selama itu hati klara masih saja belum bisa memaafkannya seperti sebelumnya kalau lagi berselisih. “ jangan nangis dong, lo mulai lagi deh drama nya, gue traktir makan aja ya sekarang “
“ nggak usah nis, anter gue aja pulang sekarang. Gue mau tidur aja “ jawabnya lirih. Denis nggak bisa ngomong apa-apa lagi, dia tancap gas melesat cepat mengantar pulang sahabat nya itu.
Sepanjang perjalanan kerumah klara diam saja, sesekali menangis dalam tunduknya. Denis sebagai sahabat hanya bisa melihat dan mengelus lembut punggungnya. Denis bingung sendiri, sahabatnya itu kalau lagi ruwet pasti begini. Kebanyakan diam. Kalau di ingat lagi, perjuangan cinta klarabela selama ini emang pelik banget, tapi denis tahu klarabela nggak selemah wanita kebanyakan. Klarabela pasti lebih kuat dari biasanya, denis harus selalu disampingnya sekarang. Dia pasti butuh teman cerita.
Beberapa menit kemudian mereka tiba didepan rumah klara. Melihat mobil adiknya terparkir diparkiran rumahnya klarabela buru-buru mengambil tissue didalam tasnya. “ masih merah nggak ? “ Tanya nya pada denis sambil sesekali bercermin, memastikan matanya tidak terlihat sembab. Dia nggak boleh kelihatan sedih di depan raffa, adiknya itu pasti bisa heboh nantinya.
“ nggak non, masuk gih. Jaga kondisi ya, kalo ada apa-apa telpon gue ya. Besok mau dijemput nggak ? “ denis begitu perhatiannya, beruntungnya hidup klarabela. Mempunyai sahabat dan keluarga yang sangat memperhatikannya sampai sejauh ini. “ thankyou ya, masuk dulu yuk. “ balasnya lirih.
“ gak usah deh ntar gue minta nginep repot lagi “ celetuk si denis sembari nyengir, klara menjulurkan lidahnya sebel. Dia buru-buru keluar mobil, denis memastikan sahabatnya itu sampai masuk kedalam rumah baru dia melesat pulang.
            Baru jam lima sore tapi rumah kok sepi bener ini ya, pasti raffa lagi tidur deh, pintu nggak dikunci pula. Gerutu klara sewaktu membuka pintu
“ kriiing “
“ haloo “ klara mengangkat telepon ruang tamu. Sebelum masuk kamar
“ kla, udah pulang? “ itu dhafin.
“ iya, ada apa? “ klarabela males-malesan menerima telepon pria itu
“ kok ada apa sih, aku jemput ya sayang kita dinner “
 Klara diam sejenak, menghela nafasnya. “ nggak fhin “ jawabnya mantab. “ aku mau istirahat besok ada meeting pagi, udah ya. Dah “  klara menutup telepon segera, kejadian beberapa hari lalu rupanya belum bisa memaafkan dhafin, padahal biasanya kalau lagi ada masalah klarabela selalu mudah memaafkan tapi lain sekarang, menjauhi dhafin sementara adalah pilihan terbaiknya.  Klara masih nggak habis pikir aja sama sikap dhafin kemarin, datang telat, lupa dengan janjinya dan malahan menyalahkan adiknya. Klara geram banget, dia kira selama ini dhafin sudah menganggap Raffa seperti adiknya sendiri ternyata enggak. Dhafin masih saja kekanakan berfikiran negatif.
“ kriiinggggg”
“ apa lagi sih fhin? “ telepon kembali bordering, klara gesit mengangkatnya.
“ beelaa… ini papa” sahut suara pria separuh baya di seberang telepon, klara terkejut. “ kenapa bel, kamu lagi ada masalah sama dhafin ? “ papa mulai rempong deh pasti urusannya panjang kali lebar nih
“ haloo paaa,  apa kabar? “ klara mengalihkan obrolan berusaha seceria biasanya. “ kirain siapa paa, tumben telpon kerumah nggak ke handphone bela aja “
“ papa mau ngobrol sama raffa, papa telpon ke handphonenya gak diangkat. “ jelas papa panjang .
“ raffa nya lagi tidur kali pa, bela baru sampe rumah. Ini aja nebeng denis “
“ yaudah, kalo gitu papa ngobrol sama bela aja deh. Kayaknya bela yang perlu banget diajak ngobrol papa nih “ papa bersuara lagi, klarabela bengong aja. Nggak mungkin dia cerita ke papa kalau lagi ada masalah sama dhafin apalagi raffa sampai dibawa-bawa, apa tanggapan papa nanti.
“ bela baik paa. Udah ah emang bela masih tk”
“ bela lagi sedih ya? “ Tanya papa pelan.
“ gak pa. bela nggak mau sedihh terus paaaa”
“ okeoke kalo gitu papa nggak mau maksa bela cerita, papa cuma pesan. Apa yang dirasain dihati sekarang jangan sampe disimpan lama, jangan cuma dipendam. Keluarkan semuanya, kalau emang udah nggak bisa ditahan ya. Ntar malah jadinya stress sendirian. Bela harus ingat, ada papa mama sama raffa disamping bela ya “ papa mengeluarkan nasihat supernya, klara hampir menitikkan air matanya. Papa benar, lebih baik dikeluarkan semua yang dirasa daripada ditahan seperti ini. Kalau pun harus berpisah sudah sejauh ini klara tidak sendiri, ada mereka keluarga yang paling disayang yang selalu mampu membahagiakan klara. “ ya sudah ya, bela jaga diri baik-baik. Sampaikan salam papa untuk raffa juga ya, papa doain biar lancar skripsinya”
“ makasih ya pa, we miss you paa maa “ klara menutup telpon, syukur deh papa nggak banyak nanya lagi. Klara belum siap terus terang. Klara buru-buru menaiki tangga masuk kekamar.
“ tok tok tok “
Terdengar suara pintu diketuk, klara yang baru saja mau rebahan dikasur kamarnya setelahnya berganti pakaian kesal sendiri. Siapa sih itu ? lagian mbak eti kemanain sih ?
“ ya tungguuuu “ nampaknya si tamu dibalik pintu tidak sabaran. Mau nggak mau klarabela keluar kamar dan membuka pintu.
            “ haii “ ada malaikat didepan pintu rumahnya “ boleh masuk? “ klarabela tidak segera mempersilahkan tamunya masuk. Dia bengong.
“ gue ngetoknya kekencengan ya kla? “ lamunan klarabela buyar
“ enggak kok. Ngapain vo? “ akhirnya dia ingat nama malaikat itu. Duh kok ini cowok manis banget sih…
“ ada perlu sama raffa sih.”
“ oh “ klarabela kelihatan kecewa, devo tertawa kecil. “ mm maksut gue. Si raffa lagi tidur tuh, masuk aja bangunin gih.” Klara mulai gagap. Devo cuma senyum-senyum.
“ baru pulang ya? “ Tanya devo halus.
“ iya, masuk sini vo “ klara melebarkan pintu mempersilahkan masuk. Devo memperhatikan wanita itu dari ujung kaki sampai kepala, sesekali dia tertawa geli. “ nggak usah ketawa, gue udah biasa begini..” klara baru sadar yang bikin si devo ketawa dari tadi karena piyama hello kitty pink miliknya.
“ lucu aja sih, jadi gemesin gitu. “ devo memuji. Dia duduk di sofa ruang tamu, diikuti klara dihadapannya.
“ gue bangunin raffa aja kali ya, dia kalo gak dibangunin suka lupa kalo janjian, kaya kemarin itu. “ klara mengontrol dirinya, rasanya aneh sekali ada didekat aldevo saat ini.
“ eh ga usah kla “ kilahnya cepat. “ tadi dia bilang dia lagi mandi kok, gue udah sempet telpon lima belas menitan sebelom kesini “ jelasnya lembut. Klara manggut-manggut paham. “ gue mau ngobrol sama lo dulu, emang nggak boleh ya?”
 DEG! Degup jantung klara mulai loncat-loncat nggak jelas. Dia bingung sekali dengan perasaan aneh ini. Devo bilang kaya gitu aja bikin dia ke-gr-an banget dan rasanya tuh seneng gila-gilaan. Aduh plis deh, devo kan masih abege. Ini anak nekat juga ya, berani banget bilang begitu sama yang tuaan.
“ hahaha “ klara tertawa maksa. “ dasar lo ah. Gue bikinin minum aja deh ya, ntar lo kehausan lagi, mbak dirumah lagi ngegosip soalnya kalo gini hari..” klara makin salah tingkah ditatap dalam-dalam seperti itu sama si aldevo ini. Jantungnya nggak bisa diajak kompromi lagi, ini udah kelewatan degupnya.
“ udah lama gue cari info tentang lo kla. Syukur aja bisa ketemu sekarang, pas banget pula lo yang bukain pintu tadi “
            Klarabela menganga sejadinya. “ oya? Eh by the way tadi kesini naik apa? “ duh bodoh! Segitu salah tingkahnya sampai pertanyaan nggak penting keluar dari mulutnya.
“ naik sepeda “ balasnya pelan “ soalnya rumah gue baru pindah, deket kok dari komplek sini. It means kita tetanggaan lagi. Ya meskipun nggak sedekat dulu. “
Klarabela garuk-garuk kepalanya, mulai merasakan keanehan didalam dirinya.
“ lo sekarang pinter ngegombal ya, kacau emang pergaulan anak kuliahan jaman sekarang. “ klara mulai menenangkan hatinya, fokus. Laki-laki dihadapannya ini masih seumuran adiknya, nggak seharusnya dia bersikap aneh pake segala salah tingkah pula. Lagian dia juga masih berstatus pacarnya dhafin, nggak baik ada perasaan aneh nggak jelas begini ke laki-laki lain.
“ kalo gue bilang lo makin cantik sekarang, masih dibilang gue ngegombal nggak? “
Aldevo sore ini bener-bener bikin klara mati kutu dibuatnya, jadi nyesel deh kalo gini caranya dia bukain pintu. “ ahaha thankyou “ sahut klara gugup.
“ lo tuh emang cantik sekarang kla, makin keliatan banget dewasanya.”
“ maksut lo keliatan tua nya ya? “ potong klara kesindir. Devo senyum kecil
“ gue nggak bilang kok, gue malah suka. “ sahut laki-laki dua puluh dua tahun itu, klara yang memang gampang banget di gombalin cuma bisa diam, mulutnya kebuka sedikit. Melongo melompong kaget, sedikit seneng juga sih dibilang begitu. Entahlah apa yang klarabela pikirkan sekarang, rasanya tuh setiap lagi kesel sama dhafin lagi nggak mood baget sama itu orang dan selalu tepat si aldevo datang, menyelinap masuk di kekesalannya, menghilangkannya dalam sekejap.
“  gila ya lo vo, kayaknya lo jago banget ye ngambil hati cewek-cewek kampus inisih” klara memulai obrolan lagi dengan candaan ringan, devo tetap diposisi memandangi si klara saja.
“ itu artinya gue udah berhasil ambil hati lo belom kla? “
            Klara tertawa kencang sekali.
            Dia terus tertawa, sesekali melirik devo, sesekali mengontrol jantung dan nafasnya
Aldevo baru saja ia kenal lagi, meskipun mereka pernah tetanggaan sebelumnya, tapi rasanya devo mampu membuat klara nyaman didekatnya, devo mampu membuat klara menjadi dirinya sendiri.
“ kok pipi lo merah gitu sih kak? “
 Klarabela shock banget, si reseh adiknya sudah duduk disampingnya sekarang. Nggak tahu deh sejak kapan ini anak datang, klara yang emang lagi ketawa ngakak lalu senyum merona jadinya malu ampun-ampunan. “ kayaknya lo betah banget ya sekarang kalo nemenin devo “ celetuk adiknya lagi
“….dan lo nggak keberatan dong raff “ devo menambahkan cepat. Klarabela makin salah tingkah, nggak seharusnya dia seperti ini. Kekanakan sekali
“ hahahhaha “ devo dan raffa tertawa terbahak-bahak.
“ dasar lo ah berdua, bisanya ngerjain aja. Udah deh gue tidur aja” klarabela hampir saja beranjak dari hadapan devo dan raffa tapi langkahnya dia putar lagi kearah pintu. Ada yang mengetuk. Waktu istirahat pulang kantor nya jadi keganggu gini sih, gara-gara mbak eti nggak ada. Sibuk bukain pintu mulu.
“ halo sayang “ seseorang menyapa lembut dari balik pintu, orang itu tersenyum lebar. Klara melebarkan matanya seakan nggak percaya kalau dhafin sekarang ada dihadapannya. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan sekarang saat dhafin hadir, nggak sekangen dan seheboh dulu. Malahan pengennya dia pulang aja sekarang.
“ kok belom siap-siap? “ tanyanya sembari mengelus telapak tangan klara, si empunya tangan masih diam seribu bahasa berusaha mengotrol emosi dan keluar dari lamunan.
“ siap-siap kemana fhin? “
“ kok kemana sih sayang, kamu pasti nggak baca sms aku ya. Kita kan mau dinner” suara dhafin menjelaskan dengan nada lembut, biasanya kalau si dhafin sudah mulai semanis itu klara suka salah tingkah macam anak sekolahan lagi digombalin pacarnya suka seneng sendiri tapi kini kenapa biasa aja ya?
“ handphone ku di tas. “
“ yaudah mandi ganti baju gih. Aku tunggu diruang tamu ya “dhafin meneruskan, klara tercengang. Dhafin mau nungguin diruang tamu? Disitu kan lagi ada si devo sama raffa, ini sih yang ada perang lagi kalau dia sampai tahu mereka lagi dirumah. “kita berangkat aja yuk” kata klara ngaco banget.
“ kita mau dinner sayang bukan mau makan di warung pinggir jalan loh” dhafin tertawa geli.
“ aku males banget naik turun ke kamarnya. Lagi nggak mood juga rapih” potong klara terbata-bata. “atau kita batal aja deh” klara membuka suaranya lagi ngeliatin si dhafin masih aja ketawa ngejek klara. Dhafin langsung diam, melotot
“ kamu kenapa sih? “ tawanya henti, ekspresi muka nya berubah menjadi sangar, matanya melotot hampir keluar. 
“ kamu yang kenapa tuh “ klara lagi-lagi nyolot.
“ aku bilang aku nggak mau rapih-rapih kenapa sih jadi masalah besar banget”
“ iyaaa besar banget! “ tandas dhafin kesal “kamu tau nggak, aku bela-belain ngereserve stars buat kamu doang tau, eh kamu nya malah kaya anak kecil gini. Kenapa sih kamu nggak pernah dewasa dari dulu?selalu aja masalah kecil dibikin besar. Ngerti nggak? “ suara dhafin naik seoktaf. Dia nampak mulai emosi, klarabela menggepal tangannya kencang. Inisih nggak bisa didiamkan terus kalau keterusan bisa-bisa raffa dengar lagi nih.
“ aku kesini mau minta maaf  karna kejadian kemarin dan udah belain batalin meeting pula, tapi liat aja kamunya malah kaya gini. Kamu buang waktu berharga aku tau nggak? “
 Dhafin mulai emosi seemosi diparkiran mobil tempo lalu. Klara pun ikutan emosi “ kamu juga buang waktu tidur aku fin buat hal nggak penting kaya gini. Kamu yang nggak dewasa, mau sampe kapan kamu selalu nyalahin aku terus? Mau sampe kapan fhin aku dinomor duain dengan kerja kerja kerja meeting meeting dan teman-teman kamu itu? “ airmata klara tertahan dipelupuknya, dia menarik napasnya. “ kamu nggak perlu ngebuang waktu kamu buat minta maaf ke aku fhin..” suara klarabela melirih. Airmata nya mulai menetes lembut dipipinya. “ aku nggak bisa tahan lagi semua ini fhin, mulai sekarang aku mau sendiri..” klara mulai terisak, dia mencoba menguatkan dirinya. Ini keputusan berat yang sudah dia pikirkan matang sekali, berpisah mungkin bisa membuat semuanya lebih baik daripada dia semakin lama larut dalam percintaan yang penuh emosi tiap harinya. Kalau diingat beberapa bulan belakang, dhafin dan klarabela memang banyak selisihnya.
 Dhafin mengangkat wajahnya, matanya semakin lebar tak percaya apa yang diucapkan klara “ klara “ katanya dengan nada tinggi. “ apasih yang buat kamu sampe segini gilanya ke kita? Apa ada orang lain yang bisa bikin kamu nyaman lebih dari aku? “
“ bahkan disaat kaya gini aja kamu masih mikir negatif mulu ya fhin ke aku. Ini keputusan ku, apapun tuduhan kamu nggak buat aku narik lagi keputusanku. Lebih baik kita pisah daripada tiap hari semakin lama rasa sakitku ini menjadi fhin, terimakasih buat semuanya. “ klara tertunduk, matanya nggak berhenti menangis, dia masuk kerumah menutup pintu cepat. Dhafin masih setengah nggak percaya dengan keputusan besar wanita nya itu, dia masih nggak habis pikir aja kenapa klarabela jadi seemosi ini, bukan sifat dia kayak biasanya pasti ada seseorang yang menghasutnya deh ini.


**** 


Sejak memutuskan untuk berpisah dengan dhafin,  klarabela jadi hobi banget melamun, murung bener. Seminggu ini kerjaan jadi banyak yang terbengkalai, susah sih emang buat nggak mikirinnya.Yang bikin klara selalu ingat itu perjuangannya dia dari dulu yang malah dibilang nggak berharga banget dimata itu laki. Sakit banget semacem putus jaman anak sma deh.
“ kak, besok papa dateng ya. “ raffa memecah lamunan kakaknya diruang tv. Hari itu jam empat sore adik kakak ini sudah dirumah, raffa yang lagi libur kuliah kebetulan bisa nemenin kakaknya dirumah yang pamit pulang kerja cepat hari ini. Alesannya nggak enak badan. Klara sudah menyiapkan konsekuensi terbesar dari putusnya hubungan nya dengan dhafin. Papa sama mama. Mereka yang tinggal dibandung memang sudah terlalu dekat dengan mantan calon menantu kesayangannya itu, buat mereka dhafin lah yang paling cocok untuk klara sebagai pendamping hidupnya, semoga klarabela tidak dikecewakan terus oleh laki-laki lagi tapi ternyata harapan mereka musnah. Klarabela dan dhafin malah putus.
“ lo cerita apa ke papa? “ klarabela bertanya sembari meletakkan kepalanya di pundak raffa bersandar. “ besok gue nginep kantor aja deh”
“ gila lo kak “ balas raffa cepat. “ nggak segitunya juga kali kak, gue cuma cerita aja yang emang kejadian. Daripada dia tau dari dhafin langsung kan kak?” klara diam berfikir, ada benernya juga sih apa yang dibilang si raffa. Bisa bahaya emang kalau si dhafin cerita ala ala drama didepan orang tuanya.
“ lo udah yakin kan buat pisah? “
Klarabela mengangkat kepalanya, dia menatap adiknya kosong. “ gue nggak bisa sesabar dulu faa, ada kalanya gue ngerasa dititik jenuh. Dia selalu semena-mena. Nggak abis pikir gue sama itu orang selalu egois aja…” klarabela mengatur nafasnya. “ jujur sayang ini nggak akan pernah ilang cepet faa, biar gimanapun dia udah tiga tahun ngisi hari-hari gue, tapi kalo udah kelewatan gue ga bisa terima lagi…”
“ tapi rencana pernikahan kalian? “
 Klarabela nggak kuat, airmatanya keluar juga dia menangis sejadinya. Raffa memeluk kakaknya penuh hangat. Rencana pernikahan yang sudah sedari dulu dia dambakan, yang ingin dia wujudkan ditahun ini ternyata nggak seperti kenyataannya. Mereka berakhir. Klarabela gagal lagi dalam percintaannya. Ini sudah kesekian kalinya, pacaran lama pun nggak menjamin berakhir bahagia.
raffa tertegun diam, klarabela masih rapuh. Hatinya terluka kembali, raffa masih nggak percaya saja kakaknya mengalami kegagalan dalam percintaan lagi. Karabela menangis sejadinya, baru hari ini dia tumpahkan kesedihannya didepan raffa. Seminggu kemarin dia murung dan nggak mau diganggu. raffa biarkan saja posisinya seperti itu, tetap memeluk erat kakaknya. Raffa tahu dari kemarin kakaknya berusaha menahan sedih dihadapannya, tapi mungkin hari ini dia sudah tidak mampu menahannya sendirian.
“ mas raffa “ suara mbak eti memecah suasana, raffa menoleh cepat. “ bapak sama ibu udah dateng tuh mas..”
Belum sempat mbak eti meneruskan pembicaraannya papa mama masuk keruang tamu, raffa sama klara kagetnya bukan main. Klara buru-buru menghapus airmatanya bisa makin rame kalau papa mama tahu dia masih diliput kesedihan. “ papaa…” raffa berdiri sigap. “ katanya mau dateng besok. Kok udah sampe sini?” raffa bertanya bingung, papa terkekeh sesekali melirik ke arah klarabela yang masih sibuk menyeka air matanya.
“ papa sama mama doang? “ klarabela menyapa berusaha tegar, menutupi kesedihannya. Dia memeluk papa lalu menyapa. Mama mengecup pipi anak perempuan nya itu lembut.
“ enggak bel, tadi janjian dulu lunch bareng. “ jelas mama pelan.
“ sama siapa maa? “ Tanya raffa bingung. Tumben banget kalau mau ke Jakarta mereka janjian segala.
“ sama dhafin kla… “ sahut papa sembari matanya mencari sosok dhafin ke arah pintu masuk. Raffa dan klara dibuat bengong saat itu juga. Klarapun diam mematung, jantungnya berdegup kencang saat nama pria itu disebut papa. Pria itu datang lagi, air matanya hampir saja menetes. Ia seka buru-buru. Klarabela harus tegar, biar bagaimanapun mereka sudah berpisah. Dhafin bukan lagi pria yang dicintanya seperti dulu. “ sini fhiiin…” papa memanggil pria itu masuk, langkah kakinya kembali membuat dada klara berdegup kencang. Hatinya masih miris. Kenapa papa malah membiarkan pria itu datang kembali kerumah ini ?  apa yang ia racuni ke mama dan papa nya? Kenapa bisa mereka barengan.
Semenjak pisah, klarabela memang belum cerita yang sebenarnya ke papa dan mama. Mereka tahu nya dari raffa. Klarabela nggak mau mereka ikutan heboh dan kasihan kepadanya, karena lagi-lagi gagal dalam percintaan. Klara tahu betul sifat papa nya, dia pasti super heboh dan mau tahu setiap kejadiannya.
“ hai kla.. “ pria yang selalu menggangap dirinya sempurna itu dan selalu menomor satukan bisnis nya dan selalu memikirkan dirinya sendiri ada dihadapan klara sekarang. Klara dalam diamnya, tertunduk. Tak digubrisnya sapaan pria itu. Klara menguatkan hatinya.
“ bel, disapa dhafin tuh…” papa mulai rese. Ini yang paling disebelin sama klara. Papa serba mau tau deh. “ kasian loh bel tadi dia nungguin papa sama mama di resto buat lunch, kita telatnya lama..”
Klara nggak peduli. “ nggak papa lah om, nggak usah dibahas. Mungkin nanti ada waktunya lagi dhafin bicara berdua sama klara…” pria itu mulai bertingkah, mengambil empati papa dan mama, raffa mengepal tangannya kesel. Dalam hati klara yang paling dalam dia amat merindukan suara itu, klara merindukan setiap perbuatan manisnya tapi entah kenapa sekarang keadaannya sudah berubah. Kenapa rasa rindunya hilang secepat itu ketika semua kejadian yang membuatnya benci pada pria itu muncul dikepalanya.
“ nggak ada lagi yang harus dibicarain fhin..” klara mengangkat wajahnya, matanya berair pipinya merah tatapannya tajam kearah dhafin, dia berusaha setegar mungkin. Papa, mama, raffa dan mba eti siap beranjak dari ruangan itu. “ kalian nggak usah pindah tempat, disini aja. Biar semuanya makin jelas sekarang…” pinta klara tegas. Dhafin kembali memperlihatkan mata tajamnya, klara membalasnya.
“ aku udah cerita semua ke papa sama mama kla. “ dhafin membuka pembicaraan. “ aku masih sayang sama kamu. Aku mau kita nikah tahun ini, aku janji semuanya berjalan lancar dan baik…” dhafin berusaha menggapai jemari klara, wanita itu menepisnya.
“ pertama, terimakasih buat jamuan makan siangnya dan dengan baiknya kamu antar papa sama mamaku sampe sini….” Klara menguatkan dirinya. Dhafin baru saja membicarakan pernikahan yang selama ini ia tunggu, ya tuhaan kenapa semuanya seperti ini. “ kedua, sekarang aku mau jelasin lagi ke semuanya. Aku sama dhafin udah pisah, seminggu lalu dan aku nggak akan menarik keputusan terbesarku ini. Maa…paaa “ klarabela melirik papa dan mamanya dengan mata nanarnya, mama mengelus punggungnya lembut . “apapun yang dhafin certain kekalian dan yang ia lakuin hari ini nggak akan mengubah semua keputusan ku buat pisah. Aku yang jalanin semuanya, kalian nggak merasakan setiap sakitnya menunggu, mengalah dan jadi pelampiasan kesalnya. Klarabela lebih baik mengalah daripada kelamaan jadi kekesalan dhafin. Rasa sayang pasti masih ada, tapi klara nggak mau nyiksa hati ini terus buat bertahan dengan pria yang nggak bisa terima klara apa adanya ma..paa” air mata wanita dua puluh tujuh tahun itu pecah seketika. Keluarga yang menyaksikan pun nampak iba, dhafin mematung menahan malu. “ dhafin butuh pendamping yang lebih sempurna dari klara, yang bisa seimbang dengan bisnis nya yang nggak menuntut macem-macem. Klara udah terlalu jauh mencoba ma, pa tapi buktinya ya ini. Semakin jauh melangkah semakin nggak ada hasilnya…” klara terisak
“ aku sayang sama kamu klarabela, aku nggak mau nantinya menikah sama perempuan lain.. “ dhafin menaikan suaranya.
“ simpan itu buat pendamping hidup mu nanti fhin. “ klara melangkah. Dia sudah nggak kuat lagi, dia berlari sekuat tenaga ke arah kamarnya. Mama mengejarnya. Papa dan raffa cuma bisa diam, tapi tatapan gamal nggak lepas dari dhafin, kalau saja nggak ada papa sekarang sudah habis mungkin manusia ini ditangannya, rasa kesalnya berlipat ganda. Nggak terima dia sejauh ini perjuangan kakaknya demi pria nggak berakal ini.
            Sementara itu sedaritadi, seseorang berdiri didepan pintu rumah. Dia mendegar semua yang terjadi, dia tertunduk diam mengepal tangannya kesal. Campur aduk yang dia rasakan.
                                                               ***
Sabtu siang klarabela mempercepat laju mobilnya, hari itu jalanan Jakarta sedikit macet maklum deh weekend dan dia dalam kondisi buru-buru. Lima belas menit dia sampai diparkiran kampus. Dimatikan mesin mobil Honda jazz silvernya, dilihatnya kaca spion dirapihkan rambutnya yang berantakan. Biar gimana juga doi kan masih muda, mau masuk kampus anak kuliahan harus rapih biar nggak keliatan tante-tante banget.
Klara celingukan di lorong kampus. Si raffa bikin kakaknya repot banget…
“ belaaaa… “ seseorang memanggilnya dengan sebutan beda. Dia nampak bingung, yang manggil bela kan cuma orang-orang dekat aja.
“ eh haiii..” klarabela sedikit kikuk. “ lo ngapain disini ? “ pertanyaan basa-basi ini nampaknya aneh sih bikin klara jadi keliatan salah tingkah dan bikin itu orang yang ditanya tertawa geli.
“ gue kan lagi kuliah, harusnya gue yang tanya lo ngapain disini ? “ itu aldevo. Gaya nya yang tengil namun tetap ramah selalu bisa membuat klara mati gaya.
“ lo lagi nggak mau cari tau gue kan? “ pertanyaan jebakan. Tapi lag-lagi bikin klarabela merona.
“ sejauh ini gitu gue cari tau tentang lo vo ? “ klara mulai santai dibalasnya dengan tawa, diikuti aldevo. “ gue mau anter bahan seminar si raffa nih, tadi lagi tidur enak ditelpon suruh nganterin buru-buru pula. Kemanasih dia? “ jelas klara sembali celingukan ke sekeliling kampus. Devo menanggapinya senyum-senyum kecil.
“ kok lu senyum aja sih vo ? lo tau raffa gak ? “
“ tau kok “ senyumnya maniiiissss banget…batin klara centil
“ kalo tau kok senyum, ini bahan penting kan? “
“ kamu telat bela…. “ potong devo lembut, entahlah kekuatan apa ini sewaktu dia bilang ‘kamu ‘ rasanya kayak kejatuhan bunga banyaakkkk banget. “ nggak papakan kalo aku ngebiasain aku-kamu..”
“ ng.. “ klara deg-degan. Selalu seperti ini “ maksutnya biar apa..? “
“ biar makin akrab aja… “ klara nggak habis pikir sama dirinya, kenapa nggak pernah bisa kontrol gini kalau dihadapan anak kuliahan ini. “ biar nggak keliatan banget lah demen sama tante-tante nya.. “ klarabela membelalakan matanya lebar. Sial !
            “ rese lo ah “ klara memukul bahu devo dengan buku-buku gamal. Devo tertawa geli. Klarabela sudah ge er maksimal eh taunya ada maksut toh..
“ raffa udah pulang, nganter anin..”
“ hah? Siapa anin? “
“ pacar baru nya dia dong anak hukum. “
“ lah kok sialan amat sih itu anak gue ditelpon buru-buru dia malah pulang asik pacaran, gimana gue ini.. “
“ aku sih yang sengajain bel.. “ devo membuka suaranya lagi, klarabela masih nggak ngerti apa maunya ini anak. “ tadi sih anin lagi nggak enak badan dan kebetulan seminar sih raffa diundur besok, dia bingung tuh kamu udah on the way, trus aku nawarin jasa aja deh..”
“ yaampun “
“ tenang sih bel, kan kalo gak gini aku nggak bisa ketemu kamu lama.” Aldevo melemparkan senyum manisnya, klara mati gaya. Rasa kesalnya hilang berubah jadi GR. Ada kenyamanan tersendiri diperlakukan seperti ini sama anak kuliahan ini. aduh
“ mau sampe kapan lo senyam-senyum gitu sih vo? “ meski agak berdebar klara mencoba meledek devo, cowok itu malah makin dekat menatap dan tesenyum ke arah klara. “ gue nggak mau disangka tante-tante girang demen pedofil ya dikampus adek gue sendiri… “ aldevo seketika tertawa terbahak-bahak. Klarabela ini lucu sekali, dan meskipun usia mereka terpaut lima tahun tapi devo bisa mudah akrab denganya. Orangnya asik nggak mandang umur pula.
“ aku bukan anak kecil kali.. “ devo makin cekikikan. “ yaudah sekarang mau nya apa nyonya? “ aldevo berhenti tertawa, ia kini mendekatkan wajahnya kepada klara. Seperti biasa wanita itu nggak pernah bisa kalo nggak berdebar jantungnya.
“ pulang lah..” sahutnya cepat.
“ yakin mau pulang ? kalo aku nggak bolehin gimana. Kalo misal aku nawarin kamu pulang bareng gimana ? kalo aku nawarin makan bareng gimana ? aku traktir deh. “
“ maksut kamu kita ngedate?” klara  nyaut asal banget, matanya melebar sementara si devo senyum geli.
“ emang kamu ngarep banget ya ngedate sama aku..” kata devo lembut, klara nggak bisa berhenti salah tingkah. Dia malu banget, nafasnya udah nggak bisa diatur normal.
“ apaansih. Aku pulang ah.. “ klara kelihatan ngambek tapi devo sebodo amat dia suka banget melihat perubahan ekspresi klara sepertu itu, menggemaskan.
“ yuk “ devo meraih tangan klara cepat. Klara terbelalak lebar
“ aku bawa mobil. “ devo senyum kecil. Nampaknya klarabela mulai nyaman membiasakan aku-kamu pada dirinya.
“ iya gapapa, sini aku yang nyetir. Aku sengaja kok nggak bawa mobil hari ini…” devo menggandeng tangan klara kearah parkiran mobil, wanita itu berusaha menolaknya. Gengsi, tapi lama kelamaan jadi ngerasa nyaman.
“ kok kamu kurang ajar banget sih ya…” klara belagak marah.
“ kan kalo nggak gini nggak bisa ngedate sama kakaknya raffa. Ngerti? “ langkah mereka berhenti sejenak, devo membalikan badannya kearah klara. itu orang nggak pernah habis bikin klara deg-degan aja seharian ini deh.
“ mana kunci nya sini. “ pinta devo setiba diparkiran di depan mobil klara. klara masih mematung nggak percaya kalau dia barusan di gandeng aldevo sepanjang jalan ke parkiran, entahlah kenapa sentuhan devo berbeda sekali dengan dhafin. Getarannya berlipat-lipat kena ke hati klara.
“ mau sampe kapan kamu jadi patung gitu ngeliatin aku bel? “ devo bersuara lagi. Kali ini klara habis mati gaya dibuatnya.
“ ini hari apasih yaampun sial amat aku..” pekik klara sok kesal “ aku aja yang nyetir, aku nggak mau mati sekarang “ klarabela mengeles, berusaha mengendalikan malu nya tadi. Devo sih cuma cekikikan aja dia tahu banget klara lagi grogi berat.
“ siniin gak kunci nya “ devo mengerlingkan matanya. Klara akhirnya patuh, diberikannya kunci mobil nya ke devo segera. Devo membuka kan pintu untuk wanita yang baru ia kenal beberapa minggu itu dengan gaya romantisnya, klara menurut saja masuk mobil tanpa suara.
“ udah siap? “ tanya devo setibanya didalam mobil, dan menyalakan mesin mobil. Klara yang duduk di bangku sebelahnya cuma manggut-manggut sembari memakai sabuk pengamannya.
“ kenapa sih bel? “ devo kelihatan geli banget melihat ekspresi klarabela saat itu. Wajahnya pucat pasi tegang.
“ jiwa anak muda biasanya kan liar, aku ngeri banget..” ceplosnya cepat. Devo makin mantab menarik persneling mobil dan tancap gas kuat-kuat meninggalkan kampus.
            Klara diam saja mematung, sesekali memperhatikan devo dikursi pengemudi. Orang ini, tetangga nya dahulu. Dia sudah dewasa, tubuh mungilnya kini sudah membentuk atletis. Kalau diperhatiin dari jarak dekat aldevo emang nggak ada jeleknya buat seusia anak kuliahan mah. Kenapa mereka nggak seumuran? Kenapa sifat aldevo lebih dewasa disbanding mantan kekasihnya itu. Kenapa ada perasaan aneh menyusup perlahan sekarang ini.
“ belaa… “ devo memecah lamunan klara, dia gelagepan
“ apa yang kamu lamunin dari aku, hayooooo” devo emang orangnya ceplas ceplos nggak ngaruh deh si klara ini udah nggak seumuran dia lagi. Klara yang disindir gitu juga jadi salah tingkah, dia belagak ngaca dispion mobil tengah.
“ kamu tuh ya, nggak ada sopannya sama sekali ya. Heran aku..” dia menyisir rambut panjang ikal nya.
“ digerai aja rambutnya bel, kamu keliatan makin cantik loh..” begitulah devo. Kali ini bikin si klara nengok cepet dan mati kutu. Anak ini kenapa ada aja sih cara bikin klara klepek-klepek
“hhahahhaha “ klara ketawa kencang disela berdebar jantungnya. “ kamu ya bisa banget sih bikin orang  GR. Emang gini ya caranya bule ngerayu orang..” klara menuruti devo membiarkan rambut pirang ikalnya terurai.
“ emang kamu ngerasa banget ya dirayu nya? “ centil devo. Klara mencibir sebel. Mereka meneruskan perjalanan, klara menurut saja. Dia nggak tahu mau dibawa pergi kemana dia sore ini. Jalanan sore ini nampak sedikit padat tapi nggak membuat devo patah arah buat cari jalan tikus, klara saja sampe bingung dibuatnya. Anak itu sudah lama tinggal dinegeri orang tapi jalanan Jakarta bahkan jalanan tikus yang kaya gini aja buat ngehindarin macet total dia hapal.
 Lima menit kemudian mobil klara melipir disebuah café .
“ kok kesini ?”
Klara bingung. Dia membuka pintu mobil. Devo ikutan keluar dan mereka berdiri sejajar. “ kenapa? Inget sesuatu? “ tanya devo balik.
“ aku lagi nggak mau kesini aja, belom mood..”
“ aku gak niat yang jelek pokoknya..” devo tersenyum kecil. “ aku cuma mau ingetin dimana pertama kalinya kita ketemu lagi. Disini… dan aku pengen bantuin kamu buat gak takut melangkah lagi.” Terangnya lagi. Klara diam terpaku.
            Café star ini yang menyimpan banyak kenangan sewaktu dia bersama mantan kekasihnya, dhafin. Begitu banyak kenangan indah didalamnya. Sudah hampir dua bulan klara belum berani mengginjakan kaki nya ke tempat ini.masih terlalu sakit tapi kenapa sekarang devo malah membawa nya kesini. Maksud dia apa ya?
“ yuk, aku janji gak bakal bikin kamu nangis kok..” devo mengulurkan tangannya lagi .
“ gak usah, aku jalan sendiri aja. Malu diliat banyak orang, ntar disangka yang enggak-enggak lagi…” kilah klara masih saja dengan gaya menjaga image-nya. Nggak lama akhirnya mereka masuk berdua di café itu, beberapa waitress yang sudah mengenal klara memperhatikan wanita itu sesekali melirik teman laki-laki yang dibawanya, dan beberapa ada yang senyum kecil. Sesampai didalam café devo buru-buru cari tempat duduk paling nyaman, mereka duduk di sofa yang mengarah ke kolam ikan. Sejuk adem tenang, lagian café jam segitu belum terlalu ramai. “ silahkan duduk nyonya..” katanya mempersilahkan ramah. Klara memperhatikan sekeliling dan matanya mengarah ke sudut café. Sofa kesukaannya bersama dhafin dulu. “ mau sampe kapan berdiri aja mbak? “ devo membuka suara nya lagi. Klara buru-buru duduk.
“kenapa sih harus kesini..? “
“ gapapa, biar kamu inget aku juga maksutnya. Kan awal kita ketemu disini..”
“ hffff…” klara mulai sebal. “ aku masih belom bisa…”
“ gapapa, aku ngerti kok. Aku pasti nunggu kamu, aku udah bilang raffa”
 Kali ini klarabela kagetttnya lebih dari kaget biasanya, mulutnya menganga lebar matanya melotot. “ asli ya, kamu ini sinting banget lama-lama..”
“ iya. Abisan aku bukan tipe orang yang bisa ngumpetin perasaan aku sih..” jawabnya lagi dengan senyum sumringah. Manusia ini ceplas-ceplos banget, suka asal banget kalau mengutarakan isi hati.
“ aku mau makan ah, laper lama-lama ngedengerin kamu…”
“ evaaa…” aldevo memanggil waitress, ia mendekat cepat.
“ ya pak..” kata eva. “ halo mbak klaraa…” eva menyapa klara. biar gimana juga mereka udah saling kenal. Tapi yang bikin klara heran emang wajahnya si devo udah tua banget apa dipanggil bapak? Sedangkan dia sama dhafin dari dulu cuma dipanggil mas dan mbak.
“ udah siap kan? “ tanya devo lagi. Si eva cuma manggut paham, nggak lama dia kembali ke dapur, klara menaikkan dahi nya bingung. Nggak lama si eva muncul lagi bersamaan dengan nampan berisi makan.
“ silahkan pak.. “ eva dibantu salah satu waitress lain menurunkan hidangan ke atas meja aldevo dan klarabela. Klara terlihat mematung bingung.
“ makasih ya va.. “ ucap si tuan-penuh-kejutan itu.
“tunggu deh, maksut kamu apaa nih? Aku kan belom pesen apa-apa…” klara menelan ludah saking bingungnya, makanan dihadapannya banyak banget dan beda banget dari menu biasa nya. Menu western terbaru yang belum klara paham dan coba sebelumnya. Lagian banyak banget, emang habis semua? Bisa mubazir kan. Ini apa hubungannya si eva sama devo sih?
“ kamu harus coba ini menu terbaru di café ini, aku tau kamu tadi mau pesen pasta sama salad doang kan? Udah ketebak. “ cerocos devo cepat. Dia nggak memperdulikan klara, dituangkannya lobster besar ke atas piring klara di seberang, dia buru-buru pindah duduk di samping klarabela, dibantunya segera dengan sabar dan perlahan klarabela yang masih diam melongo membuka lobsternya. Klara merinding dibuatnya, laki-laki ini paham sekali memperlakukan wanita seperti princess.
“ kamu ini ya vo..” klara terbata “ niat banget ya ngeracunin aku sampe kaya gini? “
“ hahahaha “ tawa devo seketika pecah memenuhi café. “ ssshhh berisikk…” klara nampak malu, dia bikin telapak tangannya menutup mulut devo.
“ okeoke sorry. Abis kamu pikirannya gitu amat sih….” Devo masih ketawa geli. Klara cemberut. “ aku nggak mau kamu selaluuuuu terpaut sama yang kemarin kla. Pasti karna menu café aja kamu pasti bisa inget masa lalu kamu lagi, kan? “
Klarabela diam. Ya tuhan kenapa aldevo beda banget sama sifat dhafin terdahulu, anak ini penuh kejutan dan memahami keinginnannya, begitu perhatian dan lembut.  “ nggak tau ah, dosa apasih aku bisa kenal kamu…” klara cemberut banget tapi nggak bikin devo kesel malah makin gemes lihatnya.
“ suatu hari kamu pasti nyesel nggak kenal aku dari dulu sih aku yakin banget…”
Dan setelah itu akhirnya mereka menghabiskan hidangan makanan porsi jumbo berdua, habiiiis. Devo senang selera makan klara sudah kembali normal karena informasi yang devo terima dari raffa kakaknya yang lagi gundah gulana itu sudah dua bulan selera makannya berantakan. Sampe berat tubuhnya berkurang beberapa kilo. Devo bahagia sore itu, klara nampaknya mulai membiasakan diri bersamanya ditempat yang sama mereka bertemu dulu ditempat yang menyimpan berjuta kenangan indah miliknya bersama si dhafin terdahulu, nggak jadi masalah buat devo yang terpenting sudah bisa lihat klarabela tertawa geli.” Thankyou ya vo..” kali ini klarabela mulai biasa, nggak ngambek lagi. Mereka masih sibuk mengunyah, tumben banget selera makan klarabela melonjak nggak seperti biasa. Perutnya memang sudah kenyang tapi mulutnya masih belum bisa berhenti mengunyah.
“ for what? “
“ buat traktirannya..” katanya malu, pipi nya merona
“ itu aja nih?”
“ mmm..” klara berusaha mengontrol keadaan, klara merasakan kayak ada kupu-kupu terbang diperut sama hati nya sekarang “buat niat baik kamu..”
“ okey “ sahut devo datar. Klara mengernyitkan dahi nya
“ okey doang? “ klara mulai bersikap aneh.
“ emang kamu mau nya apa? “ devo cekikikan setelah menghabiskan air mineral digelasnya “ oh aku ulang ya. Okey sayaang..” devo beneran mengulang kata-katanya, klara mencubit lengan devo kencang. Laki-laki itu berteriak saking sakitnya
“ kamu nih ya, agresif banget sih…” devo meringis kesakitan
“ biar, biar kamu tau rasa aku orangnya gak bisa dimainin…”
“ emang muka ku keliatan banget kaya gitu ya, padahal niatku serius loh..”
“ not funny at all…” 
Devo kembali tertawa geli, klara diposisi duduknya cemberut. Klara memperhatikan aldevo sejenak. Entahlah ada perasaan aneh melihat anak ini tertawa seperti itu. Rasanya adem sekali, kalau saja mereka seumuran dan mereka jadian sudah klara peluk manja laki-laki disampingnya ini.
“ cerita dong gimana kuliah nya di aussie..” klara mulai normal. Devo berhenti tertawa dan mulai mengobrol banyak, mereka larut dalam obrolan panjang dan nggak sadar kalau hari semakin larut. Klara mulai terbiasa dengan sikap devo yang ceplas ceplos tapi bikin nyaman hati nya ini. Setelah tahu banyak tentang kehidupannya klara jadi nggak pengen pulang buru-buru. Anak ini cerdas juga,pikirnya. Nyambung juga di ajak ngobrol beda banget sama anak-anak kuliahan seumuran dia, apalagi ngomongin soal bisnis.
“ kringg….kriinggg.. “ terdengar suara handphone aldevo berdering disela obrolan seru mereka
“ iya aku lg diluar nih, iya iya cepet pulang kok. Ntar aku telpon balik ya” devo menanggapi lembut teleponnya. Klarabela yang dengerin disampingnya mendadak diam seketika. Mesra amat sih, siapa sih itu. Rungutnya dalam hati
“ sory ya telpon penting nih, pulang yuk..” nggak lama menutup telepon devo menggajaknya cepet pulang. Klara nampak bête.
“ siapa sih? Pacar kamu? “ uupppsss! Klara keceplosan.
“ kenapa ? cemburu ya? “
Klara mengutuk dirinya sendiri saat itu, nggak tahu deh kesambet setan apa dia sampai senekat itu nanya iseng ke devo. Lagian devo sudah tau punya pacar masih aja berani ngerayu dia dan mengajaknya kencan. Dasar laki-laki sama aja
“ yuk ah pulang, aku nggak mau kamu mikir aneh-aneh mulu ntar. Lagian udah ditelpon pacar kamu “ nada bicara klarabela sudah mulai berbeda terlihat seperti orang kesal, aldevo cuma bisa senyum aja. “ kamu mau aku antar atau gimana?”
“ aku yang antar kamu, nanti aku pulang nya jalan aja. Lupa ya rumah kita kan udah deket sekarang..”
            Mau itu pacarnya atau bukan yang telepon klara nggak peduli juga sih, yang terpenting hari ini dia kenyang banget dan bisa jalan bareng aldevo seharian. Biar umur mereka jauh jaraknya, itu anak bisa juga bikin klara nyaman dan lepas dari kejenuhannya.
* * *
Minggu sore yang cerah klarabela membantu mama dan si mbak masak didapur, hari ini katanya pacar nya si raffa mau dinner. Dia mohon-mohon ke mama nya biar dimasakin super enak. Ya mama emang paling jago nya kalau urusan masak memasak dan kebetulan semenjak kejadian putusnya klarabela kemarin mama dan papa memutuskan buat tinggal dijakarta dulu.
“ pa.. raffa mana sih? “ klara menghampiri papa nya dimeja makan, si papa lagi menikmati kopi hitamnya.
“ jemput anin lah, kamu suruh nyiapin semuanya tuh..”
“ emang dasar anak ngeselin yaa..” sungut klara. dia duduk samping papa sambil sibuk mainin handphone nya.
“ mana pacar kamu nih, di undang nggak ? “ papa nanya aneh, klara nengok cepat.
“ udah males pacaran ah, mau nikah langsung…” jawab klara asal, si papa ngikik. nggak lama dia buru-buru ngibrit ke arah pintu, karena bel berbunyi. Barangkali itu si raffa sama anin, mending dia yang bukain pintu daripada masih lama ngobrol sama papa urusannya pasti soal jodoh. Bisa budek kuping.
“ ckrek “ klara membuka pintu lebar.
“ soree cantikk…” itu aldevo.
“ dari mana? “ tanya klara asal tanpa mempersilahkan masuk terlebih dahulu. Dia pasang tampang bête tapi dalam hati seneng kegirangan juga sih.
“ dari rumah dong sengaja kesini mau ikut dinner..”
“ siapa yang undang emang? “
“ papa mama lah. Aku masuk dulu ah “ devo maksa masuk. “ tuan rumah kok ga ada sopannya amat tamu disuruh didepan pintu mulu.”
“ kamu bukan tamu aku, okey? “ klara merungut sembari menutup pintu.
“ tapi aku kesini sengaja menuhin undangan papa mama kan ada alesan lain…” mereka berdiri sejajar.
Klara merapihkan rambutnya yang berantakan. “ raffa lagi jemput pacarnya..” tuntas klarabela cepat. Devo mendekatkan wajahnya
“ aku mau ketemu kakaknya raffa, boleh? “ wajahnya semakin dekat, devo dapat merasakan degupan jantung klara semakin kencang. Ini orang ya yaampun..
“ gak usah ngegombal…” dia pura-pura santai. “ ntar pacar kamu marah trus nelpon lagi trus nyuruh kamu pulang lagi…” klara masih ingat betul kejadian semalam. Masih ingat saja begitu mesra nya devo menerima telepon dari pacarnya, beruntung banget pasti itu perempuan punya pacar kayak ini orang.
“ bisa gak sih gak bikin aku sebel, vo “ runtuk klara kencang. Devo cuma senyum simpul, mereka berhadapan tatapannya tajam dan dalam.
“ kamu bisa gak, seharii aja nggak bikin aku kangen sama sikap kamu yang kaya gini…” jelasnya lembut sekali. Klara mau pingsan rasanya
“ emang aku bikin kesel dibagian mana sih bel ? “ tanya nya lagi pengen tahu.
“ gak tau ah, aku mau mandi aja..” klara nggak pernah bisa mengontrol keadaan dirinya kalau lagi sama si devo. Pasti kaya cacing kepanasan.
“ aldevooo… “ suara papa dari arah dapur memanggil nyaring. Devo segera menghampiri, diikuti klara dibelakangnya. Syukur si papa manggil, kalau nggak bisa mati kutu deh dia berhadapan mulu sama devo.
“ dari kapan disitu ? “ papa berdiri dari posisi duduknya, dia menyalami anak muda itu. Mereka berpelukan akrab.
“ daritadi om dibiarin diluar, tuan rumahnya milih-milih tamu om…” sahutnya meledek klara
“ kamu kla, ini kan tamu spesial kita…” papa ramah banget. Tapi nggak harus berlebihan juga kali ya, lagian dinner ini dibuat kan buat pacarnya raffa.
“ ah si om, bisa aja deh. Devo mau nya spesial di hati bela omm…” anak itu mulai nggak sopan. Si papa malah ketawa ngakak berdua. Terserah deh kalian pada mau ngapain, gue udah bête duluan.
“ oh iya sayang..” suara mama menyela. Dia udah daritadi ikutan ketawa bareng papa dan devo “ tadi ada telpon dari dhafin..”
Deg! Tawa aldevo berhenti seketika. Klarapun ikutan shock
“ mau apa lagi dia tante? “ entah kekuatan dari mana yang jelas pertanyaan lantang itu dengan nada kesal keluar begitu saja dari mulut aldevo, sontak membuat klarabela melongo dibuatnya. Maksud dia apa sih sok nanya-nanya? Urusin aja sih pacarnya sendiri
“ mmm maksut devo… “ aldevo nampak tidak enak dihadapan papa sama mama yang ikutan bingung. “ mau apa lagi dia bikin klara sakit kaya kemaren gitu, belom puas emang…” aldevo terlihat cemburu
“ dia pengen ketemu klara, mau ajak dinner…” mama menjelaskan dengan santai nya, sementara tangan aldevo sudah membentuk kepalan keras. Kesal.
“ udah udah nggak usah dibahas maaa. Klara nggak mau tau. Aku mandi aja deh..” klara salah tingkah melihat perubahan sikap dan ekspresi devo saat ini. Muka anak itu memerah menyimpan kekesalan.
“ kamu ga usah mandi bel. Temenin aku ngobrol ya sembari nunggu raffa.” Pinta aldevo cepat, klara nggak bisa menolak. Dia mengangguk pelan. Kalau lagi sama devo klara nggak pernah ada kekuatan menolak permintaan anak ini, dia pasti nurut aja. Padahal dia belum mandi dan masih pakai baju rumahan sementara hari ini tema nya dinner keluarga.
            Klara meneruskan membantu memasak didapur bersama mama dan mbak sementara papa asik mengobrol masalah bisnis restoran sama aldevo. Papa kelihatan nyaman dan terlihat sekali aldevo mengerti betul tentang bisnis padahal usia nya masih muda. Nggak lama raffa dan anindya tiba dirumah. Namanya anindya Katrina, anak fakultas hukum seperti raffa. Wajahnya indo dan suara nya lembut, nggak salah deh si raffa milih pacar. Sudah cantik langsung bisa akrab pula sama mama. Perfect
“ jadi anin, sudah seberapa dalam perasaan kamu ke raffa ? “ papa mulai bertanya sadis. Ini nih sifat papa yang serba ingin tahu yang di sebelin sama anak-anaknya. Si anin yang ditanya menanggapinya nggak terlalu serius. Mereka sudah memulai makan malamnya.
“ mudah-mudahan langgeng om, anin percaya raffa anak baik kok. “ puji anin sembari melirik raffa. Aduuhhhh so sweet banget sih, bikin iri klarabela aja. Andai saja dia nggak putus sama dhafin pasti pria itu sudah ikutan makan malam ditengah-tengah keluarganya ini.
“ aminn “ papa tersenyum. “ kalo kamu gimana vo ? “
            Sekarang giliran aldevo yang ditanya tapi yang deg-degan klarabela.
“ devo sih jalanin aja dulu om. Kalo cocok juga pasti jodoh. Ntar lulus kuliah langsung nikah deh…”
            Kaya kesamber petir dengar penjelasan si aldevo itu. Klara berubah drastis. Selera makannya jadi ikutan gak nafsu. Pengen rasanya ke kamar saja sekarang. Dari kemarin dia dirayu digombalin taunya dia udah punya calon. Aldevo mengarahkan pandangannya ke klarabela, dia mengerling. Klara menunduk berusaha keras menolak, nggak mau ketipu lagi. Klara mencengkram tangannya sendiri ,dia merutuk dalam hati. Kenapa dia harus kesal dan marah kenapa emosinya meledak seperti ini. Apalagi yang terjadi padanya, itu bukan hak dia marah. Mereka nggak ada hubungan apa-apa dan kalau bisa jangan terjadi perasaan apapun dikeduanya. Aldevo masih seumuran adiknya, usia mereka jauh berbeda dan aldevo sudah punya calon istri.
“ malaaaammmmmm…..”  suara pria cempreng menyela di serunya makan malam keluarga besar klara. mereka menoleh berbarengan.
“ denis..” klara senyum lebar. Sahabatnya datang
“ haloo sayaangg…” denis menghampiri klara, menyapa dan mencium pipi kanan kiri nya nggak lama dia duduk samping klara. kali ini, aldevo lah yang mematung kesal. Nampaknya kedua nya tengah diuji
“ ini kok aku nggak tau apa-apa ya soal dinner besar malem ini. katanya dinner buat raffa dan anin, ini kok ada devo sama denis sih” klara membuka suaranya.
“ ih kamu kenapa sih bela, kan aku mah bukan orang baru di sini…“ si denis menjawab sekenanya aja, dia seakan menyindir kehadiran aldevo, klara nggak bisa ngomong lagi. Devo pasti kesel nih.
“ papa mama yang undang kak. Katanya kangen sama devo sama bang denis juga..” raffa menjelaskan dengan sabar. klara nggak berani melirik ke arah aldevo, tatapan laki-laki itu tajam penuh makna. Tanpa banyak bicara denis pun ikut membaur di meja makan, mereka meneruskan dinner, mereka larut dalam obrolan sesekali tertawa terbahak-bahak. Klara dan aldevo diposisi duduknya masing-masing, keduanya diam tidak bersuara tapi saling memperhatikan. Sementara denis sesekali heboh menuangkan minum ke gelas klara dan mengambilkan makanan yang bikin devo geram dibuatnya.
*  * *
            Sejak dinner malam itu, aldevo tidak terdengar kabarnya lagi. Klara sempat merasa kehilangan, entahlah sepertinya dia merasakan getaran dihatinya mulai berubah kepada anak itu. Kemana ya anak itu? Klara merindukan gaya nya yang ceplos-ceplos.
“ srrttttrrrr” denis membuka kaleng cola yang dia ambil dari lemari es apartemennya. “ nih minum dulu, kayanya aus banget lo. “
Rabu sore sehabis meeting direstaurant samping apartement denis dan klara memutuskan untuk mampir sejenak ke apartement. Mereka nampak pusing dan kelelahan, karena sore itu bahasan meeting terlalu menjelimet.
“ lo sakit bel ? “ tanya denis duduk disamping klara disofa ruang tamu apartementnya. Klarabela rindu sekali dipanggil seperti itu oleh aldevo, kemana ya dia?
“ pusing aja sama meeting barusan. Thankyouu..” katanya menerima kaleng cola.
“ tapi ada yang lain yang lo pikirin, ya kan?” sebagai seorang sahabat denis nggak bisa dibohongin. “ lo kepikiran anak itu? “’
Klara menegok cepat, kaget. “ ga usah disambung-sambungin ke devo deh nis.”
“ jadi namanya devo…” kata denis lagi sembari berdehem. “ kenapa sampe bisa itu anak bikin lo begini dari kemaren? “
“ enggak nis, enggak. Dia udah kaya adek kok. Dia kan seumuran raffa…” klara nampak berkilah, denis merangkulnya lembut
“ lo boleh jatuh cinta sama siapa aja ya sayaang, siapapun dan kapanpun. Tapi harus bisa bersiap diri sama konsekuensi nya dan harus dipertanggung jawabkan.” Klara terdiam lama. Apa yang di bilang denis ada benarnya juga, jatuh cinta memang nggak salah dan sama siapapun nggak diharamkan tapi harus bisa siap sama setiap konsekuensi nya. Karena perbedaan umur mereka yang terlampaui jauh sekali.
            Denis menatap dalam-dalam wajah sahabatnya itu, posisinya masih duduk di sofa. Sudah lama sekali dia ingin seperti ini, berdua. Menatap dalam wajahnya, dan sedekat sekarang. Baru kali ini dia bisa seperti ini dengan klara. ingin rasanya hati ini bilang yang sejujurnya, batin denis lirih.
            Suasana sepi di apartement mempengaruhi segalanya, klarabela yang memang lelah sudah merasa nyaman diposisi duduknya sekarang. Tatapan denis yang begitu dalam dan hangat, wajahnya semakin mendekat. Dan siang itupun denis mencium lembut bibir sahabatnya itu. Klara mematung dan beku.
            “piipp…piiippp.. “ dering suara telepon dari tas klara memecah suasana itu. “ ya halo.. “ klara memerah, dia salah tingkah. Apa yang baru ia lakukan sama sahabatnya ini. Denis nampak tidak bersalah, dia diam memperhatikan klara
“ aku lagi sama denis.. “ klara menengok kearah denis. “ apa? Kamu dimanaa?” nampaknya suara orang diseberang sana terdengar sedikit memaksa. Klara nampak kebingungan. Orang itu menutup telepon.
“ devo? “ tebak denis sesudahnya. Klara mengangguk pelan
“ gue pulang dulu ya..” klara pamitan, dia kelihatan buru-buru sekali. Dalam hati sih bersyukur juga ada yang nyuruh dia keluar dari sini, kalau nggak bisa semakin lama dia sama denis berlarut dalam romansa itu. Klara mencium pipi denis, pamitan pulang. Dia buru-buru ngibrit ke arah loby apartement.
            Kejadian nya cepat sekali berlangsung, dan sekarang dia harus meninggalkan denis menghampiri aldevo di lobby apartement. Dua minggu menghilang kini dia muncul, telepon mendadak dan kok  dia tahu sih klara lagi di apartement denis ?
“ udah lama? “ tanya klara setiba dihadapan devo. Orang itu nggak menjawab, dia cuma tersenyum lalu mengajaknya cepat masuk ke dalam mobil dan melesat meninggalkan apartement.
            Sepanjang perjalanan klarabela maupun aldevo nggak ada yang bersuara, keduanya diam. Canggung. Klara masih nggak habis pikir kenapa dengan dirinya hari ini, begitu bodohnya sampai bisa dicium seperti itu dengan denis dan begitu devo telepon mengajaknya pergi dia menurut saja. Kalau tahu bakalan diam seperti ini kan lebih baik dia pulang saja.
            Pajero sport milik aldevo melesat cepat, klara sudah pasrah mau dibawa kemana. Ini bukan jalanan masuk kedalam komplek nya.lima menit kemudian mereka tiba dirumah besar, aldevo mempersilahkannya turun. Dia menggandengnya lembut, klara berdesir. Rindu sekali dia pada laki-laki dua puluh dua tahun ini. Mereka masuk kedalam rumah, sepi.
“ kamu tunggu sini ya..” pinta devo, dia meninggalkan klarabela didapur. Klara diam memanggut. Klara memperhatikan sekeliling rumah besar ini. Ditemboknya banyak sekali foto keluarga, tapi kenapa isi rumahnya hanya aldevo saja. Difoto itu pria dan wanita separuh baya serta dua orang anak laki-laki seumuran klarabela nampak tersenyum bahagia, dan satu lagi. Itu aldevo. Dia nampak dewasa dengan setelan jas itu, senyum nya yang hangat bikin klarabela terpukau. Tapi, kemana ya mereka sekarang? Beda sekali dengan suasana rumahnya.
“ maaf ya lama, minum nih. “ aldevo kembali dengan jus orange digelas besar untuk klarabela.
“ ini rumah kamu? “ tanya klara pelan memberanikan diri. “ kok sepi.”
“  ini rumah mamiku. Aku kesini kalo lagi kangen mami aja, taunya dia gak dirumah..”
“ maksutnya..”
“ mami sm papi udah lama pisah bel. Aku lebih milih hidup sama bokap karna dia lebih sering ngeluangin waktu buatku daripada mami. Sepi kan rumah? Dia terlalu sibuk bel. “ aldevo nggak ragu menjelaskan lebar, sesekali melempar senyum.
“ sorry.. “
“ gapapa bel, aku seneng kamu tanya dan cerita sekarang..”
            Klara meneguk jus nya semangat sampai habis, entah karena haus atau dia grogi itu jus setegak langsung habis. “ aku kangen sama kamu..” wajah devo mendekat. Suara nya lirih. Klara mau loncat saking kagetnya
“ aku..aku.. “
“ kamu ada hubungan apa sama denis sih? “ pertanyaan itu meluncur secepat kilat dari mulut aldevo. Klara mematung terdiam, dia membalas tatapan lurus devo. “kenapa dia sedeket itu sama kamu? “
“ dia sahabat kecilku vo. “ lirihnya. Devo mengenggam tangan wanita itu erat
“ kamu tau, aku ngilang karena cemburu. Aku pikir aku bisa lupain kamu, tau nya enggak “
            Klara merasakan sesak di dadanya saat itu juga. Dari awal pertemuan dengan orang ini sampai sejauh ini dia nggak pernah berhenti membuat hati klara selalu aneh, berdesir seperti merasakan takut kehilangan sewaktu-waktu malah lebih besar dibandingkan dengan rasa yang pernah dia rasakan untuk dhafin. Klara nggak seharusnya seperti ini, dia harusnya bisa berfikir lebih jernih lagi. Dia hampir saja masuk ke hubungan cinta yang salah dan terlarang. Apa yang akan orang bilang tentang mereka nantinya. Tapi klara nggak bisa membohongi perasaannya saat ini . ia teramat sangat merindukan aldevo. Dua minggu tak ada kabar darinya, kini dia ada dihadapan klara.
“ aku…. “ klara mengingat kejadian tadi diapartement. Air matanya tertahan dipelupuk. klara bingung dengan diri nya sendiri saat ini. Dia nampak seperti wanita yang kekurangan cinta, ya tuhan apa-apaan ini.
“ udah yuk, temenin aku masak aja. “ kata devo cepat. Devo tahu, bukan saatnya seperti ini. Buat nya sekarang yang paling penting dia udah bisa melihat wanita pujaannya lagi sekarang.
“ emang kamu bisa masak? “ klara mengikuti aldevo didekat meja dapur. Laki-laki itu mengeluarkan bahan-bahan dari dalam lemari es. Klara memperhatikan saja.
“ aku tuh apa aja bisa bel, cinta kamu aja yang belom bisa aku dapetin..” si devo menyentil hidung klara lembut. Jujur aja klara diperlakukan seperti itu meleleh.
“ kamu tuh gak usah kayak gini mulu kek vo. Aku nggak mau disangka ngerusak hubungan orang… “ klara ingat apa yang dibilang devo sewaktu dinner dua mingu lalu. Devo yang mendengar Cuma ketawa kecil sembari memakaikan celemek di tubuh klarabela. Wanita itu memperhatikannya dalam diamnya. Klara tersenyum lembut, kenapa laki-laki ini begitu penyayang sekali dan tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita seperti princess.
“ emang kamu cemburu ya? “ devo memotong beberapa bumbu dimeja.
“ engg..” klara kelihatan gugup. “ enggak lah. Ngapain sih cemburu sama anak abg.” Dia berkilah sok banget.
“ kalo aku cerita lagi, kamu mau nanggepin apa? “ devo nampaknya mulai senang melihat klara nampak gugup begitu.
“ ya kalo sampe nanti kalian nikah ya aku..aku.. seneng lah. Akirnya ada yang bahagia duluan..” klara menjawab seadanya, dia sibuk memainkan alat-alat dapur, biar nggak kelihatan grogi dan cemburu.
“ nikah sama siapa ? “ devo berhenti memotong.
“ ya sama pacar kamu lah…”
“ aku nggak punya pacar sayaang…” devo mencuci tangan
“ yang benerrr ? ? “ klarabela kelihatan senang sekali, matanya melebar senyumnya beseri
“ kan nikah nya sama kamu nanti…” tandas laki-laki itu dihadapan klara. disentuhnya wajah klara lembut, klara nggak mampu menolak atau menjauh. Dia nyaman banget. Dadanya semakin sesak sewaktu devo meneruskan omongannya soal nikah, tuhan sudah sejauh ini kah pikiran laki-laki ini.
Klara menitikkan air matanya, nggak tahu kenapa dia merasakan sedih teramat dalam saat ini. Klara bahagia akhirnya dia bisa bertemu dengan aldevo tapi kenapa harus dengan cara seperti ini. Disaat perbedaan usia mereka terpaut jauh sekali. Aldevo menyeka air mata wanita itu. Jujur saja sejak awal bertemu aldevo nggak bisa menjauhi pikirannya tentang klarabela. Sebenarnya sudah semenjak dulu, waktu dia masih tinggal dekat rumah klara. dia begitu menggagumi sosok wanita ini. Yang baik dan ramah serta kuat dan akhirnya waktu yang mempertemukan mereka kembali.
Aldevo memeluk lembut klarabela. Wanita dua puluh tujuh tahun itu terisak dalam hangat pelukan devo. Dibiarkannya seperti itu, sampai dilepaskannya pelukan itu. Di angkat wajah klara, dan disentuhnya bibir klarabela dengan bibirnya hangat.
Klara terhanyut suasana, dirasakan hangat dan nyamannya bibir aldevo. Tak dia rasakan seperti kecupan denis tadi ataupun dhafin dahulu. Seperti ada yang mengalir dalam darahnya cepat, berdesir ke hati dan jantungnya. Kalau saja waktu bisa dihentikan sekarang klara mau diposisi seperti ini. tidak ingin dipisahkan oleh laki-laki muda yang berhasil membuatnya melupakan sakit hatinya dengan cepat ini.mungkinkah terlalu cepat memulainya dengan yang baru? Tapi….mereka jauh berbeda.

Pukul 20.00
“ makasih ya masakannya enak semua..” klarabela dan aldevo sudah selesai makan. Mereka kini ada dibangku taman rumah aldevo didepan kolam renang mewah miliknya. Klara semakin merasakan getaran aneh yang mulai merasuki tubuhnya sekarang dan ini nyata, perasaan ingin memiliki dan menyayangi aldevo seperti dia merasakan nya pada dhafin. Ini bukan lagi mustahil, ini nyata adanya. Dia mencintai aldevo, apa adanya tanpa suatu paksaan.
“ kamu suka? “
“ banget. “ klara menaruh kepalanya di pundak devo, dia mulai nyaman. Masalah orang-orang bisa dibicarakan nanti.
“ maaf ya udah bikin nunggu lama…”
“ aku cari kabar kamu lewat raffa, dia bilang ngga tau. Aku nungguin kamu di star malah ketemu dhafin…” klara mengangkat kepalanya, devo menoleh kaget
“ trus ? kalian ? “
“ mmmm…” klara menggigit bibirnya. “ tadinya sih aku mau diajak balikan sama dia tapi…”
“ tapi apaa? “ aldevo mulai panik. Klara terkekeh geli.
“ kamu tuh lucu…”
“ kamu nih bikin aku spot jantung mulu sih bel.” Aldevo meremas kedua pipi klara, ditatapnya dalam-dalam. “ aku cemburu sama denis, aku takut kamu kembali sama dhafin. Ngerti ? “ aldevo mulai possesif, ya memang laki-laki seusianya memang lagi begitu emosinya. Tapi, lagi-lagi klara menikmati setiap kejadiannya.
“ kalo aku nya mau gimana? “ klara memancing, devo malah memeluknya erat
“ aku bakal bilang ke semua orang kita mau nikah. “
            Tawa klarabela pecah seketika, entahlah omongan devo kali ini lucu sekali. Nggak bisa ditahan lagi. “ kok ketawa sih? Kamu nggak yakin ya bisa nikah sama aku? “ klara mengatur nafasnya, dia sesak mendengar keseriusan aldevo saat ini. “ kalo kamu mau kita nikah sekarang juga aku mampu, bel. “
“ gila kamu ah..” dilepasnya pelukan devo. “ kamu kira semudah ngebalikin telapak tangan, semua ada prosesnya. Lagian aku nggak mau terlalu cepat karena kegagalanku kemarin. Kamu harus ngerti..”
“ aku ngerti karna itu aku mau jadi yang pertama pengganti laki-laki yang pernah hadir dihati kamu yang bisanya nyakitin kamu itu bel. Pleaassee…” aldevo menatap klarabela nanar, klara tersentuh sekali dengan niat baik sahabat raffa ini. kalau saja raffa mama papa tahu semua, bisa habis diceramahin klara sekarang. Klara akui, dia nyaman didekat devo sekarang. Klara ingin selalu bersamanya, nggak peduli ini terlau cepat atau terlalu bermasalah.
“ vo.. hidung kamu.. “ klara panik, hidung aldevo mengeluarkan darah. Aldevo buru-buru masuk ke dalam rumah meninggalkan klara sendiri ditaman.
***
            Seminggu sejak kejadian aneh itu klarabela kembali berpisah dari aldevo. Malam itu ia pulang diantar oleh supir aldevo, karena alasannya devo sedang pusing berat. Kemudian esoknya sampai seminggu sudah tak ada kabar lagi dari itu orang. Klara bingung, nggak ngerti lagi maunya devo itu apa? Seenaknya aja datang lalu pergi selama ini. tapi klara masih kepikiran sih kenapa tiba-tiba aldevo mengeluarkan banyak darah dari hidungnya.
            Jam lima sore klarabela beberes meja kerjanya bersiap pulang, pikirannya campur aduk sekarang. Kenapa sekarang dia menginginkan aldevo. Kenapa aldevo selalu misterius begitu ya, tapi tetap saja klara mau menunggu. Selama apapun ditinggal dan nggak ada kabar.
“ lo dijemput ya? “ tanya denis masuk ke ruangan klarabela. Sejak kejadian di apartement nya beberapa waktu lalu hubungan mereka sudah seperti biasa lagi, nggak ada yang bikin canggung. Mereka Cuma menganggap itu khilaf semata. Klara bingung banget yang dimaksud denis, hari ini memang dia nggak bawa mobil tapi siapa yang jemput. raffa kali ya?
“ siapa? “
“ coba aja tuh depan pintu..” klara berdebar hebat. Dia buru-buru mengambil tasnya pamitan sama denis dan menemui seseorang dibalik pintu ruang kerjanya.
“ sore non, saya dedi. Supir tuan devo..”
“ emang kenapa devo? “ pak dedi enggan menjawab,  dia cuma mengisyaratkan agar klarabela menurut dan ikut dengannya. Klara turun ke loby, masuk ke dalam mobil mewah bersama pak dedi. Kejutan apa lagi yang devo siapkan untuknya, kenapa enggak dia saja yang menjemput nya dikantor ? kenapa harus supir pribadi nya ?
Aldevo ini manusia teraneh dan langka yang pernah dia temui memang, dia bisa tiba-tiba muncul dengan berjuta kejutan, bisa juga tetiba menghilang nggak ada kabarnya. Mobil mewah hitam milik aldevo melesat segera. Banyak sekali pertanyaan dikepala klarabela saat ini. ingin sekali dia tumpahkan, kenapa aldevo jadi semisterius ini ?
            Pak dedi memasuki parkiran café star. Setelah itu membukakan pintu untuk klarabela. sebelum memberitahunya kalau aldevo sudah  menunggunya didalam café, pak dedi memberinya kotak berupa dress yang harus dia gunakan saat itu juga. Klarabela awalnya bingung, tapi dia menurut saja lah. Dia berganti pakaian didalam mobil saja, biar nggak ribet. Dia menata rambutnya kilat. Kini dia sudah siap, keluar mobil dan…betapa kagetnya dia melihat aldevo sudah berdiri di depan pintu café star menunggunya.
“ selamat sore sayaang..” dia menyapa, mengulurkan telapak tangannya. Klara yang tadinya mau ngamuk dan nanya macem-macem jadi nggak bisa berkutik. Dia kangen sekali dengan orang itu, disambutnya tangan aldevo cepat. “ kamu cantik banget.. “ bisiknya beriringan masuk ke dalam café.
Klarabela tertegun hebat sekali mendapati café star disulap sedemikian hebatnya oleh aldevo. Café itu sepi pengunjung, hanya ada dia dan devo. Ada bangku dan meja khusus untuk mereka ditengah café, dan ada pengiring music. Dia memainkan piano lembut. Klara tak mampu berkata lagi, dia belum bisa percaya. Keinginannya seperti dicerita-cerita novel dia rasakan sekarang. Candle light dinner romantic. “ suka nggak? “ tanyanya lembut setelah mempersilahkan klara duduk dan saling tatap. Klara mengangguk tanpa ragu.
“ kenapa kamu hilang lalu muncul dengan ini vo ? “
“ gak usah dibahas ya. Yang penting kan aku udah didepan kamu sekarang, dan nggak akan ngebiarin kamu sendiri lagi. “ klara takjub sekali dengan usaha dan sikap laki-laki ini padanya,sebagai wanita dia nggak munafik merasakan cinta sedahsyat ini dan diperlakukan layaknya ratunya setiap mereka bertemu. Klara sudah nggak mau mikirin lagi dengan pendapat orang-orang nantinya. Yang klara peduliin sekarang, bisa bersama aldevo selama mungkin.
            Malam itu mereka makan malam romantis berdua, mereka berdansa lalu aldevo menunjukkan bakatnya yang lain bermain piano. Hebat sekali dia, klara di buat terkesima. Nggak Cuma bikin orang nunggu dan rindu berat tapi dia juga mampu melelehkan hatinya.
“ janji ya, gak ninggalin aku lagi…” ini permintaan pertama yang klara ucapkan yang mampu membuat peredaran darah devo nyaris putus saking senangnya.
“ maafin aku ya sayang bikin kamu khawatir…” kata devo dibangku piano. Klara merebahkan kepalnya manja dibahu devo.
“ jangan ada yang tau ya vo tentang hubungan ini, buat sementara waktu…”
 Klara mengeluarkan kalimat lagi yang otomatis bikin devo shock, diam lama dan mengembuskan nafas kasar. “ aku sayang kamu. Biar orang tau nya kita temenan aja dulu, aku ga mau kita pisah cepet. Pleassee…”
            Aldevo mengerti, lagian memang terlalu cepat kalau mereka harus serius.semoga saja semua ini ada hasil baiknya,tuhan. Seenggaknya kalau memang tidak bisa bersama, mereka sudah merasakan bagaimana rasanya mencinta dengan tulus tanpa paksaan. Baru kali ini devo merasakan mencintai orang dengan hebatnya dan sanggup berbuat apapun untuknya. “ apapun aku lakuin asal bikin kamu bahagia bel. “ aldevo menjawab lirih, dia yakin dengan jawabannya. Pasti yang terbaik untuk mereka, klara benar juga. Dia juga belum siap disuruh pisah sama klara.
Mendengar jawaban aldevo, klara mendekat, kali ini ia mengecup pipi aldevo. Lembut. Klara sadar betul cinta ini memang nyata dan tanpa dibuat-buat dari hatinya untuk devo, klara nggak bisa menghindar. Perhatian dan kasih sayang devo memang melebihi pria-pria yang hadir dihidupnya selama ini. kalau dibilang kasmaran, ia dia memang merasakannya detik ini lebih hebat malah. Terimakasih tuhan, untuk rasa indah ini. semoga jangan berakhir cepat.
        * * *
Dan akhirnya semenjak malam itu mereka di pastikan sudah jadian, artinya memiliki hubungan khusus tanpa paksaan dan tanpa seorang pun yang tahu kecuali pak dedi. Supir pribadi devo. Klara menemukan hidupnya kembali begitu aldevo datang, klara menemukan semangat nya. Begitu sebaliknya dengan aldevo, impiannya sedari dulu terwujud sudah. Dia begitu mengagumi klarabela semenjak mereka masih tinggal dibandung, hingga akhirnya harus pindah ke luar pun rasa kagum devo tidak pernah berkurang sedikitpun. Dia selalu menanyakan kabar klara lewat raffa. Raffa nggak pernah curiga, ya wajar saja mereka kan memang tetangga lama.
“ aku pengen ketemuuuu… “ suara devo merengek diseberang telepon. Klara ngobrolnya pelan-pelan dia ditengah-tengah meeting itu aja pamit keluar ruangan sebentar.
“ aku lagi meeting. Kalo kangen tau kondisi dong…” klara sok kesal padahal dalam hati senang.
“ sini aku ngomong sama boss kamu deh, biar kamu diijinin pulang cepet..”
“ udah ah, gila kamu. Ntar ya aku telpon kalo udah kelar. Laters baby..”
‘ klik ‘ dia menutup obrolan di telepon cepat. Buru-buru mau masuk ruangan meeting lagi dan “BRAAAKK” klara menabrak seorang pria
“ nona klarabela, kamu nggak papa. Mari saya bantu berdiri..” dia baru saja menabrak executive muda berperawakan tinggi atletis dan tampan. Itu tuan Calvin antony. Dia terlihat sangat ramah sore ini, dia mengulurkan tangan membantu klara berdiri. Klara dengan senang hati menerimanya. Kini kedua nya berdiri berhadapan.
“ sorry, saya yang buru-buru pak. “ kata klara tergesa-gesa. Pria itu menanggapi nya dengan senyum ramah.
“ its ok, mari masuk bareng saya.. “ balas nya baik sekali. Klara memang mengidolakan sosok pria ini dari dulu, meskipun bilyuner dan sukses dimana-mana tapi dia nggak pernah sombong. Selalu mempedulikan sesama dan baik hatinya pula. Mereka masuk ke ruang meeting lagi, meneruskan meeting yang masih panjang sepertinya. Calvin sepanjang meeting terus saja curi-curi pandang ke arah klara dan tak sengaja kadang mata mereka bertemu, klarabela sih gelagepan berat diliatin begitu apalagi calvin selalu menebar senyum nya lebar. Ah sudahlah, dia kan sudah punya aldevo sekarang hihi
            Meeting sore itu diakhiri dengan total lima jam, bikin kepala denis sama klarabela berasap. Denis kalau sudah stress keluar ruangan meeting hawanya selalu mules aja. Sementara klara lagi sibuk memijat dengkulnya diloby kantor.
“ sore klara…” itu calvin Anthony. Dia mendekati klara. klara yang lagi sibuk mijat-mijat, berhenti
“ sore pak. Mau pulang pak? “
“ iya nih, kaki kamu masih sakit ya?” tanya nya perhatian sembari menunjuk dengkul klara. klara geleng-geleng nggak enak hati. “ saya antar pulang yuk. Rasanya saya bakal kepikiran kamu terus kalo saya belum memastikan kamu sampai rumah dengan selamat klara..” terangnya lembut. Klara melotot aja dibuatnya, andai ya semua orang kaya seperti dia hatinya. “ gak papa kan saya manggil nama aja, biar lebih akrab.”
“ gak papa pak, makasih banyak. Saya dijemput…”
“ sama siapa ? pacar.. ? “ belum selesai pertanyaan calvin, si devo datang menjemput. Itu anak nekat banget segala meluk-meluk klara dan mencium pipinya.
“ pak calvin, ini aldevo. Aldevo ini pak calvin..” klara memperkenalkan keduanya, mereka saling tatap sinis.
“ hai aldevo. “ sapa nya ramah. “ kalau gitu baiklah saya duluan ya klara, aldevo. Lain kali kalo ada apa-apa hubungi saya saja ya klara…” pria itu ngeloyor dari hadapan klara dan devo. Devo nggak mau bahas sekarang, dia diam saja. Mereka lalu masuk mobil dan melesat pergi. Sepanjang jalan devo diam saja nggak seaktif ditelepon tadi. and here we go, the show go on….
Aldevo cemburu berat rupanya. “ kamu kenapa vo ? cemburu ? “ mobil devo menepi ke sebuah taman kota. Dia mematikan mesin mobilnya, mereka keluar mobil. Devo belum mau menjawab.
“ kamu kok aneh sih?
“ aku yang harusnya nanya sama kamu. Siapa dia ? “ devo meninggikan nada suara nya, kelihatan banget dia emosi dan dibakar cemburu berat. “ kaki kamu diapain sama dia emang bel ? “perbedaan usia mereka terlihat diwaktu seperti ini, seumuran devo memang lagi parah-parahnya cemburuan.
“ udah nanya-nya? “ klara menggulung kedua tangannya di dada, dia bersikap santai dan tetap tenang. Klara tahu betul sifat devo. “ jadi kamu jemput cuma mau cemburu butain aku? Nggak nyesel kalo aku pulang sendiri sekarang ? “
 Aldevo menoleh. “ kok gitu sih, jangannn! “ dia menarik tangan klarabela. Kekasihnya itu tertawa kecil. “ iyaa maaf ya sayang abisan aku ga pernah rela kamu deket-deket sama cowo lain apalagi yang tadi tuh…” aldevo melembutkan suaranya, klara masih memandanginya.
“ tadi aku mau diajak pulang bareng malah…” klara manas-manasin, aldevo melotot kesal. “ tapi aku inget, pacar aku yang masih abg itu kan hobinya ngambek. Ntar dia ilang dua minggu lagi keluar dari bumi ke planet mars deh. Gak iklas aku…” mereka saling berpandangan tadinya devo mau ngamuk dibilang abg tapi sesudahnya mereka tertawa geli. Devo emang nggak bisa marah lama-lama sama klarabela sih.
“ duduk sini..” klarabela berjalan ke arah kursi taman, aldevo menurut. Mereka duduk berdua. Sore itu taman dekat kantor klarabela lumayan rame, mereka mengamati sekeliling.
“ aku mau kayak keluarga itu nantinya sama kamu bel…” aldevo menunjuk pria dan wanita beserta dua orang anak perempuan kembarnya.
“ ng ? “ klara nggak mampu berkata lagi, dia kaget. Lidahnya kelu.
“ kenapa bengong…” aldevo menepuk lembut telapak tangan klarabela.
            “ udah aku bilang kan berjuta kali ke kamu, aku serius sama kamu. Aku mau nikah sama kamu..”  aldevo menatap klara penuh makna dan kesungguhan, klara nggak bisa berbuat apa-apa. Sekujur tubuhnya kaku. Sudah sejauh inikah hubungannya dengan devo. Klara masih belum jujur ke siapapun tentang hubungan mereka, kenapa aldevo berani sekali berkata demikian. Klara tertunduk kelu, dia jatuh cinta teramat dalam dengan laki-laki dua puluh dua tahun dihadapannya ini. dia takut sekali kehilangan sosoknya melebihi kehilangan cinta dhafin atau laki-laki yang pernah mengisi kehidupannya. Kalau saja ada cara lain untuk bersama, klara pasti lakukan asal tidak dipisahkan dengan orang ini.
“ tapi nggak sekarang kok…” tukas devo cepat. Klara menghembuskan nafas lega. “ belom sekarang tapi pasti secepat mungkin…”
Klara gelagepan, mati banget dia kalau devo beneran nekat menemui papa dan mama untuk melamarnya. Usia memang bukan alasan utama tapi klara belum siap saja di pandang negatif oleh orang-orang disekitarnya. Masalahnya nggak seharusnya anak seusia devo memikirkan hal seserius ini. dia harusnya masih bersenang-senang dengan teman sebayanya. Keluar masuk mall atau sekedar bergaul dikampus bukan tiap hari menjemput wanita lebih tua darinya atau lebih parahnya malah memacarinya.
“ bisa ga bahas yang lain aja. “ klara mengeles. “ hari ini meeting ku bikin kepala sakit lhoo…”
“ kok kamu gitu sih bilangnya…”
Inilah saatnya perbedaan mereka dipertemukan. Sensian banget. “ jadi maksut aku bahas-an kita ini bikin sakit kepala kamu nambah? Kamu nih, niat nggak sih serius sama aku bel ? “ suara aldevo meninggi, klara tahu betul anak itu lagi emosi. Klara tak mampu membalas lagi-lagi, semua pertanyaan sore itu sulit sekali dijawab.
“ kamu harusnya paham dong vo, aku masih capek. Kamu tau sendiri kan jadwal kerja lagi gak karuan…” klara berdiri kesal. “ kalo kamu mau bahas yang lain nanti nunggu aku adem. “
“ emang kamu nya aja yang pesimis bisa bertahan lama dengan hubungan kita kan? “ aldevo lirih, klarabela berbalik badan
“ bukan pesimis, tapi aku mencoba realistis. “
“ oh ya? “ aldevo ikutan berdiri. “ trus mau sampe kapan kita ngumpet-ngumpet gini ? kamu malu kalo ketauan pacaran sama berondong ? “ aldevo meronta saat itu juga. Sepertinya hari ini hawa nya lagi emosi berat. Klara sampai terbelalak kaget mendapati kekasihnya begitu marahnya. “ rasanya percuma emang sore ini bilang kangen ke orang yang mentingin dirinya sendiri, ya…”
“ devooo “ klara membentak. Dia nggak percaya saja semuanya jadi seperti ini, kenapa aldevo bisa semeledak itu emosinya. Pasti awalnya dipicu rasa cemburu yang hebat nih. “ kalo emang semua nya percuma, aku bisa pulang sendiri. Lupain aja yang udah kejadian kemaren, dan impian-impian kamu itu…” klara kepancing emosi, dia gak bisa mengontrol sebaik mungkin. Dikeluarkan isi kepalanya saat itu juga. Dia duduk lagi dibangku taman, tertunduk lunglai dan menangis sejadinya. Devo masih berdiri diposisinya, mengepal tangan.
            Bodoh!nggak seharusnya dia bersikap seperti ini pada klarabela.
“ aku mau pulang.. “ klara berdiri dia mengangkat wajahnya tinggi-tinggi mencoba menahan amarah dan air mata. Devo membalikan tubuhnya, di tariknya tangan klara hingga masuk kedalam pelukannya. Dipeluknya erat wanita nya itu, klara menangis sejadinya.
“ maafin aku sayang..” devo mengecup kening klara. “ aku Cuma takut kehilangan kamu. Sama seperti aku kehilangan mamaku dulu demi orang lain. Aku jatuh cinta sama kamu, nggak ada habisnya. Aku nggak pernah siap liat kamu bahagia dengan orang lain. Aku selalu berusaha…. “ klara luluh banget, dia malah terisak hebat. Ucapan devo kali ini bikin klara mati kutu. Nggak pernah separah ini dia sayang sama orang. “ mau kan maafin aku…” dia melepas pelukannya, memperhatikan klara. diseka air mata kekasihnya itu. “ udah ah nggak usah nangis, muka kamu keliatan tua nya tuh. Keriput gitu “
“ aawwwww” devo memekik histeris. Klara mencubit perut laki-laki itu dengan kencang. Sialan amat dibilang keriput. “ kamu tuh ya, jadi aku keriput nih sekarang? Kemareeeennn aja awal kenal dibilang cantik cantik gombaaaal…” klara mencibir kesal. Aldevo terkekeh. “ udah ah, aku mau beli siomay aja. Laper nih nyerocos aja daritadi. “ klarabela berjalan menghampiri kios siomay didekat air mancur taman, aldevo membuntutinya.
“ kamu mau nggak ? “ tanya klara cepat sesudah memesan sepiring siomay.aldevo diam bingung, klara malah ketawa ngakak.
“ kenapa sih ? ada yang salah ? “ devo malah nanya balik.
“ aku lupa kamu orang bule ya, nggak ada siomay ya disana. Mau nyobain nggak.. ? “ klara menyenggol pundak devo. Rupanya suasana sudah mencair normal. Devo masih diam saja, makanan apasih siomay ? dia emang pernah tinggal di Indonesia tapi belum pernah tahu ada siomay.
“ mmm itu bersih emang ? “ devo mendekat, berbisik. Klara menutup mulutnya menahan tawa. “ emang sehat ya makan dipinggir jalan gini ? “ klara lupa, kekasihnya itu pasti jarang banget jajan diluar atau bahkan mencoba makanan pinggir jalan. Dia kan memang anak rumahan, taunya palingan junkfood doang.
“ higienis kan ? “ klara makin ngakak. Biasanya klara paling ilfeel sama laki-laki yang sok higienis dan sok bersih gini tapi nggak tahu kenapa si devo malah kelihatan lucu.
“ aku pesenin satu ya, aku jamin kamu minta nambah deh. Aku sering makan disini sama denis…”
 Devo melotot. “ jadi denis ?”
Klara melotot balik. “ udah deh, gak dibahas lagi. Mau nggak ? kalo nggak mau pulang duluan aja, ntar aku ngojek..” klara mulai galak, macem ibu-ibu lagi ngomelin anak nya saja, devo manggut mengiyakan. Nurut aja daripada disemprot lagi. Lalu mereka duduk di bangku kios siomay itu.
            Setelah siomay nya jadi,devo cuma diam bengong aja, klara sih sudah lahap menyantap. Laper banget. Klara menoleh.” Kenapa nggak dimakan ? nih cobain aku suapin, enakkkk…” klara menyuapi devo dengan sendok miliknya, awalnya devo menolak tapi dibiarkannya saja. Dirasakannya jajanan pinggir jalan itu, siomay. Enak banget rasanya. Devo menghabiskan isi piringnya klara hanya ketawa ketiwi senang. Akhirnya dia juga mencintai makanan favoritnya. Devo memesan dua porsi lagi dibungkus untuk orang rumahnya, si mbak diah dan pak dedi supirnya. Setelah mengenalkan siomay kali ini klara mengenalkan kerak telor dan berbagai jajanan khas Jakarta. Devo nampaknya mulai nyaman dan menikmati. Malah dia bilang kalau weekend mau kesini aja ngedatenya daripada ke mall.
            Hari mulai gelap, nampaknya mereka terlalu asyik menghabiskan waktu bersama di taman kota. Klara bahagia, ini yang klara inginkan sedari dulu. Waktu berdua yang lama bersama kekasih menghabiskan sore. Dia duduk dibangku, tangannya sibuk memijat-mijat dengkul. Si devo lagi ke toilet.
“ masih sakit ya bel ? “ devo sudah dihadapannya. Klara terkejut
“ apaan tuh ? buat ponakan ? “ tunjuk klara ke arah balon berbentuk senyum. Devo senyum manis.
“ buat kekasihku…” katanya belagak romantiss. Klara menaikkan alisnya
 “ ini sebagai permintaan maafku bikin dia nangis sampe keliatan keriputnya trusss…” klara berdiri, hampir mencubit. “ aku sayang kamu lebih dari yang kamu tau pokoknya. “ dia meneruskan lagi dan menyerahkan balon itu.
“ dasar abege ah. “ klara malu-malu. “ diliatin orang malu tau.”
“ peduli amat kata orang, yang pacaran kan aku sama kamu..” dia mengedip genit. Klara nggak bisa menolak, dia raihnya balon itu cepat.
“ emang nggak kempes ya..” klara bersikap konyol. “ tapi terimakasih ya, aku hargai. “
“ pulang yuk. Kasian kaki kamu tuh. Harus istirahat….”
            Klara merasa bahagia hari ini. aldevo memang laki-laki penuh kejutan dalam hidupnya dan dia merasa nyaman sekali bersamanya. Klara ingin sekali jujur kesemua orang bahwa cintanya sungguh besar kepada devo, dan tak ingin dipisahkan secepat mungkin. Klara sudah yakin sekarang, aldevo memang lah pilihan hatinya selama ini. semoga saja tuhan mendengar dan merestui.
* * *
“ kaaak…”
            raffa membuka pintu kamar klarabela kamis sore, kakaknya masih setengah sadar diposisi tidur siangnya. Hari itu tanggal merah jadi klara libur kantor dan puas tidur siang sampai lupa kunci pintu kamar. “ kenapa ? duduk sini.. “ klara mulai sadar, mempersilahkan duduk adiknya.
“ capek banget ya lo ? “ raffa ambil posisi disamping klara masih didalam selimut. raffa ini biarpun usia mereka sudah dewasa tapi nggak pernah nggak manja dan masih menganggap dirinya anak kecil kalau sudah sama kakaknya. Maklum deh jauh dari orangtua, dan kebetulan orang tua mereka baru saja kembali ke bandung dua hari lalu.
“ iya nih, bulan ini meeting aja program baru. Klien baru mulu, jadwal istirahat juga dipake buat meeting dadakan kadang. “ klara menggerutu memegangi lehernya, rasanya tegang.
“ kamu nggak jalan sama anin ? “
“ gak kak, dia lagi ada acara sama temen-temennya. “ raffa memperhatikan kakaknya serius, merasa diperhatikan seperti itu klara sedikit risih dan aneh saja. Seperti ada sesuatu yang ingin ditanya raffa.
“ udah sejauh mana lo sama aldevo, kak ?”
Pertanyaan pelan tapi sangat menusuk ini bikin klara mau terjun aja dari jurang dan mati seketika. Klara lupa kalau devo dan raffa bersahabat, pastinya dia bakalan sadar sendiri dengan kondisi seperti ini dan klarabela nggak menyiapkan sebelumnya skenario bersama devo.
“ ngg…apasih kamu fa…” klarabela terbata gugup.
“ gue nggak pernah nyalahin siapapun kak, cinta itu datang sendirinya kalo keduanya udah saling nyaman. “ raffa tak mempedulikan kakaknya, dia malah menatap lurus kakaknya itu yang masih salah tingkah. “ semuanya emang terjadi cepat kak, tapi gue Cuma mau ingetin setiap konsekuensi nya ya. Lo udah terlalu sering kecewa, dengan siapapun lo memilih pendamping hidup gue gak pernah permasalahin. Asal lo bahagia sama pilihan lo kak, asal itu orang bisa bikin hidup lo lebih indah gue restuin..”
“ faa…” klara menyentuh tangan adikknya.
“ gue sayang lo kak, apapun dan sama siapapun lo bakalan menghabiskan masa tua kalian. Gue selalu sayang dan mau yang terbaik. Gue seneng banget liat perubahan lo tiga bulan belakangan ini, gue nemuin lagi kehidupan ceria klarabela gue kembali normal. “ klara menitikkan air mata terharu, nggak disangka adiknya seperhatian ini. “ jaga diri ya, jangan sakiti hati dan perasaan lo terus..” klara nggak perlu menceritakan apapun pada adiknya itu, nampaknya dia sudah paham sendiri. Memang semenjak kedekatannya dengan aldevo dan memutuskan berpacaran dua bulan lamanya kehidupan klara yang dipenuhi tangis dan gundah gulana hilang seketika. Dia jadi rajin maskeran, jadi rajin dandan lalu ke salon dan lebih banyak tersenyum sendiri.
“ jadi…beneran kepincut nihh..” ledek raffa pelan. Klara memerah malu bukan main dilemparnya bantal ke wajah raffa.
“ sssshhhh diem…” dia membekam mulut raffa. “ aku gak mau semua tau, aku belom siapppp…”
“ hahahaha…” raffa geli banget. “ traktir gue ya, buat tutup mulut. “
“ sama rese nya ya lo kaya devo..”
“ jadi, sekarang semua tentang devo nih…” raffa bangun mendekati laptop kakaknya diatas meja samping tempat tidur, dia menatap layar laptop yang tak dimatikan klarabela. Disitu banyak sekali foto klarabela dan aldevo berdua dan tertawa lebar. Klara lari buru-buru menutupnya
“ udah ah, malu. Aku bukan anak smp lagi. “
“ hmmm…” raffa gak bisa nahan tawanya.
“ please, aku gak mau papa mama tahu. Nanti suatu saat aku pasti cerita, belom saatnya go public “ pinta klara merengek. raffa menaikkan alisnya.
“ lo yakin bisa bertahan ? “
“ kok nanya nya gitu sih ? “  klara membuang nafasnya kesal. Pasti tentang umur mereka deh. “ aku jatuh cinta sama devo tanpa dibuat-buat fa, semua yang dia lakuin buat aku bahagia. Sekecil apapun itu yang gak pernah aku dapetin dari cowok-cowok lain. “ jelas klara mantab. raffa mengerti sekarang, klara dan devo mungkin sudah memikirkan dan mempertanggungjawabkan hubungan mereka ini. raffa sebagai adik nggak bisa berbuat apa-apa selain merestui dan membiarkan kakaknya kembali bahagia. Semoga saja tangan tuhan berkerja untuk keduanya.
“ pippp..piiip….” handphone klarabela berbunyi. Ada panggilan masuk dari nomor baru, dia mengangkat . “ ya…halo “
“ nona klarabela Anastasia..” orang itu menyapa ramah sekali. Klara sudah bisa menebak siapa pemilik suara barusan. “ maaf menelepon, lagi sibuk ya ? “
“ oh enggak pak. Saya lagi dirumah, kenapa pak ? “ klarabela mencoba rileks saja. Buatnya ini telepon nggak jauh-jauh ngebahas kerjaan.
“ saya kerumah ya, see you… “
            Klara melotot melongo lebar sejadi-jadinya saat itu juga. Seseorang yang meneleponnya barusan bener-bener nggak sopan dan aneh banget ya. Itu calvin Anthony, ngapain sih dia sampai segitunya amat.
“ siapa kak ? “ raffa ikutan bingung.
“ ng..ini faa..aduh..siapa namanya ya…” klara malah makin kebingungan, dia malah mengucek-ngucek matanya dan menepuk-nepuk wajahnya memastikan kalau dirinya saat ini sudah terbangun dari tidur dan tidak sedang bermimpi Karena baru saja dia menerima telepon dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Ini mimpi kayaknya..
“ ting..tong..ting..tongg… “ suara bel berbunyi nyaring sekali, klara buru-buru ngibrit menuruni tangga menuju pintu. Raffa  masih saja bingung, dia ikutan turun. “ sore klarabela…” klara membuka pintu dan benar saja, boss nya datang saat itu juga. Ya tuhaannn…..
“ pak calvin…” dia berdesis, melongo nggak percaya
“ iya, sorry ya bikin kaget. Saya masih nggak bisa memaafkan diri saya sendiri atas kejadian beberapa hari lalu. Itu keras lho..” adem banget pria mapan ini berbicara.
“ siapa kak ? “ raffa tiba dibelakang kakaknya. Kakaknya masih diam nggak percaya.
“ saya calvin Anthony. “ dia mengulurkan tangannya, menyapa ramah. raffa membalasnya
“ raffa “
“ ini raffa adik saya pak.. “ klara mulai keluar dari ketidakpercayaannya barusan.
“ adik ? yang kemarin itu…” calvin Anthony mulai reseh, dia melirik klara ingat kejadian dilobby. “ ah sudahlah, its none of my business. Sorry.. “ dia nggak meneruskan. “ sekali lagi saya hanya ingin meminta maaf dan memastikan kamu memang tidak apa-apa klarabela.. “  tandas calvin diiringi senyum indahnya, pantas saja cewek-cewek suka heboh kalo ngegosipin ini manusia satu. Kalau dilihat lebih dekat dia emang tampan sekali dan baik.
“ udah pak nggak usah dibahas, itu saya nya aja ceroboh…”  klara mulai mengontrol salah tingkahnya. “ masuk dulu sini pak.. “
“ saya ingin mengajak kamu coffe break sejenak, boleh ? “
Klara dan raffa saling tatap, nggak ngerti dengan keinginan pria itu.
“ mmm I mean, membicarakan meeting kemarin, a little..” dia meralat sedikit biar nggak dicurigain sebagai ngedate. Klara merutuk hatinya, ujung-ujungnya urusan kerjaan deh, udah tau lagi mumet lagi libur masih aja dibahas kerjaan. Untung saja dia boss sendiri, kalo nggak udah klara semprot tadi nih.
“ wait a minute, saya ganti pakaian dulu..” mau nggak mau dia patuh. Dipersilahkannya boss nya itu masuk ke ruang tamu, dia duduk ditemani raffa sementara klara berganti pakaian ke kamar.
            Raffa menemani mengobrol, lumayan lama. Obrolan mereka seputar sport dan skripsi nya. Calvin menjanjikan bisa membantu sedikit kalau-kalau raffa butuh bantuan untuk skripsi nya. Raffa tentu saja senang sekali dan nggak mampu menolak.
“ saya sudah siap pak.. “ sore itu klarabela menggunakan kemeja biru dan celana jeans nya dan dibiarkannya rambut pirang ikalnya terurai. Calvin mengamati nya sesaat, ia tersenyum kecil.
“ ini kartu nama saya ya, kalo kamu butuh nanti hubungi saya saja “ dia mengakhiri obrolannya dengan raffa, raffa bersunggut mantap. Nggak lama dia dan klarabela berjalan beriringan ke arah mobil mewah milik calvin. Dia membukakan pintu penumpang, setelah keduanya masuk mobil supir pun menancap gas mobilnya cepat.
            Klarabela selalu berpikiran positif, nggak pernah mengira apapun ini. ini hanya urusan pekerjaan, dan kalau nanti aldevo sampai tahu klara sudah menyiapkan mental baja untuk membalas kalau saja anak itu meledak cemburu nya lagi. Calvin sepanjang perjalanan tidak berhenti mengamati klarabela. Klara sih lagi sibuk dengan handphonenya sampai nggak sadar begitu. Dia lagi sibuk mengabari devo.
“ hari ini aku ada meeting dadakan sama mr Anthony, please gak ada cemburu. Ini sebatas kerjaan.. “ katanya mengabari. Klarabela agak deg-degan juga sih menekan tombol send.
Dan di balas…
“ oke take care, kabari ya kalo udah dirumah…”
Klara senyum lebar mendapati balasan positif dari kekasihnya itu, syukur deh dia nggak ngamuk jadi bisa tenang.
Tidak lama kemudian mereka tiba direstoran, calvin turun buru-buru supaya bisa membukakan pintu klarabela juga. Baik dan sopan sekali pria kaya raya ini, beruntung sekali calon istrinya nanti.
            Mereka masuk ke dalam restoran, ya ini sih mewah banget. Kelasnya calvin memang, untung saja klarabela nggak berpakaian terlalu simple sekarang bisa-bisa kebanting sama style nya calvin.
“ silahkan.. “ calvin mempersilahkan klara duduk dibangku, mereka dekat dengan panggung. Sore itu sedang ada akustik live dari penyanyi jazz perempuan
“ pak, ini terlalu mewah. Nggak seharusnya bapak begini. Saya..”
“ panggil calvin aja ya, biar lebih akrab. “
“ okey.. “ klara nggak tau harus ngobrol apaan lagi, dia canggung banget. Baru kali ini dia diajak keluar meeting berdua boss. “ jadi sekarang, kita mau bahas apa ya ? “
“ kita.. “ sahutnya cepat. “ kenapa kita nggak bisa sedekat ini dari dulu ?”
Klara menelan ludahnya, perasaannya campur aduk sekarang antara takut, ke-gr-an juga dan masih nggak percaya saja kalau sekarang dia lagi berduaan sama pemilik perusahaan tempatnya mencari nafkah. Pria ini yang di elu-elu kan semua orang, yang dipuji semua wanita karena ketampanan dan jiwa social yang tinggi dan selera humor serta mau bergaul dengan kalangan manapun tanpa melihat kasta dan usia.
“ kamu nih bisa aja deh pak… “ klara rada mabuk, calvin memperhatikannya dengan tenang dan lembut. Dia senang di perlakukan seperti itu sama klara.
“ iya kamu… “ potong calvin cepat. Klara terdiam menganga. bodoh banget sih gue segitunya amat sama calvin jadi salah kan gue, kenapa jadi kamu kamuan. Sungut klara dalam hati
“ gak pak gak ada niat..”
“ aku suka kok kamu begini, nona klarabela…” calvin tersenyum semanissssss…….
“ oh iya pak, yang mau dibahas apa ya? “ dia ingat senyum aldevo-nya, lamunan liarnya tentang calvin hilang seketika. Dia focus.
“ kita lagi gak meeting di kantor kla, panggil nama aja ya. Aku asli nya juga gak formal-formal banget kok. “ lagi-lagi pria itu memohon, oke baiklah klara menurut kalau begitu. “ bahasan ? gak kla, aku Cuma basa-basi aja didepan adikmu. Lagian kalo gak gini aku nggak bisa minta maaf sama kamu..”
“ yaaampuunnnn vinnnnnnnn…. “ klara nyaris teriak. Calvin tertawa kecil, menjulurkan lidah mencibir meledek. Klara lalu tertawa. Diperhatikannya lagi dengan dekat. Ternyata yang dibilang semua orang memang benar adanya, calvin bukan seperti bilyuner-bilyuner sombong dan angkuh seperti di film. Dia merakyat dan rendah hati sekali, baik dan murah senyum. Adem banget
“ aku nyesel aja dari dulu gak ada keberanian buat ajak kamu sekedar ngopi diluar kla. “
            KLARA MATI KUTU. Nggak mampu lagi dia berbicara, sepertinya calvin ini tipe orang serupa seperti kekasihnya aldevo deh. Bisanya bikin orang kaku. “ tapi kalo tau aku diajak ngopi taunya mau dibuat gr gini aku juga gak mau kali, nolak aja…” klara berusaha meledek balik, dibawa santai
            Waitress restoran itu datang, lalu menurunkan secangkir kopi dihadapan calvin dan klara. “ saya aja mbak.. “ kata calvin sewaktu waitress nya ingin menuangkan kopi ke dalam cangkir. Dia lakukan seorang diri, klara memperhatikan. Kali ini dia nggak bisa menghindar, pria ini memang unik dan baik hatinya. Calvin menuangkan kopi ke cangkir klarabela, memberinya sedikit gula dan mengaduknya lalu diserahkannya kepada klara. dia juga membantu memotong croissant untuk klara dipiringnya. Tuhaaan….cobaan apa lagi ini untuknya. “ makasih ya vin.. “ bibirnya bergetar, calvin senyum kecil
“ kalo nggak gini, aku nggak akan tau tentang staff- ku kan? “ dia mengedip. Klara menelan dan menelan ludahnya saja. “ jadi, cerita dong tentang keluargamu? “
“ oiya, apa ya? “ klara sebodo amat deh, yang penting tujuannya baik dan nggak niat macam-macam. Niat baik kan harus dibalas kebaikan juga. “ aku asli bandung, papa mama baru beberapa hari berkunjung. Di Jakarta aku berdua adik semata wayangku, apa ya…kalo cerita keluarga tuh buatku panjang dan menarik. Terlalu bahagia aku cerita tentang mereka. Seharian juga nggak bakal kelar lho.. “ klara mengelus pipi nya lembut, klara emang punya kebiasaan mengelus-elus pipi kalau lagi asik ngobrol, calvin mengamati klara tanpa lepas dari pandangannya satu pun caranya dia berbicara, bergerak serta berkespresi bikin calvin penasaran sekali.
“ nanti kapan-kapan aku kenalin ke papa dan mama ya…” klara asal ceplos aja khaaannn.. “ mm…maksut ku biar…biar apa ya…”
“ aku seneng banget kamu bilang begitu… “ potong si boss adem.
“ duh udah deh, aku nyerah. Kamu aja yang cerita.. “ raut wajah klara memerah seketika, dia pura-pura memakan croissant nya.
“ ajak aku ke papa mama kamu kla… “ calvin memohon. “ suatu hari nanti..”
Entahlah maksud permintaan calvin ini menusuk hatinya sekali, seakan dia  ingin mengiyakan dan malah kalau bisa menurutinya sekarang. Klara bimbang, dia dilema. Ada apa dengan calvin saat ini ? mengapa dia bersikap seperti ini padanya ? apa memang dari dulu pria ini menaruh hati padanya dan memperhatikannya ? memang sih, enam tahun bekerja di perusahaan itu klarabela doang yang nampak biasa saja dan tidak terlalu histeris kalau bertemu calvin, apalagi kalau tiba-tiba calvin masuk ke ruangan kerja minta dikerjain berkas-berkas penting saat itu juga. Kalau teman sekerjanya pada heboh klara mah biasa aja.
            Dan sore itu akhirnya mereka dekat. Menghabiskan waktu untuk bercerita satu sama lain. Layaknya dua orang yang sudah lama akrab, tidak ada lagi kecanggungan pada diri mereka. Baru kali ini calvin Anthony seperti ini, dibuat penasaran oleh karyawan nya sendiri. Dia sanggup menceritakan pengalaman sukses dan karir serta keluarganya, hanya pada klarabela. Entahlah, untuknya klara sangatlah special. Sudah dari dulu dia seperti ini padanya sudah sejak lama tapi tidak ada keberanian. Semoga saja semuanya tidak sia-sia.
“ terimakasih ya kla, sudah mau berbagi tawa sore ini… “
* * *
Sejak mengiyakan permintaan calvin sore itu klarabela tidak bisa hidup tenang, awalnya semua hanya niat baiknya membalas budi dan menerima permohonan maaf atasannya tapi semua malah jadi bencana. Ada yang benci setengah mati dengan klara, lalu berita backstreet nya dengan aldevo pun menyeruak disekeliling kantor. Entah siapa yang berbuat, tapi sekarang klara sudah jadi artis top dikantor. Semua mata mengarah padanya, semua nya nyinyir memandangnya. Semua negatif. Klarabela sudah berubah menjadi buah bibir. Ada yang bilang klarabela memanfaatkan calvin, lalu pura-pura menjalin cinta dengan aldevo si berondong karena tidak enak hati menolak cinta anak kencuran, intinya pura-pura. Ada aja orang sirik yang nggak suka.
“ jadi lo sama berondong, bener nggak sih kla ? “ tanya cia saat makan siang di meja kerjanya. Klara nggak nafsu makan,  dia menghentikan suapannya segera. Nggak ada yang salah sebenernya dengan jadian nya klara dengan devo, nggak ada hubungannya sama kantor juga. Iya, itu karena mereka cemburu aja calvin dekat dengan klara jadi masalah kehidupan pribadi klara disangkut pautin segala. Lagian siapa sih yang sampe hati nyebarin rahasia ini ?
“ sekarang gue tanya balik ya, jadi kalian makan diruangan gue Cuma mau cari info ? iya ? kalo gue jawab iya atau enggak, ada untungnya emang buat kehidupan kalian ya ? “ klara yang awal gossip niatnya nggak mau ambil pusing banget sekarang malah jadi marah beneran. Dia buru-buru keluar ruangan meninggalkan teman-teman kerjanya itu. Dia bertemu calvin didepan pintu. Mata mereka bertemu.
“ yang harus kamu tau juga vin, pacarku berondong. Puas kamu? “ klara sudah dipuncak kesalnya, dia nggak tahu kenapa bisa berkata seperti itu kepada calvin. Tapi pria itu tak menanggapinya . “ kalo pacaran sama berondong bikin aku nista banget dikantor ini, besok mungkin aku nggak akan kerja lagi vin. “ mata klara panas sekali tapi dia mencoba menahannya, dia keluar meninggalkan calvin segera.
            Apa yang klara takutkan selama ini kejadian juga, hubungannya dengan aldevo lambat laun pasti terbongkar. Delapan bulan mereka bersama, klara sudah sangat nyaman dengan hubungan ini dan ia lupa memikirkan segala resiko yang akan terjadi, sekalipun solusipun tidak mereka jumpai untuk saling bersama. Klara menyayangi laki-laki itu tanpa dipaksa, pria mapan necis dan berwibawa seperti calvin saja tidak mampu menggantikannya. Dia sudah terlanjur cinta. Ini baru warga kantor yang tahu, bagaimana kalau sampai di telinga mama dan papa nya ya ? ya tuhan, kenapa klarabela harus seperti ini lagi.
            Klarabela terisak, dia berlari ke arah lobby. “ nona klara… “ itu pak dedy. Dia sudah disana sedari tadi mungkin. “ non kenapa?  “
“ bapak ngapain disini ? “ dia malah balik nanya.
“ diperintah tuan buat jemput non klara, mari non.. “  klara mengiyakan, klara sebodo amat keluar melenggang dari kantor, padahal ini masih jam makan siang. Dia cuek aja, dia pusing.
“ pak kita mau kemana ? “ tanya klara disela isak tangisnya sewaktu didalam mobil dan mulai berjalan.
“ non jangan nangis ya, ntar tuan sedih. Senyum dong… “ dia nggak menjawab pertanyaan klara, klara diam membenarkan dan menghapus air mata
“ jangan bilang tuan nya bapak ya kalo saya nangis barusan. “ sepakat. Pak dedy menggangguk dan meluncur ke tujuan. Mereka ke taman kota. Klara menghapus air matanya, bercermin memakai bedak dan lipstick. Daripada bête mendingan pacaran deh, batinnya. Dia keluar pintu mobil semangat membara.
            Klara mencari sosok aldevo disekitar taman kota, mereka memang sekarang ini jarang bertemu. Paling komunikasi lewat telepon atau sms saja, alasannya sih devo lagi sibuk mikirin kuliah dan ngejar skripsi. Klara mengerti saja dan nggak mau ganggu. “ al…” klara terbata. Lidahnya kelu sekali ingin meneruskan, dia menemui kekasihnya itu. “ devooo… “ air mata klara tak bisa dibendung lagi. Klara sedih sekali. Dia mendapati kekasih hatinya di atas kursi roda, dia terlihat pucat dan menggunakan syal tebal serta switer di hawa panas seperti ini. “ sayang kamu kenapa ? “ klara malah sesenggukan. Dia menyentuh pipi devo, laki-laki itu menatapnya dan tersenyum
“ kok nangis sih ? “ dia menyentuh tangan klara, tersenyum manis dan santai . “ kemaren abis nemenin ponakan berenang eh kepeleset… “ dia terkekeh sendiri. Klara terisak, aldevo pasti berbohong.       “ sini dudukk… “ dia mempersilahkan klara duduk disampingnya dibangku taman. “ apa mau aku pangku biar nggak nangis lagi ? “ dia masih seperti aldevo-nya dahulu, senang sekali bergurau. Klara tahu betul devo pasti membohonginya.
“ kenapa sih semua orang hari ini pada seneng banget bikin aku emosi…”
“ sayang… “ potong devo lemmbuutt sekali. “ kamu nggak perlu cerita apapun, aku udah tau semua. Kamu jangan bilang gitu ya, aku nggak mau jadi salah satu orang yang kamu keselin hari ini. “ dia mengelus mesra rambut pirang kekasihnya itu. Aldevo sayang sekali pada wanita dewasanya ini. kalau saja tuhan memberinya kesempatan panjang ia ingin sekali terus membahagiakannya. “ senyum ah, aku nggak suka liat kamu nangis gini. Tuh liat tuhhh…” devo menunjuk kulit dibawah pelupuk mata klara, klara paling sebal kalau devo sudah meledek mengarah ke sana.
“ iya iyaa keriput. Puas kan ? “
“ ih aku nggak bilang sih.. “ ledek devo geli. Mereka tertawa bersama.
Yang bikin klarabela nyaman dan betah disamping devo ya seperti ini, selalu dilindungi dan dihargai sebagai wanita. Selalu disayang pake banget.” Kamu sekalinya ngajak ketemuan tiba-tiba kondisi nya begini pula. Seneng banget sih bikin aku khawatir..” klarabela ngedumel. “ kamu bilang mau skripsian dulu tapi kok malah nyuruh pak dedi buat jemput aku trus kondisi kamu begini..”
Aldevo sih sebodo amat, dia malah senyum-senyum. “ kamu nih, aku udah bilang aku kepeleset kemarin, cukup kan ? “ klara tahu banget sifat devo, dia pasti lagi menyembunyikan sesuatu.
“ aku mau ajak kamu ketemu keluargaku yuk. “
Klara mendelik. Aldevo ingin mengajaknya bertemu keluarganya apa tanggapan mereka nanti kalau lihat klara.
“ gak usah mikirin yang aneh-aneh, aku udah siapin jawaban kalo ada yang rese nanya. Ayuk.. “ devo pun memahami isi kepala klarabela. Tak lama kemudian dia membantu devo mendorong kursi roda dan masuk ke mobil. Mobil devo pun melesat meninggalkan taman ke arah rumah maminya.
            Banyak sekali mobil diparkiran rumah besar orangtua aldevo. Mental klara seketika ciut, di dalam mobil dia lebih banyak diam dan murung. Diotaknya masih penuh dengan kejadian tadi siang dikantor eh ini mau ditambahin lagi kalau-kalau keluarga devo ada yang rese melihat klarabela berdua devo. Sungguh klarabela belum siap mempublikasikan hubungannya tapi klarabela juga belum rela kalau pisah sama devo. bagaimana nanti tanggapan keluarga besar devo melihat kekasih yang di bawa devo ternyata lebih tua dari nya, seorang anak kuliahan menjalin hubungan dengan wanita dewasa. Aduh…
            Aldevo nekat turun dari mobil tanpa bantuan kursi roda dan mampu sendiri, klarabela dan pak dedy sudah mau membantu tapi dia menolak keras. Klara masih nggak bisa berfikir normal, ini masih membingungkan. Ada apa dengan aldevo saat ini.
“ santai ya, aku mau semua keluargaku kenal kamu..” bisik devo lembut sewaktu mereka sudah beriiringan jalan menuju ruang tamu, klarabela masih tetap diam gugup. Sama persis kayak anak abege pertama kali ketemu orang tua pacar.
“ aldevooo… “ suara merdu dari seorang perempuan setengah baya menghampiri mereka. Itu mami devo pasti.
“ mii.. “ mereka berpelukan, si mami mencium pipi kanan kiri serta kening anak laki-lakinya itu.
“ sudah sehat sayang ?” tanya mami masih diposisi memeluk, klara yang dengar agak kaget.
“ devo nggak papa mi. “ dia melepas pelukan mami. “ ini klarabela mi…” aldevo memulai aksinya memperkenalkan diri klarabela. Si empunya nama Cuma bisa mematung. Ini yang dibilang mamanya ya, yang namanya tante sofia mami aldevo mantan tetangganya dulu? Cantik, awet muda. Aduh gimana ya kalau sampai dia cerita-cerita ke mamanya tentang ini.
“ klarabela tante. “ klara mengontrol detak jantungnya. Dia tersenyum
“ ini yang kamu sering certain ya sama mami ditelepon ? “
Klara melongo. Mati lu! Cerita apa tuh devo ke mami nya.
“ iya mi, lebih cantikkan ?”
Mami manggut-manggut mantap. Klarabela tersenyum kecil dan lega melihat raut wajah mami devo, dia sangat tulus dan hangat menerima kehadirannya sore ini. “ ommmmm evoooo “ suara anak laki-laki terdengar nyaring sekali berlari ke arah devo, menabrak devo sampai minta digendong. Aldevo dengan sigap mengendong meskipun merintih, karena selain anak itu gemuk devo juga masih belum stabil dengan kesehatannya.
“ kamu nih, om kan kaget .. “ ledek devo. “ kapan datengnya? “
“ abisan om lama banget sih.”
“ om jemput tante cantik duluu dong, katanya mau ketemu…”
bobby melirik klarabela. “ nice to meet you tante…”
Anak ini tampan sekali, persis seperti devo. apa mereka bersaudara ? sayang sekali devo kepada anak ini..
“ kamu lagi libur kerja ya bel ? “ tante sofia mendekati klarabela. Dia ramah dan juga lembut. Klara masih nggak percaya aja sit ante sofia memanggilnya dengan bela. Ini pasti kerjaan devo deh.
“ iya tan, lagi libur..” klara menjawab bohong, aldevo berkedip centil. “ devo cerita apa aja tentang saya tante ? yang jelek-jelek ya ? “
            Lalu tante sofia dan anak laki nya tertawa bersama, klara sebel. “ bener ya kata devo kamu orangnya asik hehhee..”
Dipuji seperti itu klarabela otomatis tersipu malu, dia nggak percaya aja respon tante sofia kepadanya sangatlah baik. Jadi makin cinta nih sama devo. sesudah itu tante sofia dan klara terlibat dalam obrolan seru, klarabela sadar betul dunia nya nggak jauh dari tante sofia. Wanita dewasa yang punya hobi sama, berkelut dibidang bisnis dan berperanan penting dalam jabatannya dikantor. Klara pun nyambung dengan setiap obrolan yang dibahas tante sofia. Dari mulai rumah tangga, urusan dapur, kantor, bisnis sampai restaurant. Klarabela hanyut sekali, dibiarkannya dua wanita itu bersama, sementara devo pindah ke ruangan lain.
            Aldevo memperhatikan keduanya dari jauh, dia tersenyum lega. Bahagia sekali melihat dua wanita kesayangan dan yang paling dia cinta bisa bersama dan cepat akrab. Rasanya ingin sekali cepat meminang klarabela dan menjadikannya menantu kesayangan mami. Biar mami ada teman ngobrol seperti ini. dan yang paling aldevo bahagia serta lega adalah seluruh sanak keluarga nya sore itu yang tengah berkumpul sangat hangat menyambut kehadiran klarabela. Mereka menghargai aldevo, mereka memahami setiap keputusan aldevo. Dan mereka mendukung baik. Klarabela pun lupa dengan kesedihannya hari ini.
            Dua jam berlalu klarabela bersama keluarga klara. aldevo sangat tidak menyangka kalau respon mereka sepositif ini apalagi klarabela menyukai anak kecil. Keponakan devo sangat nyaman dengan kekasihnya itu apalagi si bobby. Keponakan devo yang paling gendut dan bule yang daritadi ngegelendotin om nya mulu.
“ tante, aku sayang sama tante. “ bobby menghampiri klara sewaktu  wanita itu tengah sibuk memasak bersama devo. klara terharu sekali mendengarnya, sejauh inikah rasa sayang nya kepada aldevo serta keluarga yang baru saja dia kenal ? rasanya memang berbeda sekali dengan kehangatan keluarga dhafin terdahulu. Ya tuhan, bila saja aku bisa memilih. Ingin aku terlahir kembali sebagai jodoh aldevo. Klara berdoa dalam hatinya.
“ baru kali ini om evo ngenalin pacarnya, sebelumnya mah nggak pernah. “
“ heheh…” klara mulai bingung dan nggak enak ati. Ini anak nyerocos aja sih, masih kecil juga. “ udah ah, tante GR banget bob. Lagian kan tante baru kenal bobby..”
“ iya tante tapi bobby yakin, tante tuh….mmmm apa ya..” dia menaikan matanya seperti sedang kebingungan menyusun kata. Devo menahan ketawanya melihat perbincangan dua orang kesayangannya itu. “ apa ya tan…” bobby masih bingung.
“ awet jagoan !” om nya yang rese ikut ambil suara bikin klara mencubit perutnya.
“ kamu nih, ngajarin anak kecil jangan kaya gini ah. Awas aja ya dia dewasa sebelum waktunya. “ cerocos klarabela sok kesal. Devo meringis sakit diiringi kekeh ketawanya
“ tapi makasih ya doa bobby, tante amin-in sekali…”
            Aldevo terdiam, terpaku diposisi berdirinya. Tawanya henti seketika. Hatinya seperti ditonjok keras sekali. Rasa percaya diri dan optimis tinggi ini kembali hilang, entah kenapa. Apa yang aldevo perbuat kepada wanita ini, sakit rasanya bila suatu saat nanti melihat kenyataan yang tidak berjalan sesuai harapan bobby dan diri klarabela saat ini.
“ udah yuk ah, makan. Om laper nih “ aldevo kembali normal, dia mengalihkan obrolan. Dia menggendong sepupunya itu, diikuti klara kea rah ruang makan. Disana keluarganya sudah berkumpul semua.
            Keluarga besar aldevo sudah berkumpul di meja makan, klarabela duduk bersebelahan dengan aldevo. Klara merasakan gugup yang sangat hebat, dia gemeteran sekali berhadapan dengan keluarga devo ini, tapi sekali lagi klara sangat bersyukur karena laki-laki ini nggak pernah kehabisan cara untuk membuat klara selalu nyaman didekat nya dan keluarga nya. Di genggamnya erat dan hangan jemari klarabela, dia liriknya lembut kekasihnya yang lagi gugup itu. Klara membalas dengan senyum. Kedewasaan aldevo ini memang sangat klara acungi jempol, dia tahu sekali bagaimana bersikap baik dan menyayangi perempuan. Ah, aku ingin sekali rasanya ini tak cepat berakhir…
“ kenapa kamu gak kenalin dari dulu aja sih vo si klarabela ini.. “ mereka terlibat dalam obrolan seru di tengah makan malam, kini giliran aldevo-klarabela sepertinya yang mau dibahas, klarabela menarik nafasnya dalam-dalam berusaha kalem. Di tanya begitu klarabela deg-degan.
“ susah om dapetin hatinya. Susahhh banget, ini aja devo rasanya kayak menang lotre bisa jadian sama dia. Bangga banget ngenalin kekalian…. “ penjelasan aldevo ini terlalu dilebihkan memang tapi mampu membuat klarabela sedikit tenang. Baik sekali dia, memuji klarabela begitu.
“ and you are lucky one to have him, klarabel…” mama nya bobby kini gentian memuji ponakannya itu. Klarabela tersenyum manis. “ yang terbaik untuk kalian ya..”
            Aldevo tersenyum kecil. ini sakit sekali. Entah apa yang muncul di dada nya sekarang, ingin sekali menjerit keras-keras. Ingin sekali menceritakan apa yang dia rasa sekarang tapi tidak bisa. Bibirnya kelu. Devo merasakan sesuatu yang indah sepertinya akan dia rasakan sebentar saja. Aldevo harus siap, aldevo harus tahu konsekuensi nya. Aldevo harus ikhlas. Dia mencintai klarabela. Dia lah wanita pertama yang sangat ia kagumi selama ini, dia harus bisa membahagiakan klarabela sesingkat apapun nanti waktunya bisa bersama klara. seenggaknya dia pernah ada dikehidupan klarabela dan menggoreskan kebahagiaan yang bisa diingat seumur hidup wanita itu.
* * *
Jam di mobil aldevo menunjukkan pukul sepuluh malam, klarabela baru mau pulang. Si raffa dari tadi sudah nelponin mulu. Dia pasti khawatir berat kenapa sampai selarut ini kakaknya belum juga pulang, apalagi ditambah si denis yang sibuk telepon ke rumah mastiin klara sudah pulang belom. Raffa takut ada apa-apa sama kakaknya itu. Kenapa denis menelpon, padahal kan mereka sekantor ?

“ makasih ya sayang, aku seneng banget. Hilang seketika nih kesel dari pagi..” klarabela mengecup pipi kekasihnya itu. Dia kembali duduk dan memeluk lengan aldevo. Panas, suhu tubuhnya panas sekali. Tapi klarabela nggak boleh panik, aldevo pasti marah.
“ aku yang makasih sama kamu bel.” Dia menatap lurus dan dalam mata klarabela. “ jaga diri kamu ya.. “
Klara diam , kaku. Dia merasakan ada yang aneh di tubuhnya saat ini. panas sekali, semuanya. Ada apa ini ? kenapa kalimat devo barusan bisa membuat efek sehebat ini. jaga diri ? emang dia mau kemana? Klara merasakan kembali padam wajahnya saat ini. sesak sekali dadanya. Kenapa ya dengan dirinya sekarang ? apa ini karena seharian nangis ? tapi kenapa dia merasakan tidak ingin berpisah dengan kekasihnya untuk hari ini, seakan mereka tidak akan bertemu lagi untuk selanjutnya.
“ kenapa kamu bilang kayak gini, vo ? kamu nyerah sama semua ini ? “
Klara nggak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini, kenapa pula dia bisa menangis sekarang dihadapan devo. Rasanya ada yang berbeda hari ini, kepengen selalu bersama kekasihnya itu. Memeluk nya erat dan menghabiskan hari bersama. “ aku nggak bisa ngejanjiin kamu kehidupan yang indah selamanya bel, tapi ingat selalu ya. Aku nggak akan pernah untuk berhenti mencintai dan mengagumi kamu, meskipun nantinya kita harus pisah. Tuhan punya rencana yang lebih indah dan lebih baik di atas segala rencana umantNYA bel, aku selalu percaya itu. Dia menggantikan yang terbaik dengan yang terindah. “
“ kamu nggak percaya kita bisa bersama? Kamu nyerah sama perbedaan usia kita, iya vo? “ klara mulai menaikkan suaranya, rasanya tidak bisa menerima dan mencerna omongan devo barusan. Tapi devo berusaha tenang. “ aku udah berusaha semampu aku buat mengakui semua ini vo, pelan-pelan mempublikasi kan nya tapi kok… “ klara terisak lagi. Dada nya sakit bukan main. Sekian bulan bertahan kenapa akhirnya seperti ini, apa iya tuhan punya rencana lebih indah lagi ? apa iya dia harus berpisah dengan aldevo ? apa karena perbedaan usia saja ? ya tuhan.. apa iya klarabela harus merasakan lagi pahitnya patah hati.
 Aldevo membiarkan wanita nya itu menangis tertunduk kelu. Dia terdiam , di raihnya tubuh klarabela ke dalam pelukkannya. Dalam. Dan erat. Klarabela makin sesenggukan. “ maaf kalo aku bikin kamu terlalu jauh bel, jujur aja aku nggak bisa jauh dari kamu. Semenitpun. Aku nggak pernah mau pisah sama kamu tapi kamu harus ingat, tuhan punya kuasa di atas segalanya. Udah ya sayaang, jangan sedih lagi. Aku tetap sayang sama kamu, menjaga kamu sesuai kemampuanku kok “ tuturnya lembut. “ udah ya, aku paling nggak bisa liat kamu kaya gini. “
Klarabela mengangkat wajahnya, menatap aldevo lurus tajam. “ kamu yang bisa bikin aku jatuh cinta segini hebatnya vo, aku bahkan nggak memperdulikan apa yang mereka bilang nantinya. Usia, perbedaan. Aku nggak peduli, selama itu masih bisa bareng sama kamu. Paham kan? “
“ dan kamu yang bikin aku selalu dan nggak pernah habis buat jatuh cinta sama kamu setiap menit, detik dan hari nya klarabela. “ aldevo mengusap lembut pipi klarabela tulus, kali ini klarabela merasakan sesuatu yang indah dan nyaman dalam hatinya yang nggak bisa dijelaskan dengan kalimat. Ingin sekali rasanya menghentikan waktu agar terasa lama berdua bersama kekasihnya ini.
            Aldevo menatap klarabela lurus, dan lembut. Klarabela mulai tenang, di kecupnya dahi kekasihnya itu. Di genggamnya erat tangan klarabela saat itu. Tak bisa sedikitpun lepas pandangannya dari mata klarabela, terimakasih tuhan sudah memberikan kesempatan terindah seperti ini dalam hidupnya untuk mengenal dan mencintai sosok indah seperti wanitanya ini. diciumnya lembut bibir merona klarabela saat itu, dalam. Lama. Dan tenang
* * *
Tiga bulan kemudian..
            Sudah tiga bulan berlalu sejak malam bersama aldevo itu. Klara tidak mendapat kabar sedikitpun tentang aldevo, hancur hati klarabela berkeping-keping. Sudah tidak ada lagi yang bisa klarabela jelaskan pada siapapun isi hatinya saat itu. Dia kembali masuk dalam fase dunia kelamnya, bahkan bisa dibilang lebih kelam daripada sebelumnya. Dia minta resign kantor tapi pimpinannya tidak mengizinkan dengan alasan selama ini klarabela lah yang mampu memberikan keuntungan untuk perusahaannya dengan ide-ide nya yang cemerlang maka dengan kebijaksanaannya, diberikannya cuti istirahat untuk klarabela sementara waktu sampai ia tenang kembali.
            Mama dan papa juga sudah mengetahui tentang hubungan anaknya itu dengan aldevo, teman sebaya raffa. Awalnya mereka berfikir klarabela depresi sampai nggak bisa menemukan tambatan hati lain , anak kuliahan di pacari juga. Tapi setelah mendengar cerita dari raffa dan melihat perubahan positif klarabela setelah mengenal aldevo, mama dan papa akhirnya bisa menerima. Meskipun akhirnya klarabela harus merasakan sakitnya lagi.
            Tiga bulan sudah aldevo menghilang. Nomor handphone dan rumahnya pun tidak ada yang bisa dihubungi. Ribuan email serta pesan singkat sudah dikirim klarabela tapi tidak ada satupun balasan, hingga suatu malam klara begitu merindukan sosok kekasihnya itu. Dia meminta raffa mengantar nya kerumah aldevo, tapi percuma saja di rumah itu sudah gelap gulita dan tertera tulisan ‘for sale’ . rasanya sakit sekali, melebihi sakitnya dahulu. Entahlah apa lagi yang aldevo buat selama ini.
            Air mata klarabela sudah kering, ribuan doa sudah dia panjatkan kepada pemilik hati dan kuasa alam semesta ini. dia selalu berharap keajaiban pasti datang dan membawa aldevo nya kembali. Rindu sekali klarabela dengan keceriaan laki-laki itu. Entah apa yang membuat mereka terpisah selama ini. tuhan tengah menunjukkan kuasanya. Klarabela ingat betul malam terkahir bertemu dan mengingat kalimat aldevo. Ini campur tangan tuhan, manusia punya rencana tapi dia lebih tahu apa yang terbaik untuk aldevo maupun klarabela. Semoga saja tuhan memberikannya kesempatan lagi bersama dengan aldevo.

Subjek : kangen si bawel
Jadi gini cara kamu bikin aku makin jatuh cinta dan nggak mau ngelepasin kamu, hey anak muda ?
Kenapa sih suka banget bikin aku cepet keriput ?
Nggak. Tenang aja, aku nggak nangis kok.
Cepat kembali ya,
Aku rindu.
Sangat.
Regards,
Anastasia klarabela

Klik. Klarabela menutup laptopnya, airmata nya menetes kembali.
Klara harus kembali normal,bagaimanapun susah dan pahitnya kenyataan sekarang ini. beginilah konsekuensi menjalin hubungan dengan anak abege, masih labil dan suka bikin nyesek. Klara harus bangkit lagi, meskipun kalau lagi bengong terus ingat semua tentang aldevo lalu kembali keingatan ditinggal selama tiga bulan ini dengan kondisi yang memprihatinkan, klara sulit sekali move-on. Oh tuhan berikan keajaiban…
“ drrrtttt…drrttttt….” Getaran handphone klara dimeja sangatlah kencang membuat si empunya sontak melirik, berharap dan selalu berharap itu aldevo.
‘ calvin Anthony calling.. ‘
Klara menhembuskan nafasnya panjang, mau apa lagi bos nya ini menelepon.
“ ya.. “ klara mengangkat teleponnya, dia menghargai kebaikan pria diseberang telepon itu selama ini. karena selagi kondisi klara seperti ini calvin selalu support, bahkan keinginannya untuk mengundurkan diri dari perusahaan calvin tidak di setujui. Dia malah memberikan keringanan, cuti istirahat saja yang bikin seisi kantor kembali nyinyir dan menjadikan klara buah bibir setiap harinya. “ kenapa pak…mm maksut saya vin.. “
“ sibuk ya ? “
“ udah terlanjur diangkat teleponnya nih, masih berani nanya sibuk ? ada apasih? “ klara mulai nyolot, tapi nggak membuat calvin jera
“ sudah sehat belum bel…? “
Klarabela rindu aldevo. Panggilan itu mengingatkan dirinya. “ iya udah vin, kenapa ? besok aku udah mulai ngantor kok. Makasih ya sebelumnya kamu baik banget ke aku ? “
Pria diseberang telepon sana tertawa. “ aku seneng dengarnya. Udahlah nggak usah dibahas, aku berhak mempertahankan orang yang berjasa buat kantor juga kan ? “
“ bisa aja. “
“ kalau saya ajak makan malam, kamu mau nggak ? “
            Klarabela bengong. Ini maksutnya kencan resmi ya ? apa iya aldevo nggak bakalan kembali lagi nantinya ? tapi mau sampai kapan klara menunggu tanpa komunikasi sedikitpun, mana dia tahan ? apa iya dia mengiyakan ajakan calvin, apa nggak terlalu cepat ya ?
“ ehehe…boleh deh.. “ klara mengiyakan. Entahlah kekuatan apa yang masuk ke tubuhnya saat itu, dia seperti mendengar bisikan yang menyuruhnya pelan-pelan membuka hati kembali.
“ okay, I’ll pick you up honey… “
Klik .
Calvin menutup telepon, klara mematung.  Dia nggak lagi salah dengar kan ya barusan, calvin ingin menjemputnya sekarang ? mereka akan pergi bersama lagi setelah beberapa bulan yang lalu semenjak di restaurant elite itu untuk pertama kalinya dan kini terulang kembali ? pasti canggung sekali, apalagi calvin dan klara sempat renggang semenjak gossip merebak dikantor. Malu sekali kalau ingat beberapa bulan lalu. Tapi klarabela nggak mungkin menolak ajakan calvin hari ini biar bagaimanapun juga dia atasan klara toh nggak ada salahnya menurut dan membuka diri, untuk berteman lagi. Eh tapi tunggu dulu, barusan di telepon calvin memanggilnya ‘honey’ . ini pendengaran klara yang lagi bermasalah akibat depresi atau emang calvin serius sih.
            Tiga bulan sudah dia terpuruk, seperti ini lagi, lagi dan lagi. Klarabela bukan tipe seperti wanita lainnya yang lemah karena cinta, dia harus kembali tegar harus kembali bangkit. Ini bukan seberapa, klarabela harus berjuang lagi. Tuhan pasti punya rencana indah.
“ criing.. “ bagai disambar petir di tengah terik siang, klara mendekatkan dirinya  ke arah laptop yang di buka nya lagi tadi sekedar mengecek kalau-kalau ada email masuk dari aldevo. Dan tangan tuhan memang bekerja, ada email masuk saat ini
Subjek : rindu si cantik

And you always be my favourite.
Wish you were here..
            Klara ingin sekali menangis ingin juga loncat kegirangan layaknya anak sekolahan yang ditembak pacarnya tapi sekali lagi klara yakinkan dirinya, dia menarik nafas nya panjang. Kali ini dia harus kuat, aldevo pasti sesaat memberikannya kesenangan. Dia nggak boleh kegirangan. Klara nggak mau sakit lagi. Klara percaya rencana tuhan saja sekarang, kalau memang dia berjodoh dengan aldevo. Laki-laki itu pasti mencari nya dan kembali ke pelukannya sekarang. Tidak seperti sekarang, datang lalu menghilang.
Klara mematikan laptopnya.
Dia berjalan ke arah lemari pakaian, bersalin menggunakan dress sebaik mungkin untuk memenuhi makan malam calvin. Si boss yang baik hati dan teramat ramah kepada dirinya.

                  ***

            Calvin sudah tiba dirumah klarabela lima belas menit yang lalu, dia asik ngobrol diruang tamu dengan raffa dan anin tapi klarabela sendiri belum turun juga dari kamar, katanya sih lagi dandan.
“ sorry ya pak, lama. Bela kalo dandan gitu emang “ raffa yang resah sendiri, masalahnya kakaknya itu kalau janjian dandannya memang paling lama padahal tadi waktu raffa tanya dikamar males-malesan jawabnya mau ngedate sama calvin, gak semangat lah gak mood lah gak bergairah lah. Dasar perempuan.
“ iya ga papa raf, emang begitu kan kodratnya wanita. Bersolek yang lama demi membahagiakan pria nya. “ katanya sok bijak, raffa sama anin senyum geli aja. “ eh nggak usah manggil bapak ya raf, saya juga bisa bersikap santai kok. Lagian ketuaan ah..”
“ gak gitu juga kali pak…” raffa tertawa, bisa dibilang dia mulai nyaman dengan kehadiran calvin saat ini.
“ kalian kapan married ? “ tanya calvin lagi, anin merona malu
“ nanti vin, kalo bela udah nikah, menghormati lah..” tandas raffa segera
“ oya, kapan tuh? “
Lalu mereka diam seketika. Ups! Kayaknya calvin salah nanya deh
“ oh sorry, I mean semoga disegerakan ya. “ ralatnya lagi
“ terimakasih kak…” anin membalas sopan. Nggak lama setelah itu turunlah klarabela dari kamarnya. Malam ini klarabela nampak cantik sekali. Dress merah marun dan highheels nya serta rambutnya yang digerai membuatnya terlihat indah apalagi dia menggunakan make-up komplit tapi tampak natural. Calvin Anthony pun menganga dibuatnya, melotot dan tak berkedip. Cantik dan anggun sekali wanita ini. pujinya dalam hati
“ ayo vin… “ klara berusaha ceria. Anin mendekati, memperhatikannya dari ujung kaki sampai kepala.
“ kak, cantik banget kamu…” puji anin cepat.
“ ih apasih, aku malu tau kalian liatin gini. Biasa aja dong…”
“ aku suka kak liat nya nih, kapan-kapan bantuin aku make-up ya kak. “ pesan anin lagi akrab, klarabela mencibir.
“ yuk..” calvin menyodorkan telapak tangannya saat itu. Nggak ada perasaan takut ataupun cemas lagi saat itu. Disambutnya tangan calvin segera. Yatuhan dosa kah ia menghianati aldevo, tapi…. Klara nggak kuat menahan sakit menunggu kembalinya aldevo sekarang ini.
“ tunggu vin “ sebelum menutup pintu rumah, dia membalikan badannya. “ eh adik-adik sayang, kalian jangan macem-macem ya dirumah. Ayo bubar… pacaran di mall aja sana. Mbak ety lagi gak dirumah. Awas ya kalian nakal.” Pesan klara rempong, sempat-sempatnya. Bikin si raffa sama anin geli dibuatnya.
            Klarabela masuk mobil diikuti calvin. Kali ini dia yang menyetir tidak dengan supirnya lagi, mungkin biar makin romantis kali ya berduaan klara. raffa memperhatikan kakak kesayangan nya itu, ingin sekali rasanya menitikkan air mata. Kasihan sekali dia pada kakaknya itu, sudah bahagia lalu kembali terpuruk, begitu terus. Ada apa dengan pria-pria itu ? sebegitu jahatnya menyakiti klara. raffa jadi merasa bersalah memperkenalkan aldevo kepadanya, mereka dekat dan berani nekat pacaran backstreet. Klara mulai membuka diri dan melupakan kisah percintaannya dengan dhafin. Klara mulai menemukan keceriaannya. Hanya hitungan beberapa bulan, setelah itu nggak ada lagi cerita tentang aldevo. Nggak ada lagi kabar dari sahabatnya itu. Kediamannya yang didekat rumahnya pun kosong, dikampus juga nggak ada kabarnya padahal dia lagi sibuk skripsian kayak raffa. Kemana sebenarnya aldevo selama beberapa bulan ini ? setega itu kah dia menyakiti klara. dulu raffa ingat janji devo padanya, dia berjanji akan membuat kakaknya bahagia dan tidak terpuruk lagi mengembalikan keceriaannya tapi kenapa sekarang begini ? klarabela hancur lagi hatinya mungkin lebih dalam. Semoga saja apa yang dibilang klarabela tadi benar, tangan tuhan sedang bekerja menyiapkan kebahagiaan besar untuknya.
            Klara kebingungan sekali sewaktu mobil calvin berhenti di parkiran kantor, katanya mau dinner kok malah kesini ? oh mungkin mau ngeberesin berkas sebentar kali ya.
“ gak usah bingung, aku sengaja kok ngajak kesini. Yuk… “ mereka turun bersamaan, digandengnya tangan klara lembut. Dada klara berdesir hebat.
“ aku tutup ya mata kamu… “ pinta calvin, klarabela menurut saja.
            Mereka memasuki lobby kantor yang gelap. Entahlah, klarabela rasanya sudah pasrah kalau saja calvin bertingkah konyol kepadanya. Abisan udah terlalu depresi.
“ kamu boleh buka mata kamu, aku itung sampe tiga ya.. “ perintah nya ditelinga klarabela, dia manggut saja. “ satu…dua….tiga…”
“ surpriseeeeeee………………. “
Mata klarabela terbuka lebar, terbelalak kaget. Sangat kaget. Seisi lobby itu teman-teman kantornya. Ini lobby didesain khusus, dengan tulisan ‘welcome back klarabela’ dimana-mana. Teman-temannya bersorak teriak semangat. Satu persatu menghampiri memberi nya pelukan dan bersalaman. Klara masih diposisi mematung. Dia nggak percaya semua ini. seperti mimpi, dirinya kan tidak sedang ulangtahun kenapa ada perayaan seperti ini. bukannya teman-temannya masih kesel pada dirinya gara-gara calvin yang lagi baik-baiknya sama klarabela dan menomor satukannya ?
“ welcome back sayaaang….” Itu denis, dia memeluk paling meriah. Klara tersadar
“ ini kenapasih nis ? bingung gue.”
“ buat lo, kita semua sayang lo. Jangan kelamaan cuti. “ bisiknya
“ iya tapi.. “
“ makanya kalo cuti jangan ngalahin orang lahiran. Lama amat “ si denis asal banget jawabnya. Bikin klarabela meninju bahunya. apa yang denis bilang ada benarnya juga, ini pasti karena yang lain menyayanginya, nggak mungkin mereka terpaksa melakukan hal ini. ini juga pasti ulah calvin deh.
“ vin… “ dia melirik calvin yang sedari tadi Cuma senyum-senyum lega aja
“ for you bel. “ katanya pelan.
“ kamu nih vin, aku malu tau. “
“ biar kamu yakin sekarang, kalo selama ini yang sayang sama kamu banyak dan nungguin kamu buat seaktif dulu. Nggak Cuma aku loh.. “
            Klarabela tertawa kecil, calvin benar. Dia memang tidak seharusnya membenamkan dirinya terlalu berlarut-larut. Dia tidak seharusnya berfikiran negatif  ke rekan-rekan kerjanya.
“ kla, kerja lagii donngg…” itu si cia. Si biang kerok si tukang gossip tapi hari ini dia nampak sekali merindukan klara. klara membalasnya dengan senyum
“ iya neng, mamang jadi kangen neng. Gak ada yang mamang temenin lembur lagi sampe gelap nih neng.. “ mang junet ikut ambil suara dibarengin tawa geli teman-teman lainnya.
            Klara tersenyum, tangan tuhan bekerja secepat ini. raffa benar, kalau kita ikhlas dan mampu menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai masalah dan rintangan pasti hasilnya akan indah. Meskipun pelan-pelan. Terimakasih tuhan.
“ terima kasih ya buat semuanya, aku nggak nyangka banget bisa kayak gini. Mudah-mudahan besok atau lusa udah bisa ngantor kok…”
“ makasih juga dong sama bos…” timpal denis berteriak. Klarabela diam merona, menyimpan malu nya. “ yaudah, kalo malu, kita paham kok. Abis ini bubar nihhh…” jelasnya lagi. Dan benar saja, satu persatu mereka meninggalkan ruangan, tinggal lah calvin dan klara
“ aku…makasih banget buat usaha kamu. “ klara membuka suara, mendekati calvin. Pria itu menatap nya penuh kehangantan.
“ yah Cuma mau ingetin kamu aja sih kalo yang sayang sama kamu itu nggak Cuma satu orang, tapi banyak. “
“ maafin aku udah negatif terus ya ke kamu..”
“ never mind..” balasnya . “ suka nggak ? “
“ iya, banget. Maafin ya udah terlalu kekanakan banget sampe separah ini. kamu tuh baik banget sama aku, aku gak ngerti harus balas dengan cara apa. Jarang banget boss begini loh…”
“ iya, kangen liat kamu dikantor juga sih..”
            Dan disini klarabela merasakan degupan jantungnya yang cepat dan keras. Ini yang dia rasakan sewaktu bersama aldevo. Kenapa beberapa sifat mereka mirip. “ eh ini aku saltum dong berati vin.. “ klara mengalihkan rasa malunya.
“ gak kok, cantik. Lebih anggun “
 “ makasih ya. You help me twice “
“ oh ya ? yang mana ? “
“ yang cuti dan yang ini nihhh….” Klarabela mencibir. Ingin sekali dia peluk pria baik hati dihadapannya ini, tapi wajah devo muncul sekelebat dipikirannya.
“ yuk, dinner. Café sebelah yah..”
            Klarabela membiarkan tangannya digandeng calvin menuju café sebelah kantor mereka. Klarabela ingin membiarkan ini berjalan begitu saja adanya. Kenangan aldevo setiap harinya tidak mungkin ia lepas begitu saja. Lagian status mereka memang masih jadian, klara hanya ingin membuka hati untuk berteman lagi dengan calvin. Klara berhutang kebaikan pada orang ini.
“ harusnya aku nanya dulu ya, mau makan dimana. Salah kostum gini..” klara masih nggak enak hati sama penampilannya malam ini, apalagi Cuma ke café sebelah kantor, abisan dikirain ke restaurant bintang lima kayak pertama kali mereka ngedate sih
“ kamu nih, cerewet banget ya. Emang ada yang peduli ya dengan pakaianmu? “ si calvin mulai bisa bercanda, klarabela manyun. “ lagian aku terima kamu apa adanya kok, kalau kita nikah kan nanti kamu bakalan nggak pake busana didepan aku. Aku terima kok..”
“ calvinnnnn…” klara melotot banget, nggak nyangka aja ternyata calvin lebih ngeselin daripada aldevo. Calvin terkekeh.
‘kalo kita nikah ? ‘ kok omongan calvin to the point banget sih. Siapa coba yang mimpi nikah sama bilyuner kayak gini. Mau sih mau banget tapi kayaknya gak mungkin.
            Malam itu calvin bahagia, akhirnya klarabela bisa dibujuk. Akhirnya dia bisa ketemu langsung dan mengajakknya makan malam lagi. Rindu sekali dirinya dengan sosok klarabela ini. seandainya sedari dulu dia punya kekuatan seperti ini mendekatinya, pasti sudah sejak lama mereka bersama dan malah sudah berkeluarga. Tapi ini mungkin sudah di atur tuhan sedemikian jauhnya, semoga saja nanti akhirnya mereka bisa bersama.
“ jadi, aku harus balas dengan apa ya kebaikan kamu ini tuan muda ? “ klara mulai santai dan larut dalam suasana malam itu, dirasakannya sudah hilang penatnya perlahan meski kadang bayangan aldevo selalu terbesit dipikirannya. Namun dia selalu berusaha membuangnya jauh-jauh. Yah seenggaknya untuk sementara agar hari nya bisa kembali normal lagi.
“ nanti ya balas budinya yang mudah aja. “
“ maksut kamu? “
“ kita ketemu mama papa aku aja ya. Itu aja sih keinginanku “
“ lah ?”
 Klarabela melongo lebar, apalagi ini. kenapa si calvin persis banget sama kelakuannya devo ya. “ kenapa ? katanya mau balas budi… “ ledek calvin sembari mencibirkan bibirnya, klara diam.
“ yaudah deh. Daripada aku nurutin kemauan kamu yang aneh-aneh..”
“ masasih ? “ calvin menyeruput teh di cangkirnya sekarang, dia menaikkan alisnya, “ yah palingan Cuma minta di nikahin aja sih sama kamu..” tandasnya lagi. Klarabela yang lagi meminum orange juice nya mendadak keselek
“ uhuuuk….uhuukkk..prrrrttttt “ dia tersedak hebat. Ngaco amat ya calvin ini, berani bener udah ngomongin nikah aja. Katanya dalam hati
“ calm honey, its just a joke. Tapi kalo tuhan maunya kamu sama aku jodohnya, aku bisa apa….”  Klarabela makin gak karuan saat itu. Ini yang nggak dia suka dari ‘kebaikan’ yang dibalas dengan ‘cinta’.  Nggak mungkin dia bisa secepat itu melupakan aldevo, sedangkan mereka memang belum pisah kok
“ stop it. Aku pulang nih… “ ancam klara jadi salah tingkah. Dress nya malam itu sedikit basah karena tersedak tadi, calvin melihat klara seperti itu hanya bisa tertawa geli.
“ oke sekarang bahas kantor aja ya, kamu ini boss aku loh. Nggak ada bahasan yang lebih bagus apa ya dari yang barusan…”
“ kamu pikir aku orangnya bercanda ya bel ? “
“ tapi kamu tau kan aku masih….”
“ aku nggak pernah maksa buat kamu ngelupain dia kok. Aku Cuma mau dekat aja sama kamu sekarang bel. Kantor sepi banget nggak ada kamu..”
“ gombal ya. Kan cewek-cewek dikantor heboh demen sama kamu.”
“ tapi nggak ada yang menarik hatiku sebegini hebatnya loh seperti kamu. “ potong calvin tegas. Klara melihatnya lurus. Pria seumurannya ini memang terlihat serius kepadanya tapi tuhan, klara nggak bisa. Hati nya masih menginginkan aldevo kembali, seberapapun lamanya dia menghilang.
“ semoga nantinya tuhan mendengar doaku bel. “
            Hati klarabela rasanya ingin sekali terbang tinggi sekali. Perasaan aneh ini muncul kembali, jatuh cinta. Mau jadi apa klarabela sekarang ini. cepat sekali dia berganti pasangan, apa yang akan dibicarakan orang sekitarnya ya. Apalagi kalau si dhafin sampai tahu kalau akhirnya klara pisah dan di tinggal pergi aldevo, si pacar berondongnya.
                                               
***
Subjek : I love you
            Kamu yang terindah dan terbaik dari kehidupanku selama ini Anastasia klarabela. Semoga tuhan menjagamu untukku. Mungkin tangan ini tak bisa lagi memeluk dan mendamaikanmu tapi doa ku yang mewakilinya sayang…
Selamat ulang tahun…..

Regards,
Aldevo putra.

            ‘ cring.. ‘ pukul lima sore itu sebuah email masuk, klarabela yang masih lembur buru-buru melihatnya. Matanya kini tertuju ke layar. Hancur. Ingin sekali air matanya mengalir lagi setelah sekian lama kering, tapi dia berusaha menahannya. Dia harus kuat. Dia harus kembali menjadi klarabela yang tegar dan tak lemah oleh apapun.
            Dimana aldevo selama ini. dimana dia. Ribuan email masuk disaat hati nya sudah mulai lelah dengan hal yang tidak mungkin ini. disaat dia sudah bisa membuka hatinya untuk seorang pria baik hati dan amat mencintainya, yang rela memberikan waktu sibuknya untuk menemaninya. Kenapa aldevo hanya muncul melalui email ? kenapa dengan dirinya ? sehat kah dia ? kenapa dengan anak muda itu ?
            Enam bulan berlalu. Selama itu tidak ada yang tahu satu pun keberadaannya. Selama itu hubungannya pun tidak jelas, rasa sayang yang banyak pun berkurang perlahan. Selama ini dia menghilang, kemana dia ? untuk apa dikirimnya email berkali-kali kalau menunjukkan dirinya pun dia tidak sanggup ? lalu untuk apa dia pernah hadir dikehidupan klara ?
            Hari ini tepat klara berusia 28 tahun, dia tidak se excited seperti biasanya merayakan hari jadinya. Biasa saja. Dia bahkan lupa dengan ulang tahun nya sendiri hari ini. klara bahagia biarpun tidak jelas dimana keberadaan dirinya tapi aldevo masih mengingat hari lahir klara. sore itu dia sengaja lembur, kerjaannya banyak.
“ belaaa belaaaaa beleeeeeee….happyyy birthdaaay sayaaanggg…” rombongan sirkus menyeruak masuk ke ruangan kerjanya. banyak sekali yang hadir.
“ kerjaa teruuusss….nikah dong nikaah…tuwir lo ah. “ si denis masuk heboh sendiri. Klara berdiri. Raffa dan anin ada sore itu, anin yang membawa cake menghampiri klarabela
“ make a wish kak… “ kata anin cepat. Klara bela nampak mencari seseorang, matanya mengedar di antara kerumunan banyak orang itu. Dia bête.
“ cari apa sih kak ? “ kata raffa reseh.
“ boss lagi meeting diluar klaaaaa “ cia yang tahu benar apa yang dicari klara langsung paham, yang disindir malu dan buru-buru menurut. Memejamkan mata lalu meniup lilin ulang tahunnya.
            ‘ tuhan aku percaya rencanamu lebih indah dari rencana apapun. Kau lah yang memiliki alam semesta ini, bahagia kan aku selalu berikan untukku kekuatan jasmani dan rohani, berikan aku tempat bersandar paling nyaman nantinya ya tuhan pemilik seluruh alam semestaku ini. amin ‘
            Begitu lilin ditiup sorak sorai bergembira pecah diruangan sore itu, klara nampak biasa meskipun tawa nya lebar. Ada yang kurang.
“ thanks ya, gue aja lupa hari ini ganti umur..” dia tertawa. Seperti terpaksa
“ cari apa sih bel ? “ denis ikut geregetan, karena sedari tadi klarabela memang nampak gelisah dan nggak bersemangat banget. “ dibilang si boss lagi ada meeting, emang udah cinta mati banget ya..” skakmat ! klara mati kutu di hadapan teman-teman dan adiknya. Dia malu banget
            Tumben banget sih calvin absen di acara seperti ini, kan biasanya dia yang jadi penyalur ide. Kemana  ya dia? Masa dia lupa ulang tahun kekasih nya.
“ selamat ulang tahun ya kak… “ raffa mendekat. Mencium pipi kanan kiri serta kening kakak kesayangannya yang masih bengong. “ semoga bahagia selamanya ya kak..”
“ makasih ya faa.. “ klara memeluk adiknya erat. Sayang sekali dia kepada adiknya ini, selalu saja perhatian dan peduli.
                        Klara diam sesaat. Dia menarik nafasnya panjang, dada nya kembang kempis. Dia harus kuat, tegar. Dia harus membuang siapapun yang membuatnya sakit dan kecewa di tahun lalu. Ini usia nya yang baru, dia harus bangkit dan hidup kembali dengan suasana baru tanpa dibayangin rasa sedih ataupun kehilangan. Tuhan sudah menyiapkan yang paling terbaik. Dan klarabela selalu mohon ini adalah jalinan asrama nya yang terakhir dan yang direstui tuhan agar berakhir indah. Amin
            “ happy birthday sunshine… “ seseorang muncul dari balik punggung klarabela. Dia membalikkan badannya semangat.
“ katanya kamu…”
“ kamu yakin aku nggak dateng ya ? “ orang itu tersenyum lebar, suara cie-cie terdengar jelas dan kencang saat itu juga. Klarabela tersenyum malu, wajahnya memerah. Ini indah sekali
“ dan aku nggak mungkin absen dong di ultah calon istri aku…” dia memberikan rangkaian bunga mawar besar, klarabela menerimanya haru.
“ makasih sayang….” Ya, sayang. Klarabela menyayangi pria ini sekarang. Sayang sekali. Hidupnya kembali berwarna setahun belakangan ini. indah sekali. Dia mampu mengisi kekosongan hati dan membiarkan luka-luka ini lenyap perlahan. Dan yang hebatnya, dia mampu memberikan kekuatan klarabela menerima lamarannya. Calvin Anthony, pria yang mengisi hari nya setahun ini, yang menyayanginya seperti aldevo nya dahulu yang memberinya kenyamanan dan kepercayaan yang luar biasa. Terimakasih tuhan
“ aku punya sesuatu buat kamu… “ kata calvin saat itu juga. “ ikut aku yaa..”
Klara mengernyitkan dahinya bingung. “ thankyou ya semua. Kalian emang paling bisa deh di andalkan..” calvin menaikkan jempolnya ke arah kerumunan staff kantor dan lainnya. Mereka pun tersenyum mengiyakan
“ ciyee… mau kemana sih boss buru-buru amat.. “ denis mulai reseh. Tapi dia ikut senang juga. Akhirnya klarabela mendapatkan seseorang yang terbaik sekarang ini, seenggaknya ada yang menjaganya kalau denis sudah tidak bisa sedekat dulu dengannya.
“ pengen saya DP sih rasanya… “ calvin menjawab ngawur bikin yang lain ngakak geli banget, si klarabela mencubit perut calvin sampai dia kesakitan.
            Sesudah pamitan sama yang lain, akhirnya calvin dan klarabela meninggalkan kantor. Klara tetap membawa ragkaian bunga mawar dari calvin. Klara nggak merasakan ada yang aneh, dia malah kepedean kalau si calvin mau mengajaknya candle light dinner atau mau memberi nya kejutan lain yang lebih indah dan spektakuler. Sore itu Jakarta sedikit lancar, dan calvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Klara bingung sekarang, kenapa si calvin diam saja sedari meninggalkan kantor. Palingan sesekali menoleh dan tersenyum kecil saja.
            Mobil audie hitam calvin menepi di parkiran rumah sakit mewah dibilangan Jakarta selatan saat ini, klara nampak bingung sekali. Ini maksutnya apa yak kok dibawa ke rumah sakit ? kenapa nggak ada romantis nya amat di bawa kerumah sakit ? apa lagi sih rencana si calvin ?
“ gak usah bingung sayang, kamu aman sama aku. Yuk.. “ calvin menenangkan perasaan campur aduk klara saat ini. dia mengandeng tangan calon istrinya itu erat sekali. Klara masih diam diposisi bingungnya sekarang. Dia tetap membiarkan calvin genggam tangannya memasuki rumah sakit.
            Klarabela merasakan jantungnya berdebar saat ini, kencang dan cepat. Ada perasaan ngilu dan nyeri sedikit. Keringatnya mulai menetes, ada perasaan takut, ada perasaan yang tak bisa diungkapkan saat ini. ada apa ya dengannya ? kenapa calvin membawa nya kesini ? apa mungkin dia mau jenguk dulu abis itu mengajaknya dinner ya ? ah.. ikut aja deh.
            Calvin semakin mengenggam erat tangan klarabela dan sesekali memandang kekasih nya itu, klara makin nggak paham. Klara merasakan ada yang berdesir di hatinya sekarang memasuki lorong ruang ICU. Matanya panas, kayaknya airmata nya mau keluar. Tapi kenapa ya ? .
            Ada beberapa orang di depan ruang ICU yang dia sangat kenal, tapi klara belum merasa aneh. Calvin juga belum mau membuka suaranya, dan mereka semakin dekat. “ sayang, aku mau ajak kamu ketemu seseorang… “ calvin berdiri berhadapan dengan klara. klara bingung dan nggak tahu harus jawab apapun, ini pasti ada yang aneh, ini pasti sesuatu yang besar deh.
            Dokter memberi arahan kepada calvin dan klarabela untuk memakai baju steril dan masker. Klara menurut pula, klara saat ini merasakan sakit luar biasa di dadanya tapi klara nggak tahu apa yang terjadi sekarang. Calvin membuka ruang ICU, dia menggandeng klara pelan memasuki ruangan itu. Sunyi. Senyap.
            Klarabela mematung seketika. Airmatanya jatuh saat itu juga, mengalir deras tanpa bisa mengeluarkan suara. Sakit sekali. Klara tidak mampu membuka mulutnya sekarang, kelu dan susah.
“ dia yang minta semua ini selama setahun, sayang. Jangan kamu bikin dia merasa sakit dan terus menyalahkan nya ya… “ calvin berbisik lembut. Klarabela terisak hebat.
            Itu aldevo. Dia terbujur lemah tidak berdaya di atas tempat tidur ruang ICU, ditubuhnya banyak sekali alat rumah sakit, banyak kabel. Tangannya banyak sekali infus, dan sepertinya pernafasan pun dia dibantu alat. Ada apa dengan pemuda ini ?
            Rasanya seperti kehilangan nafas saat ini. kayak dilempar batu besar ke dadanya, sakitnya bukan main. Di ruangan ini kah selama ini aldevo menghabiskan waktunya ? selama apa dia berbaring ? kenapa dengan dirinya ? dan ada hubungan apa dirinya dengan calvin ? apa lagi yang kau rencanakan tuhanku…
“ dokter bilang mungkin ini saat terakhirnya bel…”
Klarabela ingin sekali teriak sekencang mungkin, tapi dia gak mampu. Dia menangis sejadinya didalam pelukan calvin. Sakit sekali. “ aku gak mau jadi orang paling bersalah kalo sampe hati ngebiarin kamu nggak pernah tau keberadaan dia…” calvin merintih. “ maafin aku, ini bukan mauku. Aldevo orang baik bel, dia orang yang baik sekali. Sepupuku yang paling dekat dan banyak sekali impian indahnya. Tolong kamu…”
“ aku udah maafin semua nya vin, semuaaa…” klara terisak. Sakit memang dia rasakan sekarang, tapi klara nggak mau membiarkan kesakitan aldevo semakin panjang.
“ dia yang mau aku menyayangi kamu seperti dia dulu bel….”
            Klara melepas pelukan calvin saat itu. Dia menghampiri aldevo di atas ranjangnya. Ya tuhan, kasihan sekali dia sekarang. Aldevo nya yang ceria, yang pecicilan dan selalu gembira kini terbujur tidak bertenaga dan tidak memiliki semangat seperti biasanya. Dia sakit apa selama ini tuhan ? kenapa aldevo menutupi semua nya. Kenapa baru sekarang klarabela mengetahui semuanya ? di saat dia baru bangkit dari terpuruknya dan berusaha melupakan devo. kenapa laki-laki ini muncul dengan kondisi seperti ini. ingin sekali memeluknya, klara nggak bisa membohongi dirinya juga sekarang dan calvin pun paham. Klara merindukan sosok pemuda itu.
“ hai anak muda… “ klarabela mendekat, mencoba menyentuh jemari pemuda itu yang mulai bengkak karena infusan. Dia nggak kuat, air matanya terus mengalir, sesekali terisak mengatur nafasnya. “ jadi gini cara kamu bikin aku kangen ya….” Klara kembali dalam memori indahnya terdahulu. Dia tertunduk kelu. “ kamu itu hebat vo. Terimakasih udah pernah hadir dan membuat hidupku berwarna….”
            Calvin diam membiarkan itu semua terjadi, tidak ada rasanya cemburu. Calvin tahu benar rasanya klarabela sekarang. “ terimakasih buat kebaikan dan perhatian kamu. Doain ya pernikahanku lancar…” klara berusaha mengatur setiap katanya, dia masih sesak sekali. “ aku sayang sama kamu, sejauh apapun kamu pergi dan selama apapun kamu kembali nantinya. Terimakasih buat semuanya. Kamu bilang emang benar, sekuat apapun kita berusaha bersama kalau tuhan mau kita pisah, kita bisa apa… “ calvin menghampiri klara. “ rencana tuhan memang lebih indah dari rencana yang kita buat, kalau kamu mau istirahat sekarang, aku ikhlas…. “ klarabela menghapus air matanya, mencoba tegar di tengah sedihnya. “ semoga tuhan memberikan tempat paliiiing indah untuk orang sebaik kamu…. “
            Aldevo merasakan kehadiran sosok klarabela, air mata nya menetes. Alat di monitor pun sudah tidak bisa dikendalikan lagi, nggak lama kemudian aldevo menutup matanya perlahan. Dan rapat. Klarabela menangis sejadinya ke dalam pelukan calvin. Sakit dan pedih. Orang yang amat dia cintai, orang yang amat misterius yang penuh kejutan dan selalu bisa membuatnya tertawa yang selama ini menghilang dengan lamanya kini sudah dia temukan. Tapi tidak dengan kondisi seperti sedia kala yang ceria dan enerjik, kali ini dengan kondisi yang sudah terbujur kaku dan tidak mampu berbuat apapun. Aldevo meninggal.

* * *

            Sore itu sedikit mendung tapi prosesi pemakaman aldevo harus tetap dilaksanakan. Semua sudah berkumpul. Klarabela menangis tidak berhenti dibalik kacamata hitamnya. Keikhlasan hatinya kemarin ternyata seperti ini. pencarian nya selama setahun ternyata berakhir begini, dia kehilangan aldevo selamanya. Klarabela kehilangan pemuda nya yang enerjik dan yang selalu ia rindukan kehadirannya. Kini dia pergi untuk selamanya, bukan untuk mengurusi skripsi atau urusan lainnya. Kini dia sudah bersama tuhan.
            Banyak sekali yang datang mengantar aldevo ke peristirahatannya terakhir kali sore itu. Dia memang orang yang baik, pasti banyak rekannya. Papa dan mama klara pun turut hadir sore itu, setelah raffa menelpon mereka buru-buru melesat ke Jakarta. Tapi yang bikin klarabela sadar selama ini, ternyata café star itu milik aldevo. Pantas saja dulu dia akrab dengan semua waitress nya sampai dipanggil bapak, dan kini mereka hadir disini. Semua menangis, terisak, ikut larut dalam kesedihan mendalam yang dirasakan klara. calvin si sepupu yang baru ketahuan kemarin pun menangis melihat saudaranya dimasukkan di liang lahat. Dia masih nggak nyangka aja..
“ yang tenang ya vo… “ klarabela berbisik lemah disela tangisnya sewaktu bunga mulai ditabur di atas makam aldevo. Kini hatinya sedikit tenang begitu melihat senyum calvin disampingnya, klara yakin sekali semua memang sudah tuhan atur sedemikian jauh dan rapihnya. Orang yang tidak pernah dia dekati dan tidak terbayang sama sekali dihidupnya kini akan menjadi calon suaminya. Dia yang akan menggantikan kehadiran aldevo, sepupunya.
            Usai pemakaman klarabela dan calvin meluncur ke arah taman kota sesuai permintaan klarabela. Mereka duduk di bangku taman.
“ maaf kalo selama ini aku nggak cerita, ini kemauan almarhum… “
            Klara membalas tatapan calvin. “ maafin aku udah jauh banget berbuat seperti ini ke kamu, bukan aku mau memanfaatkan sesuatu tapi aku… “
“ terimakasih ya sudah hadir untukku. Aku sudah ikhlas dengan semua ini. aku nggak mau bikin devo nggak tenang. Tuhan pasti menempatkan nya disisiNYA ditempat yang paling nyaman dan baik. “ klara berucap lirih. Dia nggak boleh menangis dan berlarut dalam kesedihannya sekarang. Biar bagaimanapun juga dia harus mengikhlaskan aldevo pergi, dia pasti bahagia sekarang. Klara harus bisa membuang rasa rindu nya jauh-jauh.
“ nanti aku tunjukin kamu sesuatu ya. “ calvin merangkul kekasihnya itu. Dia mencium kening nya lembut. Salut sekali dia dengan wanita ini. cepat sekali dia berusaha bangkit dari sakit dan pedihnya kehidupan yang dia jalani, nggak salah pilih emang. “ bantu aku ya untuk membimbing kamu, aku emang nggak bisa seperti aldevo. Tapi aku pasti usaha bikin kamu…klepek-klepek deh. “
“ apaan sih kamu iniii !!! “ klara sewot banget. Calvin ini selalu ada aja ulahnya. Diwaktu begini masih aja bercanda. Dan mereka pun tertawa bersama.
“ ini ada titipan untuk kamu. “ calvin memberikan notebook silver ke arah klarabela, wanita itu menerimanya bingung. “ itu punya aldevo. Isinya tentang kamu. Semua. Kalo kamu kangen dia, dibaca aja..”
Klarabela menitikkan air matanya. Sedih campur haru dan nggak menyangka saja. Calvin baik sekali. Dia nggak membiarkan klarabela melupakan aldevo secepat mungkin, dia malah berkata demikian. Ya tuhan inikah jalan takdir darimu?
“ seenggaknya tuhan nggak ngebiarin aku sendiri sekarang. Makasih sayang udah baikkk dan sabar banget sama aku…” klarabela menghambur ke dalam pelukan calvin saat itu juga, dia terisak hebat. Tangisan bahagia nya.

Malam ini acara tahlilan dirumah orang tua aldevo. Klarabela hadir beserta calvin, raffa, anin dan mama papa. Biar bagaimanapun juga aldevo adalah tetangganya dulu di bandung. Hari pertama tahlilan pun banyak yang hadir. Teman kampus, karyawan café dan teman lainnya, hampir penuh isi rumah. Sebelum acara tahlilan di mulai klara duduk di bangku taman dekat kolam renang, dibangku itu dimana dia dulu menghabiskan sore bersama aldevo. Calvin membiarkan wanita nya itu sendiri.
            Klara membuka notebook milik aldevo perlahan. Dihalaman pertama itu ada fotonya dahulu. Ada raffa dan aldevo kecil umur setahun dan ditengahnya klarabela menggunakan baju SD nya. Ah ingat sekali anak ini masa kecil mereka. Lagian rajin banget sih punya notebook segala. Dasar emang orang aneh. Batin klara geli sendiri dalam hati
“ bela, rasa sayang dan kagum aku ke kamu nggak akan pernah habis sedikitpun. Dari mulai kita masih kecil sampe akirnya ketemu lagi di Indonesia. Mungkin waktu kamu baca tulisan ini aku udah nggak bisa liat kamu senyum-senyum lagi. Aku aneh ya ? kerajinan banget ya ? hahah biarin ya… biar kamu tau. Rasa sayang dan pembuktian cintaku ini nggak pernah bisa ditulis dan dijabarkan satu buku ini. aku sayang kamu, melebihi apapun… “
Klara diam mematung, dia merasakan angin berdesir dibelakang pundaknya sore itu. Dia mencoba menenangkan diri.
“ dan semua impianku menjadi kenyataan waktu kamu bilang iya. Rasanya dunia ini milik aku sama kamu. Rasanya di sisa umurku ini aku ingin sekali buat kamu bahagia, biar kamu selalu ingat aku. Kamu nggak perlu takut, tuhan sudah menyiapkan gantinya. Terimakasih untuk keceriaan kamu selama ini. kamu yang bikin aku semangat hidup lagi, kamu yang bikin aku selalu semangat saat kemoterapi, kamu yang selalu bisa bikin hari aku berwarna dan selalu semangat meminum setiap obat-obatan yang masuk tiap harinya. Aku lemah ya, maaf ya aku nggak bisa jagain kamu kayak yang aku janjiin dulu ke kamu. Dokter memvonis umurku tinggal beberapa bulan lagi, kanker darah yang aku punya setahun ini cepat banget kerjanya. aku sekarang nggak sekuat dulu. Aku malu…”
Klara menangis. Jadi selama ini, pemuda itu berusaha sekuat tenaga berusaha seperti orang sehat dihadapannya ? jadi selama ini aldevo lah yang sebenarnya memiliki kesakitan yang lebih parah darinya ? jadi selama ini dia berusaha menutupi sakit nya ini. kenapa ?
“ aku nggak suka liat kamu deket sama laki-laki lain. Termasuk calvin. Dia sepupuku. Aku tau kalian sepantaran dan aku nggak suka. Tapi aku nggak boleh egois, calvin memang pilihan paling baik untuk kamu bel. Aku percaya dia, kamu ada di orang yang tepat. Kalau kita nggak bisa hidup bahagia berdua seenggaknya aku udah bisa liat kamu bahagia sama calvin. Aku ikhlas lahir bathin, aku tenang. Aku menghilang bukan karena aku jahat dan nggak peduli sama kamu, tapi aku nggak mau jadi beban untuk hidup kamu. Kamu udah terlalu banyak terluka. Aku minta maaf…”
Klarabela tidak mampu menahan air matanya, dia sesenggukan membaca tiap lembar tulisan rapih tangan aldevo…
“ kalau nanti kamu baca ini kamu harus cobain masuk ke kamarku deh. Disana kebaikanku, surgaku dan betah banget didalamnya. Disana aku menghabiskan waktu sehabis kemoterapi yang sakitnya bukan main. Aku botak sekarang bel, aku gak seganteng dulu. Aku malu dan nggak siap ketemu kamu. “
Klara berdiri dari posisi duduknya, dia lemas. Rasanya tidak kuat menggerakan tubuhnya tapi klara penasaran sekali dengan isi tulisan aldevo ini. dia menuju kamar aldevo, dia mencari bobby. Sepupu aldevo. Agar mengantar nya ke kamar aldevo. Dia ingin melihat.
Klara membuka perlahan pintu kamar aldevo, ada angin yang berhembus kencang menyeruak dari kamar. Adem dan sejuk. Aldevo pasti ada disini. Bobby menunggu di depan pintu kamar. Klara masuk perlahan, matanya melebar seketika, panas yang dia rasakan. Air matanya mengalir di atas pipi. Klara menutup mulutnya, nggak percaya. Dia sesenggukan.
            Betapa tidak percaya nya klarabela saat ini melihat isi kamar aldevo. Didindingnya penuh dengan foto dirinya. Itu hasil jepretan dari kamera miliknya, bahkan klarabela pun nggak menyangka tiap jepretannya. Itu dilakukan nya diam-diam. Banyak sekali. Dan ada satu yang paling besar seukuran lukisan terletak ditengah kamar. Klarabela menangis tidak percaya. Sebesar ini rasa sayang aldevo kepadanya. Secepat ini pula dia harus pergi tanpa ada sepatah katapun sebelum kepergiannya.
“ tante, ini om evo yang foto sendiri. Tante gak sadar kan “ bobby menghampiri klara yang duduk di atas ranjang aldevo. Klarabela mengganguk mengiyakan. “ di kamar ini om sering kesakitan, kadang suka teriak sendiri. Kasian tan…” bobby ingin menangis, klarabela mengusap kepala anak itu.
            Klara masih mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia baru tahu sekarang, kenapa dia nggak diizinkan tahu semua, kemana dia sewaktu aldevo membutuhkan kehadirannya ?kemana dia sewaktu aldevo kesakitan.
Klara tertunduk lunglai, dibuka nya halaman terakhir notebook itu..
“ dan aku berterima kasih sama tuhan sudah diizinkan sejauh ini mengenal kamu penyemangatku. Aku nggak pernah marah sama takdirnya, ini pasti jalannya. Aku ikhlas, kalau kamu tahu. Belajar ikhlas itu memang susah, tapi aku selalu percaya dibalik semua itu ada keindahan. Bahagia ya sama calvin. Kakak ku. Dia yang bisa bikin kamu bahagia utuh menjadi wanita. Punya keluarga tanpa harus diam-diam dan memiliki anak-anak lucu seperti impian kamu yang selalu gagal dulu. Tolong ceritakan ke mereka nantinya, tentang aldevo yang ngeselin ini ya. Aku sayang kamu, aku mengagumimu melebihi apapun. Bukan jarak yang memisahkan kita, tapi tangan tuhan. Ia bekerja lebih hebat…”
Klara nggak kuat lagi, dia menangkap sosok seseorang di hadapannya. Itu calon suaminya. Dia tersenyum lebar. “ akuu…aku…” klarabela terbata, dia nggak kuat bicara. Calvin menyentuh lembut kedua pipinya, memeluknya dalam dan sayang.
“ aku sayang kamu seperti aldevo menyayangimu terdahulu. Jadilah orang yang aku kagumi selalu sayang…. “ calvin menambah erat pelukannya. Klarabela terisak hebat dalam tangisnya.
            Sekarang klara tahu apa yang dimaksut dengan ikhlas yang ilmunya susah itu. Klarabela harus mengilkhlaskan sesuatu yang pergi untuk mendapatkan yang lebih baik lagi. Klarabela mantab melangkah ke pelaminan bersama calvin tanpa menutup semua kenangan aldevo nya.


* * *
Hari pernikahan pun tiba…
            Calvin dari dua hari sebelum pernikahan sudah nggak bisa tidur, pikirannya semrawut, panik dan grogi berat. Perutnya terasa mules, ini nyebelin ngelebihin ketemu klien-klien bawel. Mami papi berusaha menenangkan, dan yang menambah kuat serta kembali muncul semangatnya saat ia melihat mami aldevo hadir. Calvin tidak boleh mengecawakan aldevo.
            Calvin menuruni lift keluar dari kamar hotel ke arah ruang resepsi di adakan. Acara pernikahan itu diselenggarakan di hotel milik om nya sendiri. Dan terkesan mewah, ya maklum namanya juga pesta bilyuner muda.
“ selamat ya sayang, mama senang sekali..” mama menciumi anak perempuannya itu yang sebentar lagi bakalan melepas masa lajangnya. Mama terharu, akhirnya perjuangan klara berakhir bahagia juga. Akhirnya dia mendapatkan sosok pria yang baik serta sesuai impiannya.
“ gak boleh nangis ah, ntar mascara bela luntur nih maaa… “ ledek klara. sebenernya dalam hatinya juga sedih banget, apalagi kalau ingat dia bakalan meninggalkan raffa sendirian dan pindah ke rumah calvin.
“ selamat ya kak, jangan sombong lohhh..” raffa mengenggam tangan kakaknya erat, dia menahan air matanya. Dia berusaha nggak nangis biar kakaknya nggak ikutan sedih. Padahal mah kalau mau dijabarin sekarang, raffa nggak ikhlas banget.
“ ih udah ah, aku nggak suka begini nih. Biar gimana pun nanti, aku tetep punya kalian kok. Bela kalian, oke…” klarabela nyengir lebar menahan sedih.
            Akhirnya sebentar lagi dia resmi menikah. Menjadi nyonya calvin Anthony dan melepas status lajang serta predikat perawan tuanya. Akhirnya dia bisa merasakan kehidupan sesungguhnya seperti yang dia harapkan dulu bersama kekasih-kekasihnya. Menikah, bahagia dan memiliki banyak anak.
            Klarabela yakin sekali dengan pilihannya kali ini. calvin lah yang terakhir, orang yang nggak pernah dia pikirkan sebelumnya. Orang yang nggak pernah terbesit jadi bagian hidupnya. Dia bakalan jadi istri seorang pemilik perusahaan besar tempatnya bekerja. Ya tuhan, rencanamu memang selalu indah.
“ udah siap nyonya Anthony ? “ seseorang mengulurkan tangannya kehadapan klarabela yang lagi ngelamun, dia geragap.
“ lah, mama raffa papa anin, kemanain ?”
“ keluar. Lagian kamu ngelamun mulu…” kata calvin cepat. “ yuk ah, payah banget nih. Hobi sih ngelamun, awas ya ntar malem aku dianggurin…”
“ calviiinnn….” Klarabela menjerit kesal, calvin terkekeh.
            Calvin dan klarabela berdiri berhadapan. Kedua nya saling pandang, dalam dan lurus. Cantik sekali calon istrinya ini, betapa beruntungnya dia bisa memperistri klarabela akhirnya. Perempuan yang diam-diam memang sedari dahulu sudah dia taksir. “ kamu mau ngapain ? “ tanya klarabela panik.
“ mau……” dia mendekatkan wajahnya. “ mau nge-DP kamu.”
“ ihhhh..calvinnn…” dia mendorong calvin kencang. Calvin tertawa geli sekali
            “ kamu nih pikirannya kotor mulu sih, bisa nggak sih sabaran dikit…”
“ aku nggak bisa sayang, hawa nya tuh kalo deket kamu mau nyosor aja.. “ kata dia asal disertai tawanya yang geli. Klara diam memperhatikan. Aldevo memang sudah tiada, tapi sikap nya yang enerjik dan kadang ngangenin yang ceplas-ceplos masih suka hadir lewat calvin. Sikap mereka hampir mirip. Memang klarabela tidak bisa melupakan setiap detiknya bersama pemuda nya dahulu tapi mulai sekarang klara akan memulai kehidupan barunya dengan calvin. Semoga tuhan merestui.
“ yuk ah, abisan kamu lama banget dandan nya sih…”
            Dan tuhan memang merestui mereka. Proses akad nikah pun berjalan lancar tanpa hambatan. Calvin mampu menguasai ijab qabul sebaik mungkin, sewaktu semuanya berkata sah. Meluncur lah tangis kebahagiaan klarabela saat itu juga. Dia memperhatikan sekitar, dia tersenyum melihat aldevo sekilas di sudut ruangan hotel tersebut. Akhirnya dia resmi menjadi istri, akhirnya dia menjadi wanita seutuhnya. Akhirnya dia merasakan akhir bahagia perjalanan panjangnya. Terima kasih tuhan…

‘ dan aku sadar, hadiah terindah yang pernah aku punya sekarang adalah suamiku. Tuhan maha mendengar doa-doa hambanya, tangannya bekerja lebih baik dari tangan hambanya. Terimakasih tuhan untuk nikmatMU..’












No comments:

Post a Comment