Seperti biasa pukul lima sore klarabela duduk
di pojokan sofa café stars, dia sendiri dan nampak gelisah. Mata nya sibuk
mengamati layar handphone nya sambil sekali kali memainkan.nggak ada satupun
panggilan masuk ataupun pesan singkat dari kekasihnya. Dhafin.
Ya, klarabela hari ini ada janji ketemuan sama kekasih
kesayangannya itu di café ini. Tempat favorit mereka dari awal pacaran sampe tiga tahun
ini. Klarabela nampak kesal, ia tahu dhafin emang sering telat datang tapi kali
ini keterlaluan, sudah dua jam dia menunggu tapi nggak ada juga kabar dari
kekasihnya itu.
“vaa” dia memanggil eva, waitress yang sudah akrab
dengannya, si empunya nama buru-buru menghampiri. “ gue pesen hot chocolate aja
ya va “
“ mm nggak nunggu yayang nih mbak? “ Klarabela menggeleng
mantap
“ nggak va keburu kering tenggorokan gue nanti “ tandasnya
cepat. Eva tersenyum kecil. nggak lama dia pergi dari hadapan klarabela.
Di meja
itu kemudian dia menenggelamkan kepalanya, rasanya campur aduk sekarang. Antara
kesal mau nangis dan nyesel kenapa tadi nggak dengerin nasihat teman-teman
kantornya saja. Kalau saja dia tadi nurut buat ikut menghabiskan voucher menang
tender dan malah merelakan cabut kantor lebih awal demi dhafin yang kalau
janjian pasti ngaret seabad, pasti semua nggak akan kejadian begini.sekarang
sudah dua jam berlalu tapi nggak juga itu orang muncul.
“ klara “ ada yang memanggilnya,dia berdiri didepan sofa
klara,diangkatnya kepalanya segera. Raut wajahnya terlihat sumringah. Itu pasti
dhafin. Nggak lama kemudian begitu dilihatnya jelas,siapa yang datang. Hilang
lah sumringahnya.
“ ah elo faa. “ katanya bête. Itu adik laki-lakinya, Raffandiva.
Yang kuliah disemester akhir jurusan hukum. Adiknya buru-buru duduk.
“ nungguin dhafin ya lo. Segitunya banget sih lo. Tuh
muka macem jomblo ngenes aja sih dipojokan café sendirian gini. Abis nangis ya
lo kak” dia mengacak-ngacak rambut cepolan kakaknya, kakaknya cemberut.
Dibenahinya lagi rambutnya, ya maklum lah biarpun jarak mereka tujuh tahun tapi
keakrabannya emang sudah seperti orang pacaran, malah klara akuin kalau sikap
adiknya itu melebihi sikap dhafin kepadanya. Terkadang lebih mesra dan penuh
perhatian
“ lo ngapain sih fa disini, cabut kuliah ya lo. “
rungutnya kesal tak dipedulikan ocehan adiknya itu.
“ gue janjian sama temen kak “ mata dafa mengamati
sekeliling café mencari dimana temannya duduk. “ VOOO “ Raffa memanggil seorang
pria yang duduknya ditengah sofa café, pria itu mencari sumber suara. Matanya
melotot lebar lalu tersenyum dia berdiri dan beranjak dari tempat nya duduk
berjalan ke arah pojokan café tempat klarabela dan raffa duduk.
Klarabela
kelihatan salah tingkah, orang yang dipanggil adiknya itu yang sedaritadi
memperhatikannya. Iya dia, ternyata dia teman raffa. Orang itu memang sudah sejam
lalu di sofa tengah, dia menunggu juga. Sedari tadi itu orang selalu melihatnya
dari kejauhan, sesekali melempar senyum.“ sorry vo lama ya lo nunggu gue “
mereka berpelukan layaknya sahabat yang sudah lama tidak bertemu. “ sorry ya
tadi gue ada kelas sebentar maklum lah udah semester akhir ngejar-ngejar dosen
pembimbing juga nih “ jelas raffa panjang lebar. Temannya itu cuma membalas dengan
senyum lembut . “ eh iya, ini kakak gue vo “
Klarabela kaget
diposisi bengong, matanya melotot salah tingkah. “ hai, aldevo “ teman raffa
menyodorkan tangannya.
“ hai, klarabela “ klara mengontrol kesalah tingkahannya.
Di balasnya segera tangan devo, entahlah berdesir kencang sekali dadanya
seketika. Genggaman dan senyuman hangat devo meredam kekesalannya hari ini.
Seperti kekuatan besar yang dibawa orang ini sampai membuat klara salah tingkah
dan mati gaya dibuatnya padahal kalau ditelusurin lebih jauh lagi dia juga
pasti seumuran adiknya, masih kuliah masih kencuran lah.
“ panggil klara aja “ dia buru-buru melepas jabatan
tangan devo.
Lagi-lagi
devo melemparkan senyum manisnya. “ vo, kayaknya kita gabung disini aja ya,
kakak gue ga keberatan kok. Ya kan kak? “ si raffa mulai sok tahu, klara
memincingkan mata tajamnya. “ daripada lo kena harapan palsu kak mending kita
temenin deh, gak kok gak keliatan tante-tante banget “
Klarabela spontan
mencubit perut adiknya itu. Sial! Dibilang tante-tante lagi gue, rungutnya
dalam hati. “awwww, sakit tau. Ini diluar kak jangan bikin malu kek “ raffa
kesakitan, dia mengelus elus perutnya, devo yang masih berdiri memperhatikan
tingkah kakak adik itu tersenyum geli.
“ you’re an idiot, bro “ klarabela mendesis sembari
melotot tajam kearah raffa, adiknya itu sih malah terkekeh geli. “ duduk aja
vo, sini “ mau tidak mau sebagai perempuan dewasa yang punya keramah tamahan
tinggi dan menghargai teman adikknya akhirnya dia pun mengiyakan tawaran
adiknya itu. Yah lumayanlah kalaupun kekasihnya itu yang daritadi belum nongol
juga gagal datang, dua anak-anak ini bisa jadi teman nongkrong santai. Asal
nggak dibilang aja sih lagi ngasuh berondong.
“ jadi
sekarang lagi sibuk apa vo? “ Tanya raffa setelah temannya itu duduk dihadapan
mereka, lebih tepatnya sih duduk dihadapan klarabela.
“ sibuk cari
kesibukan aja nih “ balasnya “ lo sendiri
gimana? “
“ hahaha gue sih lagi mau skripsian vo, ya sesekali jadi
supir antar jemput nyonya satu ini aja. “ jelas raffa diiringi cemberut klara.
Devo melirik dan bikin klara jadi salah tingkah
“ asik dong ya punya adik sebaik lo fa, sama kakak nya
sayang banget. Kayak orang pacaran aja. Gue aja iri banget “
“ hahahha bisa aja lo vo. Ya maklum lah gue bisa jadi
serep kalo-kalo pacarnya klara lagi kumat stressnya. Semacam diberi harapan
palsu gitu deh “
Raffa
ini benar-benar membuat klarabela malu. Pipi nya memerah seperti tomat,
sebenarnya bukan karena dia malu jadi bahan bercandaan raffa,tapi klara malu
sekali diperhatikan seperti itu sama aldevo. Itu orang ngeliatinnya ademm
banget, senyumnya lhoo memukau. “ jadi, dari tadi nungguin pacar nya ya kak? “
aldevo memulai bersuara lagi. Klarabela melebarkan matanya. Terbelalak kaget,
bukan karena dia malu karena si devo ini ternyata memang memperhatikan dia
diawal dia datang sampai setibanya raffa,tapi klara kaget waktu devo
memanggilnya ‘kak’ . ampun deh, kalau si raffa mah nggak papa, namanya juga
adik sendiri dan kalau didepan orang tua mereka apalagi papa nya kalau
didengarnya raffa memanggil dengan sebutan nama saja kekakak nya itu bisa habis
dimaki-maki dia.
“ klara aja deh kayaknya vo, tua amat gue dipanggil
kakak. “ jelas klara terbata bata menahan malu. raffa tertawa geli. “ berarti
lo juga lama banget dong ya nungguin si raffa ? “ Tanya klara mengalihkan
obrolannya. Raffa berhenti ketawa
“ masa sih vo ? “ raffa seakan nggak percaya
“ lumayan sih….” Jawab devo “ sejam gitu “ lanjutnya lagi
. spontan saja klarabela tertawa geli sejadi jadi nya. Raffa gentian cemberut
“ nah lo juga kan masuk kategori pemberi harapan palsu ke
orang. Paraaahhh….sejammm bokk… “ klara balas mencibir, raffa manyun saja.
“ maaf ya vo tadi emang ada kelas dadakan gitu “ raffa
kembali menjelaskan, si devo manggut-manggut saja. “ oh iya kak, lo inget ga
sih ini devo anaknya om irwan kak. Dia baru balik dari aussie seminggu lalu. “
raffa mulai membuka obrolan lagi.
“ oh pantesan kayaknya lo ga asing banget, kayak pernah
ngenalin tapi dimana gitu “ klarabela kembali bersahabat, dia menanggapi
sesantai mungkin. Devo pun kembali melemparkan senyuman hangatnya. Itu senyum
bener-bener bikin klarabela mati gaya. Duh, adem banget. Nggak pernah dia
merasakan getaran ini sewaktu menatap dhafin. Kenapa ya dengan dirinya, masa
senyuman anak kuliahan saja bisa bikin dia jadi salah tingkah, parahnya bikin
dia lupa keselnya. “ gimana bokap nyokap vo, sehat? Kuliah lo udah kelar?
Tinggal dimana? “
Uuuuuuuuuups….pertanyaan borongan klarabela ini pasti
memicu keresehan adiknya nih sebentar lagi.. “ lo apaan sih kak? Heboh amat
deh? Penasaran banget apa karena kesemsem sama devo? “ gosh! Si raffa ini ingin
sekali rasanya dia rendam di air mendidih. Ngapain sih pake nyeletuk kaya gitu.
“ rese lo ah fa. “ klara bersungut sebal. Devo tertawa
kecil.
“ nggak papa kok
gue seneng ditanya banyak sama kakak lo ini fa. Itu artinya kan gue
masih diinget dia “ aldevo menanggapi dengan sopan dan kalem.
Klarabela
mau mati saja sore ini rasanya, kenapa ini anak ngomong begitu sih tapi malah
bikin dia malu malu kucing. Aduh ini
kayak kelakuan anak abg banget sih ini duh.
Setengah jam berlalu. Klarabela mulai nyambung gabung
sama dua anak kuliahan ini, dia malah mulai lupa dengan suntuknya menunggu
dhafin yang nggak juga datang. Aldevo ternyata cukup pintar, dari caranya
bicara dan membahas binis serta bahan skripsi raffa pun kelihatan dari caranya
bicara. Salut juga.
“ klara “ disela obrolan itu ada suara berat milik
seseorang yang nggak asing untuk klara. Mata orang itu melotot lebar
“ dhafin….” Klara kaget,
“ kamu mau ngebahas apa tadi? Sorry aku telat “ dada
klara rasanya sesak seketika dengar pertanyaan dhafin tadi. Selama ini dia
nunggu Cuma bilang sorry? Dan nanya pula, mau ngebahas apa? Emang dia nggak
ingat dia sendiri yang bikin janji yang katanya mau ngerayain anniversary
ketiga tahun mereka.gila, dhafin mulai gila. Lagian ini orang nggak tahu sopan
santun banget sih, tiba-tiba datang. Nggak pake salam nggak pake basa-basi
langsung nembak aja.
“ fin, gabung sini aja “ raffa memecah keheningan,
“ bisa kita berdua aja kla? “ dhafin mengacuhkan raffa. Suara
dhafin meninggi kearah klara. Raffa yang dengar menggepal tangannya keras,
rasanya ingin dia tonjok wajah pria itu seenaknya bersikap seolah nggak ada
apa-apa hari ini, tiba-tiba datang pula. Kasar. Klara yang tau adiknya emosian
dan sayang banget, buru-buru mengecup pipi raffa masih diposisi duduknya.
“ aku duluan pulang ya, ketemu dirumah aja “ bisiknya lembut
demi meredam suasana dan kemarahan raffa. Lagipula nggak enak sama devo. Raffa balas
senyum lembut saja, dia sadar ini tempat umum dan dia nggak mau membuat malu
kakaknya didepan banyak orang apalagi didepan aldevo. “ duluan ya vo “ klarabela
berdiri segera, dia pamit ramah, devo balas dengan senyum.
Raffa
memperhatikan kepergian kakaknya itu bersama kekasihnya keluar café, sebenarnya
raffa sudah tidak mempercayai lagi pria itu. Sayangnya rasa cinta kakaknya itu
ke dhafin memang besar dan sulit sekali membuatnya menjauh meskipun beberapa
bulan ini sikap dhafin mulai berubah. Raffa selalu mendoakan yang terbaik untuk
kakaknya itu, sudah berulang kali dia mencintai orang yang salah dan dengan dhafin ini, klarabela
sepenuhnya menaruh harapan agar dia menjadi yamg terakhir pelabuhan cintanya.
Semoga saja..
****
Sementara itu didalam mobil..
“ maksut kamu apa
tadi bilang gitu fhin? “
Klara akhirnya memberanikan membuka suara karena sejak
dia keluar café dan masuk mobil, dhafin cuma diam raut wajahnya merah seperti
orang mau marah.tangannya menggepal keras setir mobil. Itu mobil masih terpakir
diparkiran café. “ kamu sengaja mau bikin aku malu? “
Dhafin
menoleh cepat “ pikiran kamu negatif mulu ya kla.” Potong pria itu dengan nada
tinggi, klara kaget melotot. “ adik kamu tuh yang suka ikut campur masalah kita
“ kini raut wajah klara memerah kesal “ sengaja banget dia bawa temen kan mau
tau aja urusan kita, iya kan? “
“ kok kamu jadi bawa-bawa raffa sih? Nggak ada
hubungannya fhin. “ klarabela mulai meninggikan suaranya juga, dia kesal bukan
main.
“ adaa! “ sahut dhafin tegas dan kasar. “ belom jadi
suami kamu aja ya, aku tuh ngerasa raffa tuh nggak ngehargain aku. Bisanya cuma
ikut campur aja. Mau sampe kapan sih dia ikut kemanapun kamu pergi? Dia itu udah
kuliah kla. Udah gede “
Klara
makin nggak ngerti aja sama isi kepala dhafin saat ini. dia nungguin dhafin
daritadi ini hasilnya, yang nggak masuk akal. Dia ngajak klara pergi tapi cuma
mau bahas masalah begini. Tentang raffa, kenapa jadi adiknya yang disalahkan ?
klara nggak pernah bisa nahan amarah apalagi air mata kalau adik atau keluarga
nya sudah dibawa-bawa dalam masalahnya.
“ denger ya fhin “ potong klara cepat lantang, dadanya
berdegup lebih kencang dari biasanya, marahnya sudah nggak bisa diredam
lagi. “ kalo kamu mau bahas yang lain
silahkan, tapi kalo kamu tiba-tiba masukin raffa didalamnya aku nggak terima
ya. Harusnya aku yang marah fhin. Akuuu “ matanya membesar, nampak merah dan menahan airmata yang hampir
keluar. “ dua jam aku nunggu kamu. Kamu yang buat janji kamu yang bilang punya
kado special ditahun ketiga kita, tapi tadi kamu dateng telaaat banget dan pake
nanya mau ngebahas apa? “ klara menggebu. Kali ini dhafin memang keterlaluan
membuatnya kesal “ kamu tiba-tiba dateng dan langsung melotot. aku nggak ngerti
fhin kenapa sama kamu sekarang? Kalo pun kamu nggak bisa nerima adikku, itu
artinya sama aja kamu belom bisa nerima aku apa adanya “
“ KLARAAA!! “ dhafin berteriak kencang. Klara sebodo
amat.
“ kalo tadi nggak ada mereka aku udah kaya orang gila.
Sendirian nggak jelas. Seenggaknya raffa selalu ada buat aku dimanapun dan
kapanpun aku butuh “
“ dan temannya itu kan maksut kamu? “
Klara
kaget luar biasa. Dhafin membuatnya semakin gila sore ini. Klarabela membuka
seatbelt nya cepat. Di lihatnya dhafin lebar-lebar. Dia menghela nafasnya
panjang, berusaha menahan tangisnya. “ bener kata raffa ya emang, buang-buang
waktu berdua kamu sekarang “ dia membuka pintu mobil. Dilangkahkan kakinya
keluar lalu dibanting nya pintu mobil dhafin yang keren itu dengan kasar dan
keras. Klarabela marah sekali, pria didalam mobil itupun tak sepatah katapun
mengeluarkan suaranya untuk mencegah wanita nya itu tidak meninggalkannya. Dia cuma
diam. Bodoh
****
Sudah tiga hari semenjak kejadian sore itu klarabela
belum menghubungi dhafin, begitu juga
sebaliknya. Nggak ada sedikitpun pesan atau telepon permintaan maaf dari pria
itu. Klarabela masih nggak habis pikir aja dengan dhafin sekarang, sejauh itu
dia berfikiran negatif pada adiknya ditambah dengan devo pula. Begitulah sifat
dhafin yang kadang klarabela nggak pernah bisa terima, kalau sudah salah dan
lelah dari kesehariannya pasti hobi banget cari masalah, pake bawa-bawa orang
lain didalamnya.
Piiip…piiip
Suara pesan singkat masuk. Dhafin.
Klara yang baru saja membenahi meja kerjanya melongok.
Entahlah kali ini rasanya biasa saja mendapat pesan dari pria itu tidak seperti
se excited biasanya. Hati klara masih terlalu marah memaafkan pria itu
“ sayang aku jemput
ya kita dinner.. “ begitu kira-kira isi pesannya, dan perasaan klara kali
ini hambar sekali.
“ ciyeeee akhirnya baikan niiih “ suara denis memecah
kegundah gulana hati klarabela. Dia buru-buru sok sibuk beresin meja kerjanya
lagi, bersiap pulang. “ tumben nih nggak dibales cepet. Ntar nyesel loh “ ledek
denis lagi.
Tuk! Dilemparnya kertas kecil kearah denis, teman
kerjanya itu terkekeh geli. Klarabela
memasukan handphone nya kedalam tas, mengabaikan pesan dhafin yang masuk yang
biasanya selalu dia tunggu. “ pulang yuk beb “ denis merangkul pundak klara
cepat, klara melepasnya cepat
“ sinting! Ganggu mulu lo ah, gue lagi gak mood nih “
katanya sembari mencepol rambutnya. Denis cuma senyum-senyum.
“ raffa jemput nggak ? “ Tanya denis lagi.
“ nggak, gue naik taksi aja deh. “
“ bareng gue aja yuk “ katanya cepat. “ yah mumpung lo
lagi ga mood sama si dhafin, nggak papa deh gue jadi serep, relaa gue “ cerocos
nya ngaco. Klara tertawa.
“ emang pinter ya lo ngehibur gue nis “ kali ini klara
menanggapinya dengan tawa. Denis tersenyum akhirnya bisa juga melihat
sahabatnya itu tersenyum setelah tiga hari ini murung terus dimeja kerja,
sampai kerjaan terlantar.
“ gak bisa ngambil hati lo doang gue sayangnya sih bel…”
denis melanjutkan kata-katanya, klara mencibir geli. Bisa aja ngegombalnya ini
manusia alien, pikirnya “ yuk beb “ denis merangkulnya lagi sampai mobilnya.
Denis dan klara sahabatan emang sudah cukup lama sih
semenjak dari bangku sma sampai akhirnya mereka kerja diperusahaan yang sama,
yang denis bilang tadi ada benarnya juga sih. Kadang dia emang rela aja
dijadiin serep sama klarabela. Bukan klaranya sih yang minta denis sendiri suka
nawarin jasa nya.
“ tumben sih lo lama amat berantemnya bel? “ Tanya denis
ditengah perjalanan
“ makin kesini dia makin kekanakan nis, gue jadi ragu. “
“ terus mau lo putusin? “ denis nyeletuk seenak jidat
sembari memakai kacamata hitamnya. Klarabela diam “ mmm maksut gue lo mau ambil
tindakan apa lagi sayaang….” Melihat klara diam begitu denis jadi nggak tega
juga dia ralat pertanyaannya tadi masih dengan gayanya yang ceplas ceplos.
Klara mengusap air matanya yang jatuh. Rasa sakit omongan dhafin kemarin masih
ada. Masih nggak bisa diterimanya, tiga hari sudah dia diamkan orang itu.
Selama itu hati klara masih saja belum bisa memaafkannya seperti sebelumnya kalau
lagi berselisih. “ jangan nangis dong, lo mulai lagi deh drama nya, gue traktir
makan aja ya sekarang “
“ nggak usah nis, anter gue aja pulang sekarang. Gue mau
tidur aja “ jawabnya lirih. Denis nggak bisa ngomong apa-apa lagi, dia tancap
gas melesat cepat mengantar pulang sahabat nya itu.
Sepanjang perjalanan kerumah klara diam saja, sesekali
menangis dalam tunduknya. Denis sebagai sahabat hanya bisa melihat dan mengelus
lembut punggungnya. Denis bingung sendiri, sahabatnya itu kalau lagi ruwet pasti
begini. Kebanyakan diam. Kalau di ingat lagi, perjuangan cinta klarabela selama
ini emang pelik banget, tapi denis tahu klarabela nggak selemah wanita kebanyakan.
Klarabela pasti lebih kuat dari biasanya, denis harus selalu disampingnya
sekarang. Dia pasti butuh teman cerita.
Beberapa menit kemudian mereka
tiba didepan rumah klara. Melihat mobil adiknya terparkir diparkiran rumahnya
klarabela buru-buru mengambil tissue didalam tasnya. “ masih merah nggak ? “
Tanya nya pada denis sambil sesekali bercermin, memastikan matanya tidak
terlihat sembab. Dia nggak boleh kelihatan sedih di depan raffa, adiknya itu
pasti bisa heboh nantinya.
“ nggak non, masuk gih. Jaga kondisi ya, kalo ada apa-apa
telpon gue ya. Besok mau dijemput nggak ? “ denis begitu perhatiannya,
beruntungnya hidup klarabela. Mempunyai sahabat dan keluarga yang sangat
memperhatikannya sampai sejauh ini. “ thankyou ya, masuk dulu yuk. “ balasnya
lirih.
“ gak usah deh ntar gue minta nginep repot lagi “ celetuk
si denis sembari nyengir, klara menjulurkan lidahnya sebel. Dia buru-buru
keluar mobil, denis memastikan sahabatnya itu sampai masuk kedalam rumah baru
dia melesat pulang.
Baru jam
lima sore tapi rumah kok sepi bener ini ya, pasti raffa lagi tidur deh, pintu
nggak dikunci pula. Gerutu klara sewaktu membuka pintu
“ kriiing “
“ haloo “ klara mengangkat telepon ruang tamu. Sebelum
masuk kamar
“ kla, udah pulang? “ itu dhafin.
“ iya, ada apa? “ klarabela males-malesan menerima
telepon pria itu
“ kok ada apa sih, aku jemput ya sayang kita dinner “
Klara diam
sejenak, menghela nafasnya. “ nggak fhin “ jawabnya mantab. “ aku mau istirahat
besok ada meeting pagi, udah ya. Dah “
klara menutup telepon segera, kejadian beberapa hari lalu rupanya belum
bisa memaafkan dhafin, padahal biasanya kalau lagi ada masalah klarabela selalu
mudah memaafkan tapi lain sekarang, menjauhi dhafin sementara adalah pilihan
terbaiknya. Klara masih nggak habis
pikir aja sama sikap dhafin kemarin, datang telat, lupa dengan janjinya dan
malahan menyalahkan adiknya. Klara geram banget, dia kira selama ini dhafin
sudah menganggap Raffa seperti adiknya sendiri ternyata enggak. Dhafin masih
saja kekanakan berfikiran negatif.
“ kriiinggggg”
“ apa lagi sih fhin? “ telepon kembali bordering, klara
gesit mengangkatnya.
“ beelaa… ini papa” sahut suara pria separuh baya di
seberang telepon, klara terkejut. “ kenapa bel, kamu lagi ada masalah sama
dhafin ? “ papa mulai rempong deh pasti urusannya panjang kali lebar nih
“ haloo paaa, apa
kabar? “ klara mengalihkan obrolan berusaha seceria biasanya. “ kirain siapa
paa, tumben telpon kerumah nggak ke handphone bela aja “
“ papa mau ngobrol sama raffa, papa telpon ke
handphonenya gak diangkat. “ jelas papa panjang .
“ raffa nya lagi tidur kali pa, bela baru sampe rumah.
Ini aja nebeng denis “
“ yaudah, kalo gitu papa ngobrol sama bela aja deh.
Kayaknya bela yang perlu banget diajak ngobrol papa nih “ papa bersuara lagi,
klarabela bengong aja. Nggak mungkin dia cerita ke papa kalau lagi ada masalah
sama dhafin apalagi raffa sampai dibawa-bawa, apa tanggapan papa nanti.
“ bela baik paa. Udah ah emang bela masih tk”
“ bela lagi sedih ya? “ Tanya papa pelan.
“ gak pa. bela nggak mau sedihh terus paaaa”
“ okeoke kalo gitu papa nggak mau maksa bela cerita, papa
cuma pesan. Apa yang dirasain dihati sekarang jangan sampe disimpan lama,
jangan cuma dipendam. Keluarkan semuanya, kalau emang udah nggak bisa ditahan
ya. Ntar malah jadinya stress sendirian. Bela harus ingat, ada papa mama sama
raffa disamping bela ya “ papa mengeluarkan nasihat supernya, klara hampir
menitikkan air matanya. Papa benar, lebih baik dikeluarkan semua yang dirasa
daripada ditahan seperti ini. Kalau pun harus berpisah sudah sejauh ini klara
tidak sendiri, ada mereka keluarga yang paling disayang yang selalu mampu
membahagiakan klara. “ ya sudah ya, bela jaga diri baik-baik. Sampaikan salam
papa untuk raffa juga ya, papa doain biar lancar skripsinya”
“ makasih ya pa, we miss you paa maa “ klara menutup
telpon, syukur deh papa nggak banyak nanya lagi. Klara belum siap terus terang.
Klara buru-buru menaiki tangga masuk kekamar.
“ tok tok tok “
Terdengar suara pintu diketuk, klara yang baru saja mau
rebahan dikasur kamarnya setelahnya berganti pakaian kesal sendiri. Siapa sih
itu ? lagian mbak eti kemanain sih ?
“ ya tungguuuu “ nampaknya si tamu dibalik pintu tidak
sabaran. Mau nggak mau klarabela keluar kamar dan membuka pintu.
“ haii “
ada malaikat didepan pintu rumahnya “ boleh masuk? “ klarabela tidak segera
mempersilahkan tamunya masuk. Dia bengong.
“ gue ngetoknya kekencengan ya kla? “ lamunan klarabela
buyar
“ enggak kok. Ngapain vo? “ akhirnya dia ingat nama
malaikat itu. Duh kok ini cowok manis banget sih…
“ ada perlu sama raffa sih.”
“ oh “ klarabela kelihatan kecewa, devo tertawa kecil. “
mm maksut gue. Si raffa lagi tidur tuh, masuk aja bangunin gih.” Klara mulai
gagap. Devo cuma senyum-senyum.
“ baru pulang ya? “ Tanya devo halus.
“ iya, masuk sini vo “ klara melebarkan pintu
mempersilahkan masuk. Devo memperhatikan wanita itu dari ujung kaki sampai
kepala, sesekali dia tertawa geli. “ nggak usah ketawa, gue udah biasa
begini..” klara baru sadar yang bikin si devo ketawa dari tadi karena piyama hello
kitty pink miliknya.
“ lucu aja sih, jadi gemesin gitu. “ devo memuji. Dia
duduk di sofa ruang tamu, diikuti klara dihadapannya.
“ gue bangunin raffa aja kali ya, dia kalo gak dibangunin
suka lupa kalo janjian, kaya kemarin itu. “ klara mengontrol dirinya, rasanya
aneh sekali ada didekat aldevo saat ini.
“ eh ga usah kla “ kilahnya cepat. “ tadi dia bilang dia
lagi mandi kok, gue udah sempet telpon lima belas menitan sebelom kesini “
jelasnya lembut. Klara manggut-manggut paham. “ gue mau ngobrol sama lo dulu,
emang nggak boleh ya?”
DEG! Degup jantung
klara mulai loncat-loncat nggak jelas. Dia bingung sekali dengan perasaan aneh
ini. Devo bilang kaya gitu aja bikin dia ke-gr-an banget dan rasanya tuh seneng
gila-gilaan. Aduh plis deh, devo kan masih abege. Ini anak nekat juga ya,
berani banget bilang begitu sama yang tuaan.
“ hahaha “ klara tertawa maksa. “ dasar lo ah. Gue
bikinin minum aja deh ya, ntar lo kehausan lagi, mbak dirumah lagi ngegosip
soalnya kalo gini hari..” klara makin salah tingkah ditatap dalam-dalam seperti
itu sama si aldevo ini. Jantungnya nggak bisa diajak kompromi lagi, ini udah
kelewatan degupnya.
“ udah lama gue cari info tentang lo kla. Syukur aja bisa
ketemu sekarang, pas banget pula lo yang bukain pintu tadi “
Klarabela
menganga sejadinya. “ oya? Eh by the way tadi kesini naik apa? “ duh bodoh!
Segitu salah tingkahnya sampai pertanyaan nggak penting keluar dari mulutnya.
“ naik sepeda “ balasnya pelan “ soalnya rumah gue baru
pindah, deket kok dari komplek sini. It means kita tetanggaan lagi. Ya meskipun
nggak sedekat dulu. “
Klarabela garuk-garuk kepalanya, mulai merasakan keanehan
didalam dirinya.
“ lo sekarang pinter ngegombal ya, kacau emang pergaulan
anak kuliahan jaman sekarang. “ klara mulai menenangkan hatinya, fokus.
Laki-laki dihadapannya ini masih seumuran adiknya, nggak seharusnya dia
bersikap aneh pake segala salah tingkah pula. Lagian dia juga masih berstatus
pacarnya dhafin, nggak baik ada perasaan aneh nggak jelas begini ke laki-laki
lain.
“ kalo gue bilang lo makin cantik sekarang, masih
dibilang gue ngegombal nggak? “
Aldevo sore ini bener-bener bikin klara mati kutu
dibuatnya, jadi nyesel deh kalo gini caranya dia bukain pintu. “ ahaha thankyou
“ sahut klara gugup.
“ lo tuh emang cantik sekarang kla, makin keliatan banget
dewasanya.”
“ maksut lo keliatan tua nya ya? “ potong klara kesindir.
Devo senyum kecil
“ gue nggak bilang kok, gue malah suka. “ sahut laki-laki
dua puluh dua tahun itu, klara yang memang gampang banget di gombalin cuma bisa
diam, mulutnya kebuka sedikit. Melongo melompong kaget, sedikit seneng juga sih
dibilang begitu. Entahlah apa yang klarabela pikirkan sekarang, rasanya tuh
setiap lagi kesel sama dhafin lagi nggak mood baget sama itu orang dan selalu
tepat si aldevo datang, menyelinap masuk di kekesalannya, menghilangkannya
dalam sekejap.
“ gila ya lo vo,
kayaknya lo jago banget ye ngambil hati cewek-cewek kampus inisih” klara
memulai obrolan lagi dengan candaan ringan, devo tetap diposisi memandangi si
klara saja.
“ itu artinya gue udah berhasil ambil hati lo belom kla?
“
Klara tertawa
kencang sekali.
Dia
terus tertawa, sesekali melirik devo, sesekali mengontrol jantung dan nafasnya
Aldevo baru saja ia kenal lagi, meskipun mereka pernah
tetanggaan sebelumnya, tapi rasanya devo mampu membuat klara nyaman didekatnya,
devo mampu membuat klara menjadi dirinya sendiri.
“ kok pipi lo merah gitu sih kak? “
Klarabela shock
banget, si reseh adiknya sudah duduk disampingnya sekarang. Nggak tahu deh
sejak kapan ini anak datang, klara yang emang lagi ketawa ngakak lalu senyum
merona jadinya malu ampun-ampunan. “ kayaknya lo betah banget ya sekarang kalo
nemenin devo “ celetuk adiknya lagi
“….dan lo nggak keberatan dong raff “ devo menambahkan
cepat. Klarabela makin salah tingkah, nggak seharusnya dia seperti ini.
Kekanakan sekali
“ hahahhaha “ devo dan raffa tertawa terbahak-bahak.
“ dasar lo ah berdua, bisanya ngerjain aja. Udah deh gue
tidur aja” klarabela hampir saja beranjak dari hadapan devo dan raffa tapi
langkahnya dia putar lagi kearah pintu. Ada yang mengetuk. Waktu istirahat
pulang kantor nya jadi keganggu gini sih, gara-gara mbak eti nggak ada. Sibuk
bukain pintu mulu.
“ halo sayang “ seseorang menyapa lembut dari balik
pintu, orang itu tersenyum lebar. Klara melebarkan matanya seakan nggak percaya
kalau dhafin sekarang ada dihadapannya. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh yang
ia rasakan sekarang saat dhafin hadir, nggak sekangen dan seheboh dulu. Malahan
pengennya dia pulang aja sekarang.
“ kok belom siap-siap? “ tanyanya sembari mengelus
telapak tangan klara, si empunya tangan masih diam seribu bahasa berusaha
mengotrol emosi dan keluar dari lamunan.
“ siap-siap kemana fhin? “
“ kok kemana sih sayang, kamu pasti nggak baca sms aku
ya. Kita kan mau dinner” suara dhafin menjelaskan dengan nada lembut, biasanya
kalau si dhafin sudah mulai semanis itu klara suka salah tingkah macam anak
sekolahan lagi digombalin pacarnya suka seneng sendiri tapi kini kenapa biasa
aja ya?
“ handphone ku di tas. “
“ yaudah mandi ganti baju gih. Aku tunggu diruang tamu ya
“dhafin meneruskan, klara tercengang. Dhafin mau nungguin diruang tamu? Disitu
kan lagi ada si devo sama raffa, ini sih yang ada perang lagi kalau dia sampai
tahu mereka lagi dirumah. “kita berangkat aja yuk” kata klara ngaco banget.
“ kita mau dinner sayang bukan mau makan di warung
pinggir jalan loh” dhafin tertawa geli.
“ aku males banget naik turun ke kamarnya. Lagi nggak
mood juga rapih” potong klara terbata-bata. “atau kita batal aja deh” klara
membuka suaranya lagi ngeliatin si dhafin masih aja ketawa ngejek klara. Dhafin
langsung diam, melotot
“ kamu kenapa sih? “ tawanya henti, ekspresi muka nya
berubah menjadi sangar, matanya melotot hampir keluar.
“ kamu yang kenapa tuh “ klara lagi-lagi nyolot.
“ aku bilang aku nggak mau rapih-rapih kenapa sih jadi
masalah besar banget”
“ iyaaa besar banget! “ tandas dhafin kesal “kamu tau
nggak, aku bela-belain ngereserve stars buat kamu doang tau, eh kamu nya malah
kaya anak kecil gini. Kenapa sih kamu nggak pernah dewasa dari dulu?selalu aja
masalah kecil dibikin besar. Ngerti nggak? “ suara dhafin naik seoktaf. Dia
nampak mulai emosi, klarabela menggepal tangannya kencang. Inisih nggak bisa
didiamkan terus kalau keterusan bisa-bisa raffa dengar lagi nih.
“ aku kesini mau minta maaf karna kejadian kemarin dan udah belain batalin meeting pula, tapi liat aja kamunya malah kaya gini. Kamu buang waktu berharga aku tau nggak? “
“ aku kesini mau minta maaf karna kejadian kemarin dan udah belain batalin meeting pula, tapi liat aja kamunya malah kaya gini. Kamu buang waktu berharga aku tau nggak? “
Dhafin mulai emosi
seemosi diparkiran mobil tempo lalu. Klara pun ikutan emosi “ kamu juga buang
waktu tidur aku fin buat hal nggak penting kaya gini. Kamu yang nggak dewasa,
mau sampe kapan kamu selalu nyalahin aku terus? Mau sampe kapan fhin aku dinomor
duain dengan kerja kerja kerja meeting meeting dan teman-teman kamu itu? “
airmata klara tertahan dipelupuknya, dia menarik napasnya. “ kamu nggak perlu
ngebuang waktu kamu buat minta maaf ke aku fhin..” suara klarabela melirih.
Airmata nya mulai menetes lembut dipipinya. “ aku nggak bisa tahan lagi semua
ini fhin, mulai sekarang aku mau sendiri..” klara mulai terisak, dia mencoba
menguatkan dirinya. Ini keputusan berat yang sudah dia pikirkan matang sekali,
berpisah mungkin bisa membuat semuanya lebih baik daripada dia semakin lama
larut dalam percintaan yang penuh emosi tiap harinya. Kalau diingat beberapa
bulan belakang, dhafin dan klarabela memang banyak selisihnya.
Dhafin mengangkat
wajahnya, matanya semakin lebar tak percaya apa yang diucapkan klara “ klara “
katanya dengan nada tinggi. “ apasih yang buat kamu sampe segini gilanya ke
kita? Apa ada orang lain yang bisa bikin kamu nyaman lebih dari aku? “
“ bahkan disaat kaya gini aja kamu masih mikir negatif
mulu ya fhin ke aku. Ini keputusan ku, apapun tuduhan kamu nggak buat aku narik
lagi keputusanku. Lebih baik kita pisah daripada tiap hari semakin lama rasa
sakitku ini menjadi fhin, terimakasih buat semuanya. “ klara tertunduk, matanya
nggak berhenti menangis, dia masuk kerumah menutup pintu cepat. Dhafin masih
setengah nggak percaya dengan keputusan besar wanita nya itu, dia masih nggak
habis pikir aja kenapa klarabela jadi seemosi ini, bukan sifat dia kayak
biasanya pasti ada seseorang yang menghasutnya deh ini.
****
Sejak memutuskan untuk
berpisah dengan dhafin, klarabela jadi
hobi banget melamun, murung bener. Seminggu ini kerjaan jadi banyak yang
terbengkalai, susah sih emang buat nggak mikirinnya.Yang bikin klara selalu
ingat itu perjuangannya dia dari dulu yang malah dibilang nggak berharga banget
dimata itu laki. Sakit banget semacem putus jaman anak sma deh.
“ kak, besok papa dateng ya. “ raffa memecah lamunan
kakaknya diruang tv. Hari itu jam empat sore adik kakak ini sudah dirumah,
raffa yang lagi libur kuliah kebetulan bisa nemenin kakaknya dirumah yang pamit
pulang kerja cepat hari ini. Alesannya nggak enak badan. Klara sudah menyiapkan
konsekuensi terbesar dari putusnya hubungan nya dengan dhafin. Papa sama mama.
Mereka yang tinggal dibandung memang sudah terlalu dekat dengan mantan calon
menantu kesayangannya itu, buat mereka dhafin lah yang paling cocok untuk klara
sebagai pendamping hidupnya, semoga klarabela tidak dikecewakan terus oleh
laki-laki lagi tapi ternyata harapan mereka musnah. Klarabela dan dhafin malah
putus.
“ lo cerita apa ke papa? “ klarabela bertanya
sembari meletakkan kepalanya di pundak raffa bersandar. “ besok gue nginep
kantor aja deh”
“ gila lo kak “ balas raffa cepat. “ nggak segitunya
juga kali kak, gue cuma cerita aja yang emang kejadian. Daripada dia tau dari
dhafin langsung kan kak?” klara diam berfikir, ada benernya juga sih apa yang
dibilang si raffa. Bisa bahaya emang kalau si dhafin cerita ala ala drama
didepan orang tuanya.
“ lo udah yakin kan buat pisah? “
Klarabela mengangkat kepalanya, dia menatap adiknya
kosong. “ gue nggak bisa sesabar dulu faa, ada kalanya gue ngerasa dititik
jenuh. Dia selalu semena-mena. Nggak abis pikir gue sama itu orang selalu egois
aja…” klarabela mengatur nafasnya. “ jujur sayang ini nggak akan pernah ilang
cepet faa, biar gimanapun dia udah tiga tahun ngisi hari-hari gue, tapi kalo
udah kelewatan gue ga bisa terima lagi…”
“ tapi rencana pernikahan kalian? “
Klarabela
nggak kuat, airmatanya keluar juga dia menangis sejadinya. Raffa memeluk
kakaknya penuh hangat. Rencana pernikahan yang sudah sedari dulu dia dambakan,
yang ingin dia wujudkan ditahun ini ternyata nggak seperti kenyataannya. Mereka
berakhir. Klarabela gagal lagi dalam percintaannya. Ini sudah kesekian kalinya,
pacaran lama pun nggak menjamin berakhir bahagia.
raffa tertegun diam,
klarabela masih rapuh. Hatinya terluka kembali, raffa masih nggak percaya saja
kakaknya mengalami kegagalan dalam percintaan lagi. Karabela menangis
sejadinya, baru hari ini dia tumpahkan kesedihannya didepan raffa. Seminggu kemarin
dia murung dan nggak mau diganggu. raffa biarkan saja posisinya seperti itu,
tetap memeluk erat kakaknya. Raffa tahu dari kemarin kakaknya berusaha menahan
sedih dihadapannya, tapi mungkin hari ini dia sudah tidak mampu menahannya
sendirian.
“ mas raffa “ suara mbak eti memecah suasana, raffa menoleh
cepat. “ bapak sama ibu udah dateng tuh mas..”
Belum sempat mbak eti meneruskan pembicaraannya papa
mama masuk keruang tamu, raffa sama klara kagetnya bukan main. Klara buru-buru
menghapus airmatanya bisa makin rame kalau papa mama tahu dia masih diliput
kesedihan. “ papaa…” raffa berdiri sigap. “ katanya mau dateng besok. Kok udah
sampe sini?” raffa bertanya bingung, papa terkekeh sesekali melirik ke arah
klarabela yang masih sibuk menyeka air matanya.
“ papa sama mama doang? “ klarabela menyapa berusaha
tegar, menutupi kesedihannya. Dia memeluk papa lalu menyapa. Mama mengecup pipi
anak perempuan nya itu lembut.
“ enggak bel, tadi janjian dulu lunch bareng. “
jelas mama pelan.
“ sama siapa maa? “ Tanya raffa bingung. Tumben
banget kalau mau ke Jakarta mereka janjian segala.
“ sama dhafin kla… “ sahut papa sembari matanya
mencari sosok dhafin ke arah pintu masuk. Raffa dan klara dibuat bengong saat
itu juga. Klarapun diam mematung, jantungnya berdegup kencang saat nama pria
itu disebut papa. Pria itu datang lagi, air matanya hampir saja menetes. Ia
seka buru-buru. Klarabela harus tegar, biar bagaimanapun mereka sudah berpisah.
Dhafin bukan lagi pria yang dicintanya seperti dulu. “ sini fhiiin…” papa
memanggil pria itu masuk, langkah kakinya kembali membuat dada klara berdegup
kencang. Hatinya masih miris. Kenapa papa malah membiarkan pria itu datang
kembali kerumah ini ? apa yang ia racuni
ke mama dan papa nya? Kenapa bisa mereka barengan.
Semenjak pisah, klarabela memang belum cerita yang
sebenarnya ke papa dan mama. Mereka tahu nya dari raffa. Klarabela nggak mau
mereka ikutan heboh dan kasihan kepadanya, karena lagi-lagi gagal dalam
percintaan. Klara tahu betul sifat papa nya, dia pasti super heboh dan mau tahu
setiap kejadiannya.
“ hai kla.. “ pria yang selalu menggangap dirinya
sempurna itu dan selalu menomor satukan bisnis nya dan selalu memikirkan
dirinya sendiri ada dihadapan klara sekarang. Klara dalam diamnya, tertunduk.
Tak digubrisnya sapaan pria itu. Klara menguatkan hatinya.
“ bel, disapa dhafin tuh…” papa mulai rese. Ini yang
paling disebelin sama klara. Papa serba mau tau deh. “ kasian loh bel tadi dia
nungguin papa sama mama di resto buat lunch, kita telatnya lama..”
Klara nggak peduli. “ nggak papa lah om, nggak usah
dibahas. Mungkin nanti ada waktunya lagi dhafin bicara berdua sama klara…” pria
itu mulai bertingkah, mengambil empati papa dan mama, raffa mengepal tangannya
kesel. Dalam hati klara yang paling dalam dia amat merindukan suara itu, klara
merindukan setiap perbuatan manisnya tapi entah kenapa sekarang keadaannya
sudah berubah. Kenapa rasa rindunya hilang secepat itu ketika semua kejadian
yang membuatnya benci pada pria itu muncul dikepalanya.
“ nggak ada lagi yang harus dibicarain fhin..” klara
mengangkat wajahnya, matanya berair pipinya merah tatapannya tajam kearah
dhafin, dia berusaha setegar mungkin. Papa, mama, raffa dan mba eti siap
beranjak dari ruangan itu. “ kalian nggak usah pindah tempat, disini aja. Biar
semuanya makin jelas sekarang…” pinta klara tegas. Dhafin kembali
memperlihatkan mata tajamnya, klara membalasnya.
“ aku udah cerita semua ke papa sama mama kla. “
dhafin membuka pembicaraan. “ aku masih sayang sama kamu. Aku mau kita nikah
tahun ini, aku janji semuanya berjalan lancar dan baik…” dhafin berusaha
menggapai jemari klara, wanita itu menepisnya.
“ pertama, terimakasih buat jamuan makan siangnya
dan dengan baiknya kamu antar papa sama mamaku sampe sini….” Klara menguatkan
dirinya. Dhafin baru saja membicarakan pernikahan yang selama ini ia tunggu, ya
tuhaan kenapa semuanya seperti ini. “ kedua, sekarang aku mau jelasin lagi ke
semuanya. Aku sama dhafin udah pisah, seminggu lalu dan aku nggak akan menarik
keputusan terbesarku ini. Maa…paaa “ klarabela melirik papa dan mamanya dengan
mata nanarnya, mama mengelus punggungnya lembut . “apapun yang dhafin certain
kekalian dan yang ia lakuin hari ini nggak akan mengubah semua keputusan ku
buat pisah. Aku yang jalanin semuanya, kalian nggak merasakan setiap sakitnya menunggu,
mengalah dan jadi pelampiasan kesalnya. Klarabela lebih baik mengalah daripada
kelamaan jadi kekesalan dhafin. Rasa sayang pasti masih ada, tapi klara nggak
mau nyiksa hati ini terus buat bertahan dengan pria yang nggak bisa terima
klara apa adanya ma..paa” air mata wanita dua puluh tujuh tahun itu pecah
seketika. Keluarga yang menyaksikan pun nampak iba, dhafin mematung menahan
malu. “ dhafin butuh pendamping yang lebih sempurna dari klara, yang bisa
seimbang dengan bisnis nya yang nggak menuntut macem-macem. Klara udah terlalu
jauh mencoba ma, pa tapi buktinya ya ini. Semakin jauh melangkah semakin nggak
ada hasilnya…” klara terisak
“ aku sayang sama kamu klarabela, aku nggak mau
nantinya menikah sama perempuan lain.. “ dhafin menaikan suaranya.
“ simpan itu buat pendamping hidup mu nanti fhin. “
klara melangkah. Dia sudah nggak kuat lagi, dia berlari sekuat tenaga ke arah
kamarnya. Mama mengejarnya. Papa dan raffa cuma bisa diam, tapi tatapan gamal
nggak lepas dari dhafin, kalau saja nggak ada papa sekarang sudah habis mungkin
manusia ini ditangannya, rasa kesalnya berlipat ganda. Nggak terima dia sejauh
ini perjuangan kakaknya demi pria nggak berakal ini.
Sementara
itu sedaritadi, seseorang berdiri didepan pintu rumah. Dia mendegar semua yang
terjadi, dia tertunduk diam mengepal tangannya kesal. Campur aduk yang dia
rasakan.
***
Sabtu siang klarabela mempercepat laju mobilnya,
hari itu jalanan Jakarta sedikit macet maklum deh weekend dan dia dalam kondisi
buru-buru. Lima belas menit dia sampai diparkiran kampus. Dimatikan mesin mobil
Honda jazz silvernya, dilihatnya kaca spion dirapihkan rambutnya yang
berantakan. Biar gimana juga doi kan masih muda, mau masuk kampus anak kuliahan
harus rapih biar nggak keliatan tante-tante banget.
Klara celingukan di lorong kampus. Si raffa bikin
kakaknya repot banget…
“ belaaaa… “ seseorang memanggilnya dengan sebutan
beda. Dia nampak bingung, yang manggil bela kan cuma orang-orang dekat aja.
“ eh haiii..” klarabela sedikit kikuk. “ lo ngapain
disini ? “ pertanyaan basa-basi ini nampaknya aneh sih bikin klara jadi
keliatan salah tingkah dan bikin itu orang yang ditanya tertawa geli.
“ gue kan lagi kuliah, harusnya gue yang tanya lo
ngapain disini ? “ itu aldevo. Gaya nya yang tengil namun tetap ramah selalu
bisa membuat klara mati gaya.
“ lo lagi nggak mau cari tau gue kan? “ pertanyaan
jebakan. Tapi lag-lagi bikin klarabela merona.
“ sejauh ini gitu gue cari tau tentang lo vo ? “
klara mulai santai dibalasnya dengan tawa, diikuti aldevo. “ gue mau anter bahan
seminar si raffa nih, tadi lagi tidur enak ditelpon suruh nganterin buru-buru
pula. Kemanasih dia? “ jelas klara sembali celingukan ke sekeliling kampus.
Devo menanggapinya senyum-senyum kecil.
“ kok lu senyum aja sih vo ? lo tau raffa gak ? “
“ tau kok “ senyumnya maniiiissss banget…batin klara
centil
“ kalo tau kok senyum, ini bahan penting kan? “
“ kamu telat bela…. “ potong devo lembut, entahlah
kekuatan apa ini sewaktu dia bilang ‘kamu ‘ rasanya kayak kejatuhan bunga
banyaakkkk banget. “ nggak papakan kalo aku ngebiasain aku-kamu..”
“ ng.. “ klara deg-degan. Selalu seperti ini “
maksutnya biar apa..? “
“ biar makin akrab aja… “ klara nggak habis pikir
sama dirinya, kenapa nggak pernah bisa kontrol gini kalau dihadapan anak
kuliahan ini. “ biar nggak keliatan banget lah demen sama tante-tante nya.. “
klarabela membelalakan matanya lebar. Sial !
“
rese lo ah “ klara memukul bahu devo dengan buku-buku gamal. Devo tertawa geli.
Klarabela sudah ge er maksimal eh taunya ada maksut toh..
“ raffa udah pulang, nganter anin..”
“ hah? Siapa anin? “
“ pacar baru nya dia dong anak hukum. “
“ lah kok sialan amat sih itu anak gue ditelpon
buru-buru dia malah pulang asik pacaran, gimana gue ini.. “
“ aku sih yang sengajain bel.. “ devo membuka
suaranya lagi, klarabela masih nggak ngerti apa maunya ini anak. “ tadi sih
anin lagi nggak enak badan dan kebetulan seminar sih raffa diundur besok, dia
bingung tuh kamu udah on the way, trus aku nawarin jasa aja deh..”
“ yaampun “
“ tenang sih bel, kan kalo gak gini aku nggak bisa
ketemu kamu lama.” Aldevo melemparkan senyum manisnya, klara mati gaya. Rasa
kesalnya hilang berubah jadi GR. Ada kenyamanan tersendiri diperlakukan seperti
ini sama anak kuliahan ini. aduh
“ mau sampe kapan lo senyam-senyum gitu sih vo? “
meski agak berdebar klara mencoba meledek devo, cowok itu malah makin dekat
menatap dan tesenyum ke arah klara. “ gue nggak mau disangka tante-tante girang
demen pedofil ya dikampus adek gue sendiri… “ aldevo seketika tertawa
terbahak-bahak. Klarabela ini lucu sekali, dan meskipun usia mereka terpaut
lima tahun tapi devo bisa mudah akrab denganya. Orangnya asik nggak mandang
umur pula.
“ aku bukan anak kecil kali.. “ devo makin
cekikikan. “ yaudah sekarang mau nya apa nyonya? “ aldevo berhenti tertawa, ia
kini mendekatkan wajahnya kepada klara. Seperti biasa wanita itu nggak pernah
bisa kalo nggak berdebar jantungnya.
“ pulang lah..” sahutnya cepat.
“ yakin mau pulang ? kalo aku nggak bolehin gimana.
Kalo misal aku nawarin kamu pulang bareng gimana ? kalo aku nawarin makan
bareng gimana ? aku traktir deh. “
“ maksut kamu kita ngedate?” klara nyaut asal banget, matanya melebar sementara
si devo senyum geli.
“ emang kamu ngarep banget ya ngedate sama aku..”
kata devo lembut, klara nggak bisa berhenti salah tingkah. Dia malu banget,
nafasnya udah nggak bisa diatur normal.
“ apaansih. Aku pulang ah.. “ klara kelihatan
ngambek tapi devo sebodo amat dia suka banget melihat perubahan ekspresi klara
sepertu itu, menggemaskan.
“ yuk “ devo meraih tangan klara cepat. Klara
terbelalak lebar
“ aku bawa mobil. “ devo senyum kecil. Nampaknya
klarabela mulai nyaman membiasakan aku-kamu pada dirinya.
“ iya gapapa, sini aku yang nyetir. Aku sengaja kok
nggak bawa mobil hari ini…” devo menggandeng tangan klara kearah parkiran
mobil, wanita itu berusaha menolaknya. Gengsi, tapi lama kelamaan jadi ngerasa
nyaman.
“ kok kamu kurang ajar banget sih ya…” klara belagak
marah.
“ kan kalo nggak gini nggak bisa ngedate sama
kakaknya raffa. Ngerti? “ langkah mereka berhenti sejenak, devo membalikan
badannya kearah klara. itu orang nggak pernah habis bikin klara deg-degan aja
seharian ini deh.
“ mana kunci nya sini. “ pinta devo setiba
diparkiran di depan mobil klara. klara masih mematung nggak percaya kalau dia
barusan di gandeng aldevo sepanjang jalan ke parkiran, entahlah kenapa sentuhan
devo berbeda sekali dengan dhafin. Getarannya berlipat-lipat kena ke hati
klara.
“ mau sampe kapan kamu jadi patung gitu ngeliatin
aku bel? “ devo bersuara lagi. Kali ini klara habis mati gaya dibuatnya.
“ ini hari apasih yaampun sial amat aku..” pekik
klara sok kesal “ aku aja yang nyetir, aku nggak mau mati sekarang “ klarabela
mengeles, berusaha mengendalikan malu nya tadi. Devo sih cuma cekikikan aja dia
tahu banget klara lagi grogi berat.
“ siniin gak kunci nya “ devo mengerlingkan matanya.
Klara akhirnya patuh, diberikannya kunci mobil nya ke devo segera. Devo membuka
kan pintu untuk wanita yang baru ia kenal beberapa minggu itu dengan gaya
romantisnya, klara menurut saja masuk mobil tanpa suara.
“ udah siap? “ tanya devo setibanya didalam mobil,
dan menyalakan mesin mobil. Klara yang duduk di bangku sebelahnya cuma
manggut-manggut sembari memakai sabuk pengamannya.
“ kenapa sih bel? “ devo kelihatan geli banget
melihat ekspresi klarabela saat itu. Wajahnya pucat pasi tegang.
“ jiwa anak muda biasanya kan liar, aku ngeri
banget..” ceplosnya cepat. Devo makin mantab menarik persneling mobil dan
tancap gas kuat-kuat meninggalkan kampus.
Klara
diam saja mematung, sesekali memperhatikan devo dikursi pengemudi. Orang ini,
tetangga nya dahulu. Dia sudah dewasa, tubuh mungilnya kini sudah membentuk
atletis. Kalau diperhatiin dari jarak dekat aldevo emang nggak ada jeleknya
buat seusia anak kuliahan mah. Kenapa mereka nggak seumuran? Kenapa sifat
aldevo lebih dewasa disbanding mantan kekasihnya itu. Kenapa ada perasaan aneh
menyusup perlahan sekarang ini.
“ belaa… “ devo memecah lamunan klara, dia gelagepan
“ apa yang kamu lamunin dari aku, hayooooo” devo
emang orangnya ceplas ceplos nggak ngaruh deh si klara ini udah nggak seumuran
dia lagi. Klara yang disindir gitu juga jadi salah tingkah, dia belagak ngaca
dispion mobil tengah.
“ kamu tuh ya, nggak ada sopannya sama sekali ya.
Heran aku..” dia menyisir rambut panjang ikal nya.
“ digerai aja rambutnya bel, kamu keliatan makin
cantik loh..” begitulah devo. Kali ini bikin si klara nengok cepet dan mati
kutu. Anak ini kenapa ada aja sih cara bikin klara klepek-klepek
“hhahahhaha “ klara ketawa kencang disela berdebar
jantungnya. “ kamu ya bisa banget sih bikin orang GR. Emang gini ya caranya bule ngerayu
orang..” klara menuruti devo membiarkan rambut pirang ikalnya terurai.
“ emang kamu ngerasa banget ya dirayu nya? “ centil
devo. Klara mencibir sebel. Mereka meneruskan perjalanan, klara menurut saja.
Dia nggak tahu mau dibawa pergi kemana dia sore ini. Jalanan sore ini nampak
sedikit padat tapi nggak membuat devo patah arah buat cari jalan tikus, klara
saja sampe bingung dibuatnya. Anak itu sudah lama tinggal dinegeri orang tapi
jalanan Jakarta bahkan jalanan tikus yang kaya gini aja buat ngehindarin macet
total dia hapal.
Lima menit
kemudian mobil klara melipir disebuah café .
“ kok kesini ?”
Klara bingung. Dia membuka pintu mobil. Devo ikutan
keluar dan mereka berdiri sejajar. “ kenapa? Inget sesuatu? “ tanya devo balik.
“ aku lagi nggak mau kesini aja, belom mood..”
“ aku gak niat yang jelek pokoknya..” devo tersenyum
kecil. “ aku cuma mau ingetin dimana pertama kalinya kita ketemu lagi. Disini…
dan aku pengen bantuin kamu buat gak takut melangkah lagi.” Terangnya lagi.
Klara diam terpaku.
Café
star ini yang menyimpan banyak kenangan sewaktu dia bersama mantan kekasihnya,
dhafin. Begitu banyak kenangan indah didalamnya. Sudah hampir dua bulan klara
belum berani mengginjakan kaki nya ke tempat ini.masih terlalu sakit tapi
kenapa sekarang devo malah membawa nya kesini. Maksud dia apa ya?
“ yuk, aku janji gak bakal bikin kamu nangis kok..”
devo mengulurkan tangannya lagi .
“ gak usah, aku jalan sendiri aja. Malu diliat
banyak orang, ntar disangka yang enggak-enggak lagi…” kilah klara masih saja
dengan gaya menjaga image-nya. Nggak lama akhirnya mereka masuk berdua di café
itu, beberapa waitress yang sudah mengenal klara memperhatikan wanita itu
sesekali melirik teman laki-laki yang dibawanya, dan beberapa ada yang senyum
kecil. Sesampai didalam café devo buru-buru cari tempat duduk paling nyaman,
mereka duduk di sofa yang mengarah ke kolam ikan. Sejuk adem tenang, lagian
café jam segitu belum terlalu ramai. “ silahkan duduk nyonya..” katanya
mempersilahkan ramah. Klara memperhatikan sekeliling dan matanya mengarah ke
sudut café. Sofa kesukaannya bersama dhafin dulu. “ mau sampe kapan berdiri aja
mbak? “ devo membuka suara nya lagi. Klara buru-buru duduk.
“kenapa sih harus kesini..? “
“ gapapa, biar kamu inget aku juga maksutnya. Kan
awal kita ketemu disini..”
“ hffff…” klara mulai sebal. “ aku masih belom
bisa…”
“ gapapa, aku ngerti kok. Aku pasti nunggu kamu, aku
udah bilang raffa”
Kali ini
klarabela kagetttnya lebih dari kaget biasanya, mulutnya menganga lebar matanya
melotot. “ asli ya, kamu ini sinting banget lama-lama..”
“ iya. Abisan aku bukan tipe orang yang bisa
ngumpetin perasaan aku sih..” jawabnya lagi dengan senyum sumringah. Manusia
ini ceplas-ceplos banget, suka asal banget kalau mengutarakan isi hati.
“ aku mau makan ah, laper lama-lama ngedengerin
kamu…”
“ evaaa…” aldevo memanggil waitress, ia mendekat
cepat.
“ ya pak..” kata eva. “ halo mbak klaraa…” eva
menyapa klara. biar gimana juga mereka udah saling kenal. Tapi yang bikin klara
heran emang wajahnya si devo udah tua banget apa dipanggil bapak? Sedangkan dia
sama dhafin dari dulu cuma dipanggil mas dan mbak.
“ udah siap kan? “ tanya devo lagi. Si eva cuma
manggut paham, nggak lama dia kembali ke dapur, klara menaikkan dahi nya
bingung. Nggak lama si eva muncul lagi bersamaan dengan nampan berisi makan.
“ silahkan pak.. “ eva dibantu salah satu waitress
lain menurunkan hidangan ke atas meja aldevo dan klarabela. Klara terlihat
mematung bingung.
“ makasih ya va.. “ ucap si tuan-penuh-kejutan itu.
“tunggu deh, maksut kamu apaa nih? Aku kan belom
pesen apa-apa…” klara menelan ludah saking bingungnya, makanan dihadapannya
banyak banget dan beda banget dari menu biasa nya. Menu western terbaru yang
belum klara paham dan coba sebelumnya. Lagian banyak banget, emang habis semua?
Bisa mubazir kan. Ini apa hubungannya si eva sama devo sih?
“ kamu harus coba ini menu terbaru di café ini, aku
tau kamu tadi mau pesen pasta sama salad doang kan? Udah ketebak. “ cerocos
devo cepat. Dia nggak memperdulikan klara, dituangkannya lobster besar ke atas
piring klara di seberang, dia buru-buru pindah duduk di samping klarabela,
dibantunya segera dengan sabar dan perlahan klarabela yang masih diam melongo
membuka lobsternya. Klara merinding dibuatnya, laki-laki ini paham sekali
memperlakukan wanita seperti princess.
“ kamu ini ya vo..” klara terbata “ niat banget ya
ngeracunin aku sampe kaya gini? “
“ hahahaha “ tawa devo seketika pecah memenuhi café.
“ ssshhh berisikk…” klara nampak malu, dia bikin telapak tangannya menutup
mulut devo.
“ okeoke sorry. Abis kamu pikirannya gitu amat
sih….” Devo masih ketawa geli. Klara cemberut. “ aku nggak mau kamu selaluuuuu
terpaut sama yang kemarin kla. Pasti karna menu café aja kamu pasti bisa inget
masa lalu kamu lagi, kan? “
Klarabela diam. Ya tuhan kenapa aldevo beda banget
sama sifat dhafin terdahulu, anak ini penuh kejutan dan memahami keinginnannya,
begitu perhatian dan lembut. “ nggak tau
ah, dosa apasih aku bisa kenal kamu…” klara cemberut banget tapi nggak bikin
devo kesel malah makin gemes lihatnya.
“ suatu hari kamu pasti nyesel nggak kenal aku dari
dulu sih aku yakin banget…”
Dan setelah itu akhirnya mereka menghabiskan
hidangan makanan porsi jumbo berdua, habiiiis. Devo senang selera makan klara
sudah kembali normal karena informasi yang devo terima dari raffa kakaknya yang
lagi gundah gulana itu sudah dua bulan selera makannya berantakan. Sampe berat
tubuhnya berkurang beberapa kilo. Devo bahagia sore itu, klara nampaknya mulai
membiasakan diri bersamanya ditempat yang sama mereka bertemu dulu ditempat
yang menyimpan berjuta kenangan indah miliknya bersama si dhafin terdahulu,
nggak jadi masalah buat devo yang terpenting sudah bisa lihat klarabela tertawa
geli.” Thankyou ya vo..” kali ini klarabela mulai biasa, nggak ngambek lagi.
Mereka masih sibuk mengunyah, tumben banget selera makan klarabela melonjak
nggak seperti biasa. Perutnya memang sudah kenyang tapi mulutnya masih belum
bisa berhenti mengunyah.
“ for what? “
“ buat traktirannya..” katanya malu, pipi nya merona
“ itu aja nih?”
“ mmm..” klara berusaha mengontrol keadaan, klara
merasakan kayak ada kupu-kupu terbang diperut sama hati nya sekarang “buat niat
baik kamu..”
“ okey “ sahut devo datar. Klara mengernyitkan dahi
nya
“ okey doang? “ klara mulai bersikap aneh.
“ emang kamu mau nya apa? “ devo cekikikan setelah
menghabiskan air mineral digelasnya “ oh aku ulang ya. Okey sayaang..” devo
beneran mengulang kata-katanya, klara mencubit lengan devo kencang. Laki-laki
itu berteriak saking sakitnya
“ kamu nih ya, agresif banget sih…” devo meringis
kesakitan
“ biar, biar kamu tau rasa aku orangnya gak bisa
dimainin…”
“ emang muka ku keliatan banget kaya gitu ya,
padahal niatku serius loh..”
“ not funny at all…”
Devo kembali tertawa geli, klara diposisi duduknya
cemberut. Klara memperhatikan aldevo sejenak. Entahlah ada perasaan aneh
melihat anak ini tertawa seperti itu. Rasanya adem sekali, kalau saja mereka
seumuran dan mereka jadian sudah klara peluk manja laki-laki disampingnya ini.
“ cerita dong gimana kuliah nya di aussie..” klara
mulai normal. Devo berhenti tertawa dan mulai mengobrol banyak, mereka larut
dalam obrolan panjang dan nggak sadar kalau hari semakin larut. Klara mulai
terbiasa dengan sikap devo yang ceplas ceplos tapi bikin nyaman hati nya ini.
Setelah tahu banyak tentang kehidupannya klara jadi nggak pengen pulang
buru-buru. Anak ini cerdas juga,pikirnya. Nyambung juga di ajak ngobrol beda
banget sama anak-anak kuliahan seumuran dia, apalagi ngomongin soal bisnis.
“ kringg….kriinggg.. “ terdengar suara handphone
aldevo berdering disela obrolan seru mereka
“ iya aku lg diluar nih, iya iya cepet pulang kok.
Ntar aku telpon balik ya” devo menanggapi lembut teleponnya. Klarabela yang
dengerin disampingnya mendadak diam seketika. Mesra amat sih, siapa sih itu.
Rungutnya dalam hati
“ sory ya telpon penting nih, pulang yuk..” nggak
lama menutup telepon devo menggajaknya cepet pulang. Klara nampak bête.
“ siapa sih? Pacar kamu? “ uupppsss! Klara
keceplosan.
“ kenapa ? cemburu ya? “
Klara mengutuk dirinya sendiri saat itu, nggak tahu
deh kesambet setan apa dia sampai senekat itu nanya iseng ke devo. Lagian devo
sudah tau punya pacar masih aja berani ngerayu dia dan mengajaknya kencan.
Dasar laki-laki sama aja
“ yuk ah pulang, aku nggak mau kamu mikir aneh-aneh
mulu ntar. Lagian udah ditelpon pacar kamu “ nada bicara klarabela sudah mulai
berbeda terlihat seperti orang kesal, aldevo cuma bisa senyum aja. “ kamu mau
aku antar atau gimana?”
“ aku yang antar kamu, nanti aku pulang nya jalan
aja. Lupa ya rumah kita kan udah deket sekarang..”
Mau
itu pacarnya atau bukan yang telepon klara nggak peduli juga sih, yang
terpenting hari ini dia kenyang banget dan bisa jalan bareng aldevo seharian.
Biar umur mereka jauh jaraknya, itu anak bisa juga bikin klara nyaman dan lepas
dari kejenuhannya.
* * *
Minggu sore yang cerah klarabela
membantu mama dan si mbak masak didapur, hari ini katanya pacar nya si raffa
mau dinner. Dia mohon-mohon ke mama nya biar dimasakin super enak. Ya mama
emang paling jago nya kalau urusan masak memasak dan kebetulan semenjak
kejadian putusnya klarabela kemarin mama dan papa memutuskan buat tinggal
dijakarta dulu.
“ pa.. raffa mana sih? “ klara menghampiri papa nya
dimeja makan, si papa lagi menikmati kopi hitamnya.
“ jemput anin lah, kamu suruh nyiapin semuanya
tuh..”
“ emang dasar anak ngeselin yaa..” sungut klara. dia
duduk samping papa sambil sibuk mainin handphone nya.
“ mana pacar kamu nih, di undang nggak ? “ papa
nanya aneh, klara nengok cepat.
“ udah males pacaran ah, mau nikah langsung…” jawab
klara asal, si papa ngikik. nggak lama dia buru-buru ngibrit ke arah pintu,
karena bel berbunyi. Barangkali itu si raffa sama anin, mending dia yang bukain
pintu daripada masih lama ngobrol sama papa urusannya pasti soal jodoh. Bisa
budek kuping.
“ ckrek “ klara membuka pintu lebar.
“ soree cantikk…” itu aldevo.
“ dari mana? “ tanya klara asal tanpa mempersilahkan
masuk terlebih dahulu. Dia pasang tampang bête tapi dalam hati seneng
kegirangan juga sih.
“ dari rumah dong sengaja kesini mau ikut dinner..”
“ siapa yang undang emang? “
“ papa mama lah. Aku masuk dulu ah “ devo maksa
masuk. “ tuan rumah kok ga ada sopannya amat tamu disuruh didepan pintu mulu.”
“ kamu bukan tamu aku, okey? “ klara merungut
sembari menutup pintu.
“ tapi aku kesini sengaja menuhin undangan papa mama
kan ada alesan lain…” mereka berdiri sejajar.
Klara merapihkan rambutnya yang berantakan. “ raffa lagi
jemput pacarnya..” tuntas klarabela cepat. Devo mendekatkan wajahnya
“ aku mau ketemu kakaknya raffa, boleh? “ wajahnya semakin
dekat, devo dapat merasakan degupan jantung klara semakin kencang. Ini orang ya
yaampun..
“ gak usah ngegombal…” dia pura-pura santai. “ ntar
pacar kamu marah trus nelpon lagi trus nyuruh kamu pulang lagi…” klara masih
ingat betul kejadian semalam. Masih ingat saja begitu mesra nya devo menerima
telepon dari pacarnya, beruntung banget pasti itu perempuan punya pacar kayak
ini orang.
“ bisa gak sih gak bikin aku sebel, vo “ runtuk
klara kencang. Devo cuma senyum simpul, mereka berhadapan tatapannya tajam dan
dalam.
“ kamu bisa gak, seharii aja nggak bikin aku kangen
sama sikap kamu yang kaya gini…” jelasnya lembut sekali. Klara mau pingsan
rasanya
“ emang aku bikin kesel dibagian mana sih bel ? “
tanya nya lagi pengen tahu.
“ gak tau ah, aku mau mandi aja..” klara nggak
pernah bisa mengontrol keadaan dirinya kalau lagi sama si devo. Pasti kaya
cacing kepanasan.
“ aldevooo… “ suara papa dari arah dapur memanggil
nyaring. Devo segera menghampiri, diikuti klara dibelakangnya. Syukur si papa
manggil, kalau nggak bisa mati kutu deh dia berhadapan mulu sama devo.
“ dari kapan disitu ? “ papa berdiri dari posisi
duduknya, dia menyalami anak muda itu. Mereka berpelukan akrab.
“ daritadi om dibiarin diluar, tuan rumahnya
milih-milih tamu om…” sahutnya meledek klara
“ kamu kla, ini kan tamu spesial kita…” papa ramah
banget. Tapi nggak harus berlebihan juga kali ya, lagian dinner ini dibuat kan
buat pacarnya raffa.
“ ah si om, bisa aja deh. Devo mau nya spesial di
hati bela omm…” anak itu mulai nggak sopan. Si papa malah ketawa ngakak berdua.
Terserah deh kalian pada mau ngapain, gue udah bête duluan.
“ oh iya sayang..” suara mama menyela. Dia udah
daritadi ikutan ketawa bareng papa dan devo “ tadi ada telpon dari dhafin..”
Deg! Tawa aldevo berhenti seketika. Klarapun ikutan
shock
“ mau apa lagi dia tante? “ entah kekuatan dari mana
yang jelas pertanyaan lantang itu dengan nada kesal keluar begitu saja dari
mulut aldevo, sontak membuat klarabela melongo dibuatnya. Maksud dia apa sih
sok nanya-nanya? Urusin aja sih pacarnya sendiri
“ mmm maksut devo… “ aldevo nampak tidak enak
dihadapan papa sama mama yang ikutan bingung. “ mau apa lagi dia bikin klara
sakit kaya kemaren gitu, belom puas emang…” aldevo terlihat cemburu
“ dia pengen ketemu klara, mau ajak dinner…” mama menjelaskan
dengan santai nya, sementara tangan aldevo sudah membentuk kepalan keras.
Kesal.
“ udah udah nggak usah dibahas maaa. Klara nggak mau
tau. Aku mandi aja deh..” klara salah tingkah melihat perubahan sikap dan
ekspresi devo saat ini. Muka anak itu memerah menyimpan kekesalan.
“ kamu ga usah mandi bel. Temenin aku ngobrol ya
sembari nunggu raffa.” Pinta aldevo cepat, klara nggak bisa menolak. Dia
mengangguk pelan. Kalau lagi sama devo klara nggak pernah ada kekuatan menolak
permintaan anak ini, dia pasti nurut aja. Padahal dia belum mandi dan masih
pakai baju rumahan sementara hari ini tema nya dinner keluarga.
Klara
meneruskan membantu memasak didapur bersama mama dan mbak sementara papa asik
mengobrol masalah bisnis restoran sama aldevo. Papa kelihatan nyaman dan
terlihat sekali aldevo mengerti betul tentang bisnis padahal usia nya masih
muda. Nggak lama raffa dan anindya tiba dirumah. Namanya anindya Katrina, anak
fakultas hukum seperti raffa. Wajahnya indo dan suara nya lembut, nggak salah
deh si raffa milih pacar. Sudah cantik langsung bisa akrab pula sama mama.
Perfect
“ jadi anin, sudah seberapa dalam perasaan kamu ke
raffa ? “ papa mulai bertanya sadis. Ini nih sifat papa yang serba ingin tahu
yang di sebelin sama anak-anaknya. Si anin yang ditanya menanggapinya nggak
terlalu serius. Mereka sudah memulai makan malamnya.
“ mudah-mudahan langgeng om, anin percaya raffa anak
baik kok. “ puji anin sembari melirik raffa. Aduuhhhh so sweet banget sih,
bikin iri klarabela aja. Andai saja dia nggak putus sama dhafin pasti pria itu
sudah ikutan makan malam ditengah-tengah keluarganya ini.
“ aminn “ papa tersenyum. “ kalo kamu gimana vo ? “
Sekarang
giliran aldevo yang ditanya tapi yang deg-degan klarabela.
“ devo sih jalanin aja dulu om. Kalo cocok juga
pasti jodoh. Ntar lulus kuliah langsung nikah deh…”
Kaya
kesamber petir dengar penjelasan si aldevo itu. Klara berubah drastis. Selera
makannya jadi ikutan gak nafsu. Pengen rasanya ke kamar saja sekarang. Dari
kemarin dia dirayu digombalin taunya dia udah punya calon. Aldevo mengarahkan
pandangannya ke klarabela, dia mengerling. Klara menunduk berusaha keras
menolak, nggak mau ketipu lagi. Klara mencengkram tangannya sendiri ,dia
merutuk dalam hati. Kenapa dia harus kesal dan marah kenapa emosinya meledak
seperti ini. Apalagi yang terjadi padanya, itu bukan hak dia marah. Mereka
nggak ada hubungan apa-apa dan kalau bisa jangan terjadi perasaan apapun
dikeduanya. Aldevo masih seumuran adiknya, usia mereka jauh berbeda dan aldevo
sudah punya calon istri.
“ malaaaammmmmm…..”
suara pria cempreng menyela di serunya makan malam keluarga besar klara.
mereka menoleh berbarengan.
“ denis..” klara senyum lebar. Sahabatnya datang
“ haloo sayaangg…” denis menghampiri klara, menyapa
dan mencium pipi kanan kiri nya nggak lama dia duduk samping klara. kali ini,
aldevo lah yang mematung kesal. Nampaknya kedua nya tengah diuji
“ ini kok aku nggak tau apa-apa ya soal dinner besar
malem ini. katanya dinner buat raffa dan anin, ini kok ada devo sama denis sih”
klara membuka suaranya.
“ ih kamu kenapa sih bela, kan aku mah bukan orang
baru di sini…“ si denis menjawab sekenanya aja, dia seakan menyindir kehadiran
aldevo, klara nggak bisa ngomong lagi. Devo pasti kesel nih.
“ papa mama yang undang kak. Katanya kangen sama devo
sama bang denis juga..” raffa menjelaskan dengan sabar. klara nggak berani
melirik ke arah aldevo, tatapan laki-laki itu tajam penuh makna. Tanpa banyak
bicara denis pun ikut membaur di meja makan, mereka meneruskan dinner, mereka
larut dalam obrolan sesekali tertawa terbahak-bahak. Klara dan aldevo diposisi
duduknya masing-masing, keduanya diam tidak bersuara tapi saling memperhatikan.
Sementara denis sesekali heboh menuangkan minum ke gelas klara dan mengambilkan
makanan yang bikin devo geram dibuatnya.
* * *
Sejak
dinner malam itu, aldevo tidak terdengar kabarnya lagi. Klara sempat merasa
kehilangan, entahlah sepertinya dia merasakan getaran dihatinya mulai berubah
kepada anak itu. Kemana ya anak itu? Klara merindukan gaya nya yang
ceplos-ceplos.
“ srrttttrrrr” denis membuka kaleng cola yang dia
ambil dari lemari es apartemennya. “ nih minum dulu, kayanya aus banget lo. “
Rabu sore sehabis meeting direstaurant samping
apartement denis dan klara memutuskan untuk mampir sejenak ke apartement.
Mereka nampak pusing dan kelelahan, karena sore itu bahasan meeting terlalu
menjelimet.
“ lo sakit bel ? “ tanya denis duduk disamping klara
disofa ruang tamu apartementnya. Klarabela rindu sekali dipanggil seperti itu
oleh aldevo, kemana ya dia?
“ pusing aja sama meeting barusan. Thankyouu..”
katanya menerima kaleng cola.
“ tapi ada yang lain yang lo pikirin, ya kan?”
sebagai seorang sahabat denis nggak bisa dibohongin. “ lo kepikiran anak itu?
“’
Klara menegok cepat, kaget. “ ga usah
disambung-sambungin ke devo deh nis.”
“ jadi namanya devo…” kata denis lagi sembari
berdehem. “ kenapa sampe bisa itu anak bikin lo begini dari kemaren? “
“ enggak nis, enggak. Dia udah kaya adek kok. Dia
kan seumuran raffa…” klara nampak berkilah, denis merangkulnya lembut
“ lo boleh jatuh cinta sama siapa aja ya sayaang,
siapapun dan kapanpun. Tapi harus bisa bersiap diri sama konsekuensi nya dan
harus dipertanggung jawabkan.” Klara terdiam lama. Apa yang di bilang denis ada
benarnya juga, jatuh cinta memang nggak salah dan sama siapapun nggak
diharamkan tapi harus bisa siap sama setiap konsekuensi nya. Karena perbedaan
umur mereka yang terlampaui jauh sekali.
Denis
menatap dalam-dalam wajah sahabatnya itu, posisinya masih duduk di sofa. Sudah
lama sekali dia ingin seperti ini, berdua. Menatap dalam wajahnya, dan sedekat
sekarang. Baru kali ini dia bisa seperti ini dengan klara. ingin rasanya hati
ini bilang yang sejujurnya, batin denis lirih.
Suasana
sepi di apartement mempengaruhi segalanya, klarabela yang memang lelah sudah
merasa nyaman diposisi duduknya sekarang. Tatapan denis yang begitu dalam dan
hangat, wajahnya semakin mendekat. Dan siang itupun denis mencium lembut bibir
sahabatnya itu. Klara mematung dan beku.
“piipp…piiippp..
“ dering suara telepon dari tas klara memecah suasana itu. “ ya halo.. “ klara
memerah, dia salah tingkah. Apa yang baru ia lakukan sama sahabatnya ini. Denis
nampak tidak bersalah, dia diam memperhatikan klara
“ aku lagi sama denis.. “ klara menengok kearah
denis. “ apa? Kamu dimanaa?” nampaknya suara orang diseberang sana terdengar
sedikit memaksa. Klara nampak kebingungan. Orang itu menutup telepon.
“ devo? “ tebak denis sesudahnya. Klara mengangguk
pelan
“ gue pulang dulu ya..” klara pamitan, dia kelihatan
buru-buru sekali. Dalam hati sih bersyukur juga ada yang nyuruh dia keluar dari
sini, kalau nggak bisa semakin lama dia sama denis berlarut dalam romansa itu.
Klara mencium pipi denis, pamitan pulang. Dia buru-buru ngibrit ke arah loby
apartement.
Kejadian
nya cepat sekali berlangsung, dan sekarang dia harus meninggalkan denis
menghampiri aldevo di lobby apartement. Dua minggu menghilang kini dia muncul,
telepon mendadak dan kok dia tahu sih
klara lagi di apartement denis ?
“ udah lama? “ tanya klara setiba dihadapan devo. Orang
itu nggak menjawab, dia cuma tersenyum lalu mengajaknya cepat masuk ke dalam
mobil dan melesat meninggalkan apartement.
Sepanjang
perjalanan klarabela maupun aldevo nggak ada yang bersuara, keduanya diam.
Canggung. Klara masih nggak habis pikir kenapa dengan dirinya hari ini, begitu
bodohnya sampai bisa dicium seperti itu dengan denis dan begitu devo telepon
mengajaknya pergi dia menurut saja. Kalau tahu bakalan diam seperti ini kan
lebih baik dia pulang saja.
Pajero
sport milik aldevo melesat cepat, klara sudah pasrah mau dibawa kemana. Ini
bukan jalanan masuk kedalam komplek nya.lima menit kemudian mereka tiba dirumah
besar, aldevo mempersilahkannya turun. Dia menggandengnya lembut, klara
berdesir. Rindu sekali dia pada laki-laki dua puluh dua tahun ini. Mereka masuk
kedalam rumah, sepi.
“ kamu tunggu sini ya..” pinta devo, dia
meninggalkan klarabela didapur. Klara diam memanggut. Klara memperhatikan
sekeliling rumah besar ini. Ditemboknya banyak sekali foto keluarga, tapi
kenapa isi rumahnya hanya aldevo saja. Difoto itu pria dan wanita separuh baya
serta dua orang anak laki-laki seumuran klarabela nampak tersenyum bahagia, dan
satu lagi. Itu aldevo. Dia nampak dewasa dengan setelan jas itu, senyum nya
yang hangat bikin klarabela terpukau. Tapi, kemana ya mereka sekarang? Beda
sekali dengan suasana rumahnya.
“ maaf ya lama, minum nih. “ aldevo kembali dengan
jus orange digelas besar untuk klarabela.
“ ini rumah kamu? “ tanya klara pelan memberanikan
diri. “ kok sepi.”
“ ini rumah
mamiku. Aku kesini kalo lagi kangen mami aja, taunya dia gak dirumah..”
“ maksutnya..”
“ mami sm papi udah lama pisah bel. Aku lebih milih
hidup sama bokap karna dia lebih sering ngeluangin waktu buatku daripada mami.
Sepi kan rumah? Dia terlalu sibuk bel. “ aldevo nggak ragu menjelaskan lebar,
sesekali melempar senyum.
“ sorry.. “
“ gapapa bel, aku seneng kamu tanya dan cerita
sekarang..”
Klara
meneguk jus nya semangat sampai habis, entah karena haus atau dia grogi itu jus
setegak langsung habis. “ aku kangen sama kamu..” wajah devo mendekat. Suara
nya lirih. Klara mau loncat saking kagetnya
“ aku..aku.. “
“ kamu ada hubungan apa sama denis sih? “ pertanyaan
itu meluncur secepat kilat dari mulut aldevo. Klara mematung terdiam, dia
membalas tatapan lurus devo. “kenapa dia sedeket itu sama kamu? “
“ dia sahabat kecilku vo. “ lirihnya. Devo
mengenggam tangan wanita itu erat
“ kamu tau, aku ngilang karena cemburu. Aku pikir
aku bisa lupain kamu, tau nya enggak “
Klara
merasakan sesak di dadanya saat itu juga. Dari awal pertemuan dengan orang ini
sampai sejauh ini dia nggak pernah berhenti membuat hati klara selalu aneh,
berdesir seperti merasakan takut kehilangan sewaktu-waktu malah lebih besar
dibandingkan dengan rasa yang pernah dia rasakan untuk dhafin. Klara nggak
seharusnya seperti ini, dia harusnya bisa berfikir lebih jernih lagi. Dia
hampir saja masuk ke hubungan cinta yang salah dan terlarang. Apa yang akan
orang bilang tentang mereka nantinya. Tapi klara nggak bisa membohongi
perasaannya saat ini . ia teramat sangat merindukan aldevo. Dua minggu tak ada
kabar darinya, kini dia ada dihadapan klara.
“ aku…. “ klara mengingat kejadian tadi
diapartement. Air matanya tertahan dipelupuk. klara bingung dengan diri nya
sendiri saat ini. Dia nampak seperti wanita yang kekurangan cinta, ya tuhan
apa-apaan ini.
“ udah yuk, temenin aku masak aja. “ kata devo
cepat. Devo tahu, bukan saatnya seperti ini. Buat nya sekarang yang paling
penting dia udah bisa melihat wanita pujaannya lagi sekarang.
“ emang kamu bisa masak? “ klara mengikuti aldevo
didekat meja dapur. Laki-laki itu mengeluarkan bahan-bahan dari dalam lemari
es. Klara memperhatikan saja.
“ aku tuh apa aja bisa bel, cinta kamu aja yang
belom bisa aku dapetin..” si devo menyentil hidung klara lembut. Jujur aja
klara diperlakukan seperti itu meleleh.
“ kamu tuh gak usah kayak gini mulu kek vo. Aku
nggak mau disangka ngerusak hubungan orang… “ klara ingat apa yang dibilang
devo sewaktu dinner dua mingu lalu. Devo yang mendengar Cuma ketawa kecil
sembari memakaikan celemek di tubuh klarabela. Wanita itu memperhatikannya
dalam diamnya. Klara tersenyum lembut, kenapa laki-laki ini begitu penyayang
sekali dan tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita seperti princess.
“ emang kamu cemburu ya? “ devo memotong beberapa
bumbu dimeja.
“ engg..” klara kelihatan gugup. “ enggak lah.
Ngapain sih cemburu sama anak abg.” Dia berkilah sok banget.
“ kalo aku cerita lagi, kamu mau nanggepin apa? “
devo nampaknya mulai senang melihat klara nampak gugup begitu.
“ ya kalo sampe nanti kalian nikah ya aku..aku..
seneng lah. Akirnya ada yang bahagia duluan..” klara menjawab seadanya, dia
sibuk memainkan alat-alat dapur, biar nggak kelihatan grogi dan cemburu.
“ nikah sama siapa ? “ devo berhenti memotong.
“ ya sama pacar kamu lah…”
“ aku nggak punya pacar sayaang…” devo mencuci
tangan
“ yang benerrr ? ? “ klarabela kelihatan senang
sekali, matanya melebar senyumnya beseri
“ kan nikah nya sama kamu nanti…” tandas laki-laki
itu dihadapan klara. disentuhnya wajah klara lembut, klara nggak mampu menolak
atau menjauh. Dia nyaman banget. Dadanya semakin sesak sewaktu devo meneruskan
omongannya soal nikah, tuhan sudah sejauh ini kah pikiran laki-laki ini.
Klara menitikkan air
matanya, nggak tahu kenapa dia merasakan sedih teramat dalam saat ini. Klara
bahagia akhirnya dia bisa bertemu dengan aldevo tapi kenapa harus dengan cara
seperti ini. Disaat perbedaan usia mereka terpaut jauh sekali. Aldevo menyeka
air mata wanita itu. Jujur saja sejak awal bertemu aldevo nggak bisa menjauhi
pikirannya tentang klarabela. Sebenarnya sudah semenjak dulu, waktu dia masih
tinggal dekat rumah klara. dia begitu menggagumi sosok wanita ini. Yang baik
dan ramah serta kuat dan akhirnya waktu yang mempertemukan mereka kembali.
Aldevo memeluk lembut
klarabela. Wanita dua puluh tujuh tahun itu terisak dalam hangat pelukan devo.
Dibiarkannya seperti itu, sampai dilepaskannya pelukan itu. Di angkat wajah
klara, dan disentuhnya bibir klarabela dengan bibirnya hangat.
Klara terhanyut
suasana, dirasakan hangat dan nyamannya bibir aldevo. Tak dia rasakan seperti
kecupan denis tadi ataupun dhafin dahulu. Seperti ada yang mengalir dalam
darahnya cepat, berdesir ke hati dan jantungnya. Kalau saja waktu bisa dihentikan
sekarang klara mau diposisi seperti ini. tidak ingin dipisahkan oleh laki-laki
muda yang berhasil membuatnya melupakan sakit hatinya dengan cepat
ini.mungkinkah terlalu cepat memulainya dengan yang baru? Tapi….mereka jauh
berbeda.
Pukul 20.00
“ makasih ya masakannya enak semua..” klarabela dan
aldevo sudah selesai makan. Mereka kini ada dibangku taman rumah aldevo didepan
kolam renang mewah miliknya. Klara semakin merasakan getaran aneh yang mulai
merasuki tubuhnya sekarang dan ini nyata, perasaan ingin memiliki dan
menyayangi aldevo seperti dia merasakan nya pada dhafin. Ini bukan lagi
mustahil, ini nyata adanya. Dia mencintai aldevo, apa adanya tanpa suatu
paksaan.
“ kamu suka? “
“ banget. “ klara menaruh kepalanya di pundak devo,
dia mulai nyaman. Masalah orang-orang bisa dibicarakan nanti.
“ maaf ya udah bikin nunggu lama…”
“ aku cari kabar kamu lewat raffa, dia bilang ngga
tau. Aku nungguin kamu di star malah ketemu dhafin…” klara mengangkat
kepalanya, devo menoleh kaget
“ trus ? kalian ? “
“ mmmm…” klara menggigit bibirnya. “ tadinya sih aku
mau diajak balikan sama dia tapi…”
“ tapi apaa? “ aldevo mulai panik. Klara terkekeh
geli.
“ kamu tuh lucu…”
“ kamu nih bikin aku spot jantung mulu sih bel.”
Aldevo meremas kedua pipi klara, ditatapnya dalam-dalam. “ aku cemburu sama
denis, aku takut kamu kembali sama dhafin. Ngerti ? “ aldevo mulai possesif, ya
memang laki-laki seusianya memang lagi begitu emosinya. Tapi, lagi-lagi klara
menikmati setiap kejadiannya.
“ kalo aku nya mau gimana? “ klara memancing, devo
malah memeluknya erat
“ aku bakal bilang ke semua orang kita mau nikah. “
Tawa
klarabela pecah seketika, entahlah omongan devo kali ini lucu sekali. Nggak
bisa ditahan lagi. “ kok ketawa sih? Kamu nggak yakin ya bisa nikah sama aku? “
klara mengatur nafasnya, dia sesak mendengar keseriusan aldevo saat ini. “ kalo
kamu mau kita nikah sekarang juga aku mampu, bel. “
“ gila kamu ah..” dilepasnya pelukan devo. “ kamu
kira semudah ngebalikin telapak tangan, semua ada prosesnya. Lagian aku nggak
mau terlalu cepat karena kegagalanku kemarin. Kamu harus ngerti..”
“ aku ngerti karna itu aku mau jadi yang pertama
pengganti laki-laki yang pernah hadir dihati kamu yang bisanya nyakitin kamu
itu bel. Pleaassee…” aldevo menatap klarabela nanar, klara tersentuh sekali
dengan niat baik sahabat raffa ini. kalau saja raffa mama papa tahu semua, bisa
habis diceramahin klara sekarang. Klara akui, dia nyaman didekat devo sekarang.
Klara ingin selalu bersamanya, nggak peduli ini terlau cepat atau terlalu
bermasalah.
“ vo.. hidung kamu.. “ klara panik, hidung aldevo
mengeluarkan darah. Aldevo buru-buru masuk ke dalam rumah meninggalkan klara
sendiri ditaman.
***
Seminggu
sejak kejadian aneh itu klarabela kembali berpisah dari aldevo. Malam itu ia
pulang diantar oleh supir aldevo, karena alasannya devo sedang pusing berat.
Kemudian esoknya sampai seminggu sudah tak ada kabar lagi dari itu orang. Klara
bingung, nggak ngerti lagi maunya devo itu apa? Seenaknya aja datang lalu pergi
selama ini. tapi klara masih kepikiran sih kenapa tiba-tiba aldevo mengeluarkan
banyak darah dari hidungnya.
Jam
lima sore klarabela beberes meja kerjanya bersiap pulang, pikirannya campur
aduk sekarang. Kenapa sekarang dia menginginkan aldevo. Kenapa aldevo selalu
misterius begitu ya, tapi tetap saja klara mau menunggu. Selama apapun
ditinggal dan nggak ada kabar.
“ lo dijemput ya? “ tanya denis masuk ke ruangan
klarabela. Sejak kejadian di apartement nya beberapa waktu lalu hubungan mereka
sudah seperti biasa lagi, nggak ada yang bikin canggung. Mereka Cuma menganggap
itu khilaf semata. Klara bingung banget yang dimaksud denis, hari ini memang dia
nggak bawa mobil tapi siapa yang jemput. raffa kali ya?
“ siapa? “
“ coba aja tuh depan pintu..” klara berdebar hebat.
Dia buru-buru mengambil tasnya pamitan sama denis dan menemui seseorang dibalik
pintu ruang kerjanya.
“ sore non, saya dedi. Supir tuan devo..”
“ emang kenapa devo? “ pak dedi enggan
menjawab, dia cuma mengisyaratkan agar
klarabela menurut dan ikut dengannya. Klara turun ke loby, masuk ke dalam mobil
mewah bersama pak dedi. Kejutan apa lagi yang devo siapkan untuknya, kenapa
enggak dia saja yang menjemput nya dikantor ? kenapa harus supir pribadi nya ?
Aldevo ini manusia
teraneh dan langka yang pernah dia temui memang, dia bisa tiba-tiba muncul
dengan berjuta kejutan, bisa juga tetiba menghilang nggak ada kabarnya. Mobil
mewah hitam milik aldevo melesat segera. Banyak sekali pertanyaan dikepala
klarabela saat ini. ingin sekali dia tumpahkan, kenapa aldevo jadi semisterius
ini ?
Pak
dedi memasuki parkiran café star. Setelah itu membukakan pintu untuk klarabela.
sebelum memberitahunya kalau aldevo sudah
menunggunya didalam café, pak dedi memberinya kotak berupa dress yang
harus dia gunakan saat itu juga. Klarabela awalnya bingung, tapi dia menurut
saja lah. Dia berganti pakaian didalam mobil saja, biar nggak ribet. Dia menata
rambutnya kilat. Kini dia sudah siap, keluar mobil dan…betapa kagetnya dia
melihat aldevo sudah berdiri di depan pintu café star menunggunya.
“ selamat sore sayaang..” dia menyapa, mengulurkan
telapak tangannya. Klara yang tadinya mau ngamuk dan nanya macem-macem jadi nggak
bisa berkutik. Dia kangen sekali dengan orang itu, disambutnya tangan aldevo
cepat. “ kamu cantik banget.. “ bisiknya beriringan masuk ke dalam café.
Klarabela tertegun hebat sekali mendapati café star
disulap sedemikian hebatnya oleh aldevo. Café itu sepi pengunjung, hanya ada
dia dan devo. Ada bangku dan meja khusus untuk mereka ditengah café, dan ada
pengiring music. Dia memainkan piano lembut. Klara tak mampu berkata lagi, dia
belum bisa percaya. Keinginannya seperti dicerita-cerita novel dia rasakan
sekarang. Candle light dinner romantic. “ suka nggak? “ tanyanya lembut setelah
mempersilahkan klara duduk dan saling tatap. Klara mengangguk tanpa ragu.
“ kenapa kamu hilang lalu muncul dengan ini vo ? “
“ gak usah dibahas ya. Yang penting kan aku udah
didepan kamu sekarang, dan nggak akan ngebiarin kamu sendiri lagi. “ klara
takjub sekali dengan usaha dan sikap laki-laki ini padanya,sebagai wanita dia
nggak munafik merasakan cinta sedahsyat ini dan diperlakukan layaknya ratunya
setiap mereka bertemu. Klara sudah nggak mau mikirin lagi dengan pendapat
orang-orang nantinya. Yang klara peduliin sekarang, bisa bersama aldevo selama
mungkin.
Malam
itu mereka makan malam romantis berdua, mereka berdansa lalu aldevo menunjukkan
bakatnya yang lain bermain piano. Hebat sekali dia, klara di buat terkesima.
Nggak Cuma bikin orang nunggu dan rindu berat tapi dia juga mampu melelehkan
hatinya.
“ janji ya, gak ninggalin aku lagi…” ini permintaan
pertama yang klara ucapkan yang mampu membuat peredaran darah devo nyaris putus
saking senangnya.
“ maafin aku ya sayang bikin kamu khawatir…” kata
devo dibangku piano. Klara merebahkan kepalnya manja dibahu devo.
“ jangan ada yang tau ya vo tentang hubungan ini,
buat sementara waktu…”
Klara
mengeluarkan kalimat lagi yang otomatis bikin devo shock, diam lama dan
mengembuskan nafas kasar. “ aku sayang kamu. Biar orang tau nya kita temenan
aja dulu, aku ga mau kita pisah cepet. Pleassee…”
Aldevo
mengerti, lagian memang terlalu cepat kalau mereka harus serius.semoga saja
semua ini ada hasil baiknya,tuhan. Seenggaknya kalau memang tidak bisa bersama,
mereka sudah merasakan bagaimana rasanya mencinta dengan tulus tanpa paksaan.
Baru kali ini devo merasakan mencintai orang dengan hebatnya dan sanggup
berbuat apapun untuknya. “ apapun aku lakuin asal bikin kamu bahagia bel. “ aldevo
menjawab lirih, dia yakin dengan jawabannya. Pasti yang terbaik untuk mereka,
klara benar juga. Dia juga belum siap disuruh pisah sama klara.
Mendengar jawaban aldevo, klara mendekat, kali ini
ia mengecup pipi aldevo. Lembut. Klara sadar betul cinta ini memang nyata dan
tanpa dibuat-buat dari hatinya untuk devo, klara nggak bisa menghindar.
Perhatian dan kasih sayang devo memang melebihi pria-pria yang hadir dihidupnya
selama ini. kalau dibilang kasmaran, ia dia memang merasakannya detik ini lebih
hebat malah. Terimakasih tuhan, untuk rasa indah ini. semoga jangan berakhir
cepat.
* * *
Dan akhirnya semenjak malam itu mereka di pastikan
sudah jadian, artinya memiliki hubungan khusus tanpa paksaan dan tanpa seorang
pun yang tahu kecuali pak dedi. Supir pribadi devo. Klara menemukan hidupnya
kembali begitu aldevo datang, klara menemukan semangat nya. Begitu sebaliknya
dengan aldevo, impiannya sedari dulu terwujud sudah. Dia begitu mengagumi
klarabela semenjak mereka masih tinggal dibandung, hingga akhirnya harus pindah
ke luar pun rasa kagum devo tidak pernah berkurang sedikitpun. Dia selalu
menanyakan kabar klara lewat raffa. Raffa nggak pernah curiga, ya wajar saja
mereka kan memang tetangga lama.
“ aku pengen ketemuuuu… “ suara devo merengek
diseberang telepon. Klara ngobrolnya pelan-pelan dia ditengah-tengah meeting
itu aja pamit keluar ruangan sebentar.
“ aku lagi meeting. Kalo kangen tau kondisi dong…”
klara sok kesal padahal dalam hati senang.
“ sini aku ngomong sama boss kamu deh, biar kamu
diijinin pulang cepet..”
“ udah ah, gila kamu. Ntar ya aku telpon kalo udah
kelar. Laters baby..”
‘ klik ‘ dia menutup obrolan di telepon cepat.
Buru-buru mau masuk ruangan meeting lagi dan “BRAAAKK” klara menabrak seorang
pria
“ nona klarabela, kamu nggak papa. Mari saya bantu
berdiri..” dia baru saja menabrak executive muda berperawakan tinggi atletis
dan tampan. Itu tuan Calvin antony. Dia terlihat sangat ramah sore ini, dia
mengulurkan tangan membantu klara berdiri. Klara dengan senang hati
menerimanya. Kini kedua nya berdiri berhadapan.
“ sorry, saya yang buru-buru pak. “ kata klara
tergesa-gesa. Pria itu menanggapi nya dengan senyum ramah.
“ its ok, mari masuk bareng saya.. “ balas nya baik
sekali. Klara memang mengidolakan sosok pria ini dari dulu, meskipun bilyuner
dan sukses dimana-mana tapi dia nggak pernah sombong. Selalu mempedulikan
sesama dan baik hatinya pula. Mereka masuk ke ruang meeting lagi, meneruskan
meeting yang masih panjang sepertinya. Calvin sepanjang meeting terus saja
curi-curi pandang ke arah klara dan tak sengaja kadang mata mereka bertemu,
klarabela sih gelagepan berat diliatin begitu apalagi calvin selalu menebar
senyum nya lebar. Ah sudahlah, dia kan sudah punya aldevo sekarang hihi
Meeting
sore itu diakhiri dengan total lima jam, bikin kepala denis sama klarabela
berasap. Denis kalau sudah stress keluar ruangan meeting hawanya selalu mules
aja. Sementara klara lagi sibuk memijat dengkulnya diloby kantor.
“ sore klara…” itu calvin Anthony. Dia mendekati
klara. klara yang lagi sibuk mijat-mijat, berhenti
“ sore pak. Mau pulang pak? “
“ iya nih, kaki kamu masih sakit ya?” tanya nya
perhatian sembari menunjuk dengkul klara. klara geleng-geleng nggak enak hati.
“ saya antar pulang yuk. Rasanya saya bakal kepikiran kamu terus kalo saya
belum memastikan kamu sampai rumah dengan selamat klara..” terangnya lembut.
Klara melotot aja dibuatnya, andai ya semua orang kaya seperti dia hatinya. “
gak papa kan saya manggil nama aja, biar lebih akrab.”
“ gak papa pak, makasih banyak. Saya dijemput…”
“ sama siapa ? pacar.. ? “ belum selesai pertanyaan
calvin, si devo datang menjemput. Itu anak nekat banget segala meluk-meluk
klara dan mencium pipinya.
“ pak calvin, ini aldevo. Aldevo ini pak calvin..”
klara memperkenalkan keduanya, mereka saling tatap sinis.
“ hai aldevo. “ sapa nya ramah. “ kalau gitu baiklah
saya duluan ya klara, aldevo. Lain kali kalo ada apa-apa hubungi saya saja ya
klara…” pria itu ngeloyor dari hadapan klara dan devo. Devo nggak mau bahas
sekarang, dia diam saja. Mereka lalu masuk mobil dan melesat pergi. Sepanjang
jalan devo diam saja nggak seaktif ditelepon tadi. and here we go, the show go
on….
Aldevo cemburu berat rupanya. “ kamu kenapa vo ?
cemburu ? “ mobil devo menepi ke sebuah taman kota. Dia mematikan mesin
mobilnya, mereka keluar mobil. Devo belum mau menjawab.
“ kamu kok aneh sih?
“ aku yang harusnya nanya sama kamu. Siapa dia ? “
devo meninggikan nada suara nya, kelihatan banget dia emosi dan dibakar cemburu
berat. “ kaki kamu diapain sama dia emang bel ? “perbedaan usia mereka terlihat
diwaktu seperti ini, seumuran devo memang lagi parah-parahnya cemburuan.
“ udah nanya-nya? “ klara menggulung kedua tangannya
di dada, dia bersikap santai dan tetap tenang. Klara tahu betul sifat devo. “
jadi kamu jemput cuma mau cemburu butain aku? Nggak nyesel kalo aku pulang
sendiri sekarang ? “
Aldevo
menoleh. “ kok gitu sih, jangannn! “ dia menarik tangan klarabela. Kekasihnya
itu tertawa kecil. “ iyaa maaf ya sayang abisan aku ga pernah rela kamu
deket-deket sama cowo lain apalagi yang tadi tuh…” aldevo melembutkan suaranya,
klara masih memandanginya.
“ tadi aku mau diajak pulang bareng malah…” klara
manas-manasin, aldevo melotot kesal. “ tapi aku inget, pacar aku yang masih abg
itu kan hobinya ngambek. Ntar dia ilang dua minggu lagi keluar dari bumi ke
planet mars deh. Gak iklas aku…” mereka saling berpandangan tadinya devo mau
ngamuk dibilang abg tapi sesudahnya mereka tertawa geli. Devo emang nggak bisa
marah lama-lama sama klarabela sih.
“ duduk sini..” klarabela berjalan ke arah kursi
taman, aldevo menurut. Mereka duduk berdua. Sore itu taman dekat kantor
klarabela lumayan rame, mereka mengamati sekeliling.
“ aku mau kayak keluarga itu nantinya sama kamu
bel…” aldevo menunjuk pria dan wanita beserta dua orang anak perempuan
kembarnya.
“ ng ? “ klara nggak mampu berkata lagi, dia kaget.
Lidahnya kelu.
“ kenapa bengong…” aldevo menepuk lembut telapak
tangan klarabela.
“
udah aku bilang kan berjuta kali ke kamu, aku serius sama kamu. Aku mau nikah
sama kamu..” aldevo menatap klara penuh
makna dan kesungguhan, klara nggak bisa berbuat apa-apa. Sekujur tubuhnya kaku.
Sudah sejauh inikah hubungannya dengan devo. Klara masih belum jujur ke
siapapun tentang hubungan mereka, kenapa aldevo berani sekali berkata demikian.
Klara tertunduk kelu, dia jatuh cinta teramat dalam dengan laki-laki dua puluh
dua tahun dihadapannya ini. dia takut sekali kehilangan sosoknya melebihi
kehilangan cinta dhafin atau laki-laki yang pernah mengisi kehidupannya. Kalau
saja ada cara lain untuk bersama, klara pasti lakukan asal tidak dipisahkan
dengan orang ini.
“ tapi nggak sekarang kok…” tukas devo cepat. Klara
menghembuskan nafas lega. “ belom sekarang tapi pasti secepat mungkin…”
Klara gelagepan, mati banget dia kalau devo beneran
nekat menemui papa dan mama untuk melamarnya. Usia memang bukan alasan utama
tapi klara belum siap saja di pandang negatif oleh orang-orang disekitarnya.
Masalahnya nggak seharusnya anak seusia devo memikirkan hal seserius ini. dia
harusnya masih bersenang-senang dengan teman sebayanya. Keluar masuk mall atau
sekedar bergaul dikampus bukan tiap hari menjemput wanita lebih tua darinya
atau lebih parahnya malah memacarinya.
“ bisa ga bahas yang lain aja. “ klara mengeles. “
hari ini meeting ku bikin kepala sakit lhoo…”
“ kok kamu gitu sih bilangnya…”
Inilah saatnya perbedaan mereka dipertemukan.
Sensian banget. “ jadi maksut aku bahas-an kita ini bikin sakit kepala kamu
nambah? Kamu nih, niat nggak sih serius sama aku bel ? “ suara aldevo meninggi,
klara tahu betul anak itu lagi emosi. Klara tak mampu membalas lagi-lagi, semua
pertanyaan sore itu sulit sekali dijawab.
“ kamu harusnya paham dong vo, aku masih capek. Kamu
tau sendiri kan jadwal kerja lagi gak karuan…” klara berdiri kesal. “ kalo kamu
mau bahas yang lain nanti nunggu aku adem. “
“ emang kamu nya aja yang pesimis bisa bertahan lama
dengan hubungan kita kan? “ aldevo lirih, klarabela berbalik badan
“ bukan pesimis, tapi aku mencoba realistis. “
“ oh ya? “ aldevo ikutan berdiri. “ trus mau sampe
kapan kita ngumpet-ngumpet gini ? kamu malu kalo ketauan pacaran sama berondong
? “ aldevo meronta saat itu juga. Sepertinya hari ini hawa nya lagi emosi
berat. Klara sampai terbelalak kaget mendapati kekasihnya begitu marahnya. “ rasanya
percuma emang sore ini bilang kangen ke orang yang mentingin dirinya sendiri,
ya…”
“ devooo “ klara membentak. Dia nggak percaya saja
semuanya jadi seperti ini, kenapa aldevo bisa semeledak itu emosinya. Pasti
awalnya dipicu rasa cemburu yang hebat nih. “ kalo emang semua nya percuma, aku
bisa pulang sendiri. Lupain aja yang udah kejadian kemaren, dan impian-impian
kamu itu…” klara kepancing emosi, dia gak bisa mengontrol sebaik mungkin.
Dikeluarkan isi kepalanya saat itu juga. Dia duduk lagi dibangku taman,
tertunduk lunglai dan menangis sejadinya. Devo masih berdiri diposisinya,
mengepal tangan.
Bodoh!nggak
seharusnya dia bersikap seperti ini pada klarabela.
“ aku mau pulang.. “ klara berdiri dia mengangkat
wajahnya tinggi-tinggi mencoba menahan amarah dan air mata. Devo membalikan
tubuhnya, di tariknya tangan klara hingga masuk kedalam pelukannya. Dipeluknya
erat wanita nya itu, klara menangis sejadinya.
“ maafin aku sayang..” devo mengecup kening klara. “
aku Cuma takut kehilangan kamu. Sama seperti aku kehilangan mamaku dulu demi
orang lain. Aku jatuh cinta sama kamu, nggak ada habisnya. Aku nggak pernah
siap liat kamu bahagia dengan orang lain. Aku selalu berusaha…. “ klara luluh
banget, dia malah terisak hebat. Ucapan devo kali ini bikin klara mati kutu.
Nggak pernah separah ini dia sayang sama orang. “ mau kan maafin aku…” dia
melepas pelukannya, memperhatikan klara. diseka air mata kekasihnya itu. “ udah
ah nggak usah nangis, muka kamu keliatan tua nya tuh. Keriput gitu “
“ aawwwww” devo memekik histeris. Klara mencubit
perut laki-laki itu dengan kencang. Sialan amat dibilang keriput. “ kamu tuh
ya, jadi aku keriput nih sekarang? Kemareeeennn aja awal kenal dibilang cantik
cantik gombaaaal…” klara mencibir kesal. Aldevo terkekeh. “ udah ah, aku mau
beli siomay aja. Laper nih nyerocos aja daritadi. “ klarabela berjalan
menghampiri kios siomay didekat air mancur taman, aldevo membuntutinya.
“ kamu mau nggak ? “ tanya klara cepat sesudah
memesan sepiring siomay.aldevo diam bingung, klara malah ketawa ngakak.
“ kenapa sih ? ada yang salah ? “ devo malah nanya
balik.
“ aku lupa kamu orang bule ya, nggak ada siomay ya
disana. Mau nyobain nggak.. ? “ klara menyenggol pundak devo. Rupanya suasana
sudah mencair normal. Devo masih diam saja, makanan apasih siomay ? dia emang
pernah tinggal di Indonesia tapi belum pernah tahu ada siomay.
“ mmm itu bersih emang ? “ devo mendekat, berbisik.
Klara menutup mulutnya menahan tawa. “ emang sehat ya makan dipinggir jalan
gini ? “ klara lupa, kekasihnya itu pasti jarang banget jajan diluar atau
bahkan mencoba makanan pinggir jalan. Dia kan memang anak rumahan, taunya
palingan junkfood doang.
“ higienis kan ? “ klara makin ngakak. Biasanya
klara paling ilfeel sama laki-laki yang sok higienis dan sok bersih gini tapi
nggak tahu kenapa si devo malah kelihatan lucu.
“ aku pesenin satu ya, aku jamin kamu minta nambah
deh. Aku sering makan disini sama denis…”
Devo melotot.
“ jadi denis ?”
Klara melotot balik. “ udah deh, gak dibahas lagi.
Mau nggak ? kalo nggak mau pulang duluan aja, ntar aku ngojek..” klara mulai
galak, macem ibu-ibu lagi ngomelin anak nya saja, devo manggut mengiyakan.
Nurut aja daripada disemprot lagi. Lalu mereka duduk di bangku kios siomay itu.
Setelah
siomay nya jadi,devo cuma diam bengong aja, klara sih sudah lahap menyantap.
Laper banget. Klara menoleh.” Kenapa nggak dimakan ? nih cobain aku suapin,
enakkkk…” klara menyuapi devo dengan sendok miliknya, awalnya devo menolak tapi
dibiarkannya saja. Dirasakannya jajanan pinggir jalan itu, siomay. Enak banget
rasanya. Devo menghabiskan isi piringnya klara hanya ketawa ketiwi senang.
Akhirnya dia juga mencintai makanan favoritnya. Devo memesan dua porsi lagi
dibungkus untuk orang rumahnya, si mbak diah dan pak dedi supirnya. Setelah
mengenalkan siomay kali ini klara mengenalkan kerak telor dan berbagai jajanan
khas Jakarta. Devo nampaknya mulai nyaman dan menikmati. Malah dia bilang kalau
weekend mau kesini aja ngedatenya daripada ke mall.
Hari
mulai gelap, nampaknya mereka terlalu asyik menghabiskan waktu bersama di taman
kota. Klara bahagia, ini yang klara inginkan sedari dulu. Waktu berdua yang
lama bersama kekasih menghabiskan sore. Dia duduk dibangku, tangannya sibuk
memijat-mijat dengkul. Si devo lagi ke toilet.
“ masih sakit ya bel ? “ devo sudah dihadapannya.
Klara terkejut
“ apaan tuh ? buat ponakan ? “ tunjuk klara ke arah
balon berbentuk senyum. Devo senyum manis.
“ buat kekasihku…” katanya belagak romantiss. Klara
menaikkan alisnya
“ ini sebagai
permintaan maafku bikin dia nangis sampe keliatan keriputnya trusss…” klara
berdiri, hampir mencubit. “ aku sayang kamu lebih dari yang kamu tau pokoknya.
“ dia meneruskan lagi dan menyerahkan balon itu.
“ dasar abege ah. “ klara malu-malu. “ diliatin
orang malu tau.”
“ peduli amat kata orang, yang pacaran kan aku sama
kamu..” dia mengedip genit. Klara nggak bisa menolak, dia raihnya balon itu
cepat.
“ emang nggak kempes ya..” klara bersikap konyol. “
tapi terimakasih ya, aku hargai. “
“ pulang yuk. Kasian kaki kamu tuh. Harus
istirahat….”
Klara
merasa bahagia hari ini. aldevo memang laki-laki penuh kejutan dalam hidupnya
dan dia merasa nyaman sekali bersamanya. Klara ingin sekali jujur kesemua orang
bahwa cintanya sungguh besar kepada devo, dan tak ingin dipisahkan secepat
mungkin. Klara sudah yakin sekarang, aldevo memang lah pilihan hatinya selama
ini. semoga saja tuhan mendengar dan merestui.
*
* *
“ kaaak…”
raffa
membuka pintu kamar klarabela kamis sore, kakaknya masih setengah sadar
diposisi tidur siangnya. Hari itu tanggal merah jadi klara libur kantor dan
puas tidur siang sampai lupa kunci pintu kamar. “ kenapa ? duduk sini.. “ klara
mulai sadar, mempersilahkan duduk adiknya.
“ capek banget ya lo ? “ raffa ambil posisi
disamping klara masih didalam selimut. raffa ini biarpun usia mereka sudah dewasa
tapi nggak pernah nggak manja dan masih menganggap dirinya anak kecil kalau
sudah sama kakaknya. Maklum deh jauh dari orangtua, dan kebetulan orang tua
mereka baru saja kembali ke bandung dua hari lalu.
“ iya nih, bulan ini meeting aja program baru. Klien
baru mulu, jadwal istirahat juga dipake buat meeting dadakan kadang. “ klara
menggerutu memegangi lehernya, rasanya tegang.
“ kamu nggak jalan sama anin ? “
“ gak kak, dia lagi ada acara sama temen-temennya. “
raffa memperhatikan kakaknya serius, merasa diperhatikan seperti itu klara
sedikit risih dan aneh saja. Seperti ada sesuatu yang ingin ditanya raffa.
“ udah sejauh mana lo sama aldevo, kak ?”
Pertanyaan pelan tapi sangat menusuk ini bikin klara
mau terjun aja dari jurang dan mati seketika. Klara lupa kalau devo dan raffa
bersahabat, pastinya dia bakalan sadar sendiri dengan kondisi seperti ini dan
klarabela nggak menyiapkan sebelumnya skenario bersama devo.
“ ngg…apasih kamu fa…” klarabela terbata gugup.
“ gue nggak pernah nyalahin siapapun kak, cinta itu
datang sendirinya kalo keduanya udah saling nyaman. “ raffa tak mempedulikan
kakaknya, dia malah menatap lurus kakaknya itu yang masih salah tingkah. “
semuanya emang terjadi cepat kak, tapi gue Cuma mau ingetin setiap konsekuensi
nya ya. Lo udah terlalu sering kecewa, dengan siapapun lo memilih pendamping
hidup gue gak pernah permasalahin. Asal lo bahagia sama pilihan lo kak, asal
itu orang bisa bikin hidup lo lebih indah gue restuin..”
“ faa…” klara menyentuh tangan adikknya.
“ gue sayang lo kak, apapun dan sama siapapun lo
bakalan menghabiskan masa tua kalian. Gue selalu sayang dan mau yang terbaik.
Gue seneng banget liat perubahan lo tiga bulan belakangan ini, gue nemuin lagi
kehidupan ceria klarabela gue kembali normal. “ klara menitikkan air mata
terharu, nggak disangka adiknya seperhatian ini. “ jaga diri ya, jangan sakiti
hati dan perasaan lo terus..” klara nggak perlu menceritakan apapun pada
adiknya itu, nampaknya dia sudah paham sendiri. Memang semenjak kedekatannya
dengan aldevo dan memutuskan berpacaran dua bulan lamanya kehidupan klara yang
dipenuhi tangis dan gundah gulana hilang seketika. Dia jadi rajin maskeran,
jadi rajin dandan lalu ke salon dan lebih banyak tersenyum sendiri.
“ jadi…beneran kepincut nihh..” ledek raffa pelan. Klara
memerah malu bukan main dilemparnya bantal ke wajah raffa.
“ sssshhhh diem…” dia membekam mulut raffa. “ aku
gak mau semua tau, aku belom siapppp…”
“ hahahaha…” raffa geli banget. “ traktir gue ya,
buat tutup mulut. “
“ sama rese nya ya lo kaya devo..”
“ jadi, sekarang semua tentang devo nih…” raffa
bangun mendekati laptop kakaknya diatas meja samping tempat tidur, dia menatap
layar laptop yang tak dimatikan klarabela. Disitu banyak sekali foto klarabela
dan aldevo berdua dan tertawa lebar. Klara lari buru-buru menutupnya
“ udah ah, malu. Aku bukan anak smp lagi. “
“ hmmm…” raffa gak bisa nahan tawanya.
“ please, aku gak mau papa mama tahu. Nanti suatu
saat aku pasti cerita, belom saatnya go public “ pinta klara merengek. raffa
menaikkan alisnya.
“ lo yakin bisa bertahan ? “
“ kok nanya nya gitu sih ? “ klara membuang nafasnya kesal. Pasti tentang
umur mereka deh. “ aku jatuh cinta sama devo tanpa dibuat-buat fa, semua yang
dia lakuin buat aku bahagia. Sekecil apapun itu yang gak pernah aku dapetin dari
cowok-cowok lain. “ jelas klara mantab. raffa mengerti sekarang, klara dan devo
mungkin sudah memikirkan dan mempertanggungjawabkan hubungan mereka ini. raffa
sebagai adik nggak bisa berbuat apa-apa selain merestui dan membiarkan kakaknya
kembali bahagia. Semoga saja tangan tuhan berkerja untuk keduanya.
“ pippp..piiip….” handphone klarabela berbunyi. Ada
panggilan masuk dari nomor baru, dia mengangkat . “ ya…halo “
“ nona klarabela Anastasia..” orang itu menyapa
ramah sekali. Klara sudah bisa menebak siapa pemilik suara barusan. “ maaf
menelepon, lagi sibuk ya ? “
“ oh enggak pak. Saya lagi dirumah, kenapa pak ? “
klarabela mencoba rileks saja. Buatnya ini telepon nggak jauh-jauh ngebahas
kerjaan.
“ saya kerumah ya, see you… “
Klara
melotot melongo lebar sejadi-jadinya saat itu juga. Seseorang yang meneleponnya
barusan bener-bener nggak sopan dan aneh banget ya. Itu calvin Anthony, ngapain
sih dia sampai segitunya amat.
“ siapa kak ? “ raffa ikutan bingung.
“ ng..ini faa..aduh..siapa namanya ya…” klara malah
makin kebingungan, dia malah mengucek-ngucek matanya dan menepuk-nepuk wajahnya
memastikan kalau dirinya saat ini sudah terbangun dari tidur dan tidak sedang
bermimpi Karena baru saja dia menerima telepon dari pemilik perusahaan
tempatnya bekerja. Ini mimpi kayaknya..
“ ting..tong..ting..tongg… “ suara bel berbunyi
nyaring sekali, klara buru-buru ngibrit menuruni tangga menuju pintu. Raffa masih saja bingung, dia ikutan turun. “ sore
klarabela…” klara membuka pintu dan benar saja, boss nya datang saat itu juga.
Ya tuhaannn…..
“ pak calvin…” dia berdesis, melongo nggak percaya
“ iya, sorry ya bikin kaget. Saya masih nggak bisa
memaafkan diri saya sendiri atas kejadian beberapa hari lalu. Itu keras lho..”
adem banget pria mapan ini berbicara.
“ siapa kak ? “ raffa tiba dibelakang kakaknya.
Kakaknya masih diam nggak percaya.
“ saya calvin Anthony. “ dia mengulurkan tangannya,
menyapa ramah. raffa membalasnya
“ raffa “
“ ini raffa adik saya pak.. “ klara mulai keluar
dari ketidakpercayaannya barusan.
“ adik ? yang kemarin itu…” calvin Anthony mulai
reseh, dia melirik klara ingat kejadian dilobby. “ ah sudahlah, its none of my
business. Sorry.. “ dia nggak meneruskan. “ sekali lagi saya hanya ingin
meminta maaf dan memastikan kamu memang tidak apa-apa klarabela.. “ tandas calvin diiringi senyum indahnya,
pantas saja cewek-cewek suka heboh kalo ngegosipin ini manusia satu. Kalau
dilihat lebih dekat dia emang tampan sekali dan baik.
“ udah pak nggak usah dibahas, itu saya nya aja
ceroboh…” klara mulai mengontrol salah
tingkahnya. “ masuk dulu sini pak.. “
“ saya ingin mengajak kamu coffe break sejenak,
boleh ? “
Klara dan raffa saling tatap, nggak ngerti dengan
keinginan pria itu.
“ mmm I mean, membicarakan meeting kemarin, a
little..” dia meralat sedikit biar nggak dicurigain sebagai ngedate. Klara
merutuk hatinya, ujung-ujungnya urusan kerjaan deh, udah tau lagi mumet lagi
libur masih aja dibahas kerjaan. Untung saja dia boss sendiri, kalo nggak udah
klara semprot tadi nih.
“ wait a minute, saya ganti pakaian dulu..” mau
nggak mau dia patuh. Dipersilahkannya boss nya itu masuk ke ruang tamu, dia
duduk ditemani raffa sementara klara berganti pakaian ke kamar.
Raffa
menemani mengobrol, lumayan lama. Obrolan mereka seputar sport dan skripsi nya.
Calvin menjanjikan bisa membantu sedikit kalau-kalau raffa butuh bantuan untuk
skripsi nya. Raffa tentu saja senang sekali dan nggak mampu menolak.
“ saya sudah siap pak.. “ sore itu klarabela
menggunakan kemeja biru dan celana jeans nya dan dibiarkannya rambut pirang ikalnya
terurai. Calvin mengamati nya sesaat, ia tersenyum kecil.
“ ini kartu nama saya ya, kalo kamu butuh nanti
hubungi saya saja “ dia mengakhiri obrolannya dengan raffa, raffa bersunggut
mantap. Nggak lama dia dan klarabela berjalan beriringan ke arah mobil mewah
milik calvin. Dia membukakan pintu penumpang, setelah keduanya masuk mobil
supir pun menancap gas mobilnya cepat.
Klarabela
selalu berpikiran positif, nggak pernah mengira apapun ini. ini hanya urusan
pekerjaan, dan kalau nanti aldevo sampai tahu klara sudah menyiapkan mental
baja untuk membalas kalau saja anak itu meledak cemburu nya lagi. Calvin
sepanjang perjalanan tidak berhenti mengamati klarabela. Klara sih lagi sibuk
dengan handphonenya sampai nggak sadar begitu. Dia lagi sibuk mengabari devo.
“ hari ini aku ada meeting dadakan sama mr Anthony,
please gak ada cemburu. Ini sebatas kerjaan.. “ katanya mengabari. Klarabela
agak deg-degan juga sih menekan tombol send.
Dan di balas…
“ oke take care, kabari ya kalo udah dirumah…”
Klara senyum lebar mendapati balasan positif dari
kekasihnya itu, syukur deh dia nggak ngamuk jadi bisa tenang.
Tidak lama kemudian mereka tiba direstoran, calvin
turun buru-buru supaya bisa membukakan pintu klarabela juga. Baik dan sopan
sekali pria kaya raya ini, beruntung sekali calon istrinya nanti.
Mereka
masuk ke dalam restoran, ya ini sih mewah banget. Kelasnya calvin memang,
untung saja klarabela nggak berpakaian terlalu simple sekarang bisa-bisa
kebanting sama style nya calvin.
“ silahkan.. “ calvin mempersilahkan klara duduk
dibangku, mereka dekat dengan panggung. Sore itu sedang ada akustik live dari
penyanyi jazz perempuan
“ pak, ini terlalu mewah. Nggak seharusnya bapak
begini. Saya..”
“ panggil calvin aja ya, biar lebih akrab. “
“ okey.. “ klara nggak tau harus ngobrol apaan lagi,
dia canggung banget. Baru kali ini dia diajak keluar meeting berdua boss. “
jadi sekarang, kita mau bahas apa ya ? “
“ kita.. “ sahutnya cepat. “ kenapa kita nggak bisa
sedekat ini dari dulu ?”
Klara menelan ludahnya, perasaannya campur aduk
sekarang antara takut, ke-gr-an juga dan masih nggak percaya saja kalau
sekarang dia lagi berduaan sama pemilik perusahaan tempatnya mencari nafkah.
Pria ini yang di elu-elu kan semua orang, yang dipuji semua wanita karena
ketampanan dan jiwa social yang tinggi dan selera humor serta mau bergaul
dengan kalangan manapun tanpa melihat kasta dan usia.
“ kamu nih bisa aja deh pak… “ klara rada mabuk,
calvin memperhatikannya dengan tenang dan lembut. Dia senang di perlakukan
seperti itu sama klara.
“ iya kamu… “ potong calvin cepat. Klara terdiam
menganga. bodoh banget sih gue segitunya amat sama calvin jadi salah kan gue,
kenapa jadi kamu kamuan. Sungut klara dalam hati
“ gak pak gak ada niat..”
“ aku suka kok kamu begini, nona klarabela…” calvin tersenyum
semanissssss…….
“ oh iya pak, yang mau dibahas apa ya? “ dia ingat
senyum aldevo-nya, lamunan liarnya tentang calvin hilang seketika. Dia focus.
“ kita lagi gak meeting di kantor kla, panggil nama
aja ya. Aku asli nya juga gak formal-formal banget kok. “ lagi-lagi pria itu
memohon, oke baiklah klara menurut kalau begitu. “ bahasan ? gak kla, aku Cuma
basa-basi aja didepan adikmu. Lagian kalo gak gini aku nggak bisa minta maaf
sama kamu..”
“ yaaampuunnnn vinnnnnnnn…. “ klara nyaris teriak.
Calvin tertawa kecil, menjulurkan lidah mencibir meledek. Klara lalu tertawa.
Diperhatikannya lagi dengan dekat. Ternyata yang dibilang semua orang memang
benar adanya, calvin bukan seperti bilyuner-bilyuner sombong dan angkuh seperti
di film. Dia merakyat dan rendah hati sekali, baik dan murah senyum. Adem
banget
“ aku nyesel aja dari dulu gak ada keberanian buat
ajak kamu sekedar ngopi diluar kla. “
KLARA
MATI KUTU. Nggak mampu lagi dia berbicara, sepertinya calvin ini tipe orang
serupa seperti kekasihnya aldevo deh. Bisanya bikin orang kaku. “ tapi kalo tau
aku diajak ngopi taunya mau dibuat gr gini aku juga gak mau kali, nolak aja…”
klara berusaha meledek balik, dibawa santai
Waitress
restoran itu datang, lalu menurunkan secangkir kopi dihadapan calvin dan klara.
“ saya aja mbak.. “ kata calvin sewaktu waitress nya ingin menuangkan kopi ke
dalam cangkir. Dia lakukan seorang diri, klara memperhatikan. Kali ini dia
nggak bisa menghindar, pria ini memang unik dan baik hatinya. Calvin menuangkan
kopi ke cangkir klarabela, memberinya sedikit gula dan mengaduknya lalu
diserahkannya kepada klara. dia juga membantu memotong croissant untuk klara
dipiringnya. Tuhaaan….cobaan apa lagi ini untuknya. “ makasih ya vin.. “
bibirnya bergetar, calvin senyum kecil
“ kalo nggak gini, aku nggak akan tau tentang staff-
ku kan? “ dia mengedip. Klara menelan dan menelan ludahnya saja. “ jadi, cerita
dong tentang keluargamu? “
“ oiya, apa ya? “ klara sebodo amat deh, yang
penting tujuannya baik dan nggak niat macam-macam. Niat baik kan harus dibalas
kebaikan juga. “ aku asli bandung, papa mama baru beberapa hari berkunjung. Di
Jakarta aku berdua adik semata wayangku, apa ya…kalo cerita keluarga tuh buatku
panjang dan menarik. Terlalu bahagia aku cerita tentang mereka. Seharian juga nggak
bakal kelar lho.. “ klara mengelus pipi nya lembut, klara emang punya kebiasaan
mengelus-elus pipi kalau lagi asik ngobrol, calvin mengamati klara tanpa lepas
dari pandangannya satu pun caranya dia berbicara, bergerak serta berkespresi
bikin calvin penasaran sekali.
“ nanti kapan-kapan aku kenalin ke papa dan mama
ya…” klara asal ceplos aja khaaannn.. “ mm…maksut ku biar…biar apa ya…”
“ aku seneng banget kamu bilang begitu… “ potong si
boss adem.
“ duh udah deh, aku nyerah. Kamu aja yang cerita.. “
raut wajah klara memerah seketika, dia pura-pura memakan croissant nya.
“ ajak aku ke papa mama kamu kla… “ calvin memohon.
“ suatu hari nanti..”
Entahlah maksud permintaan calvin ini menusuk
hatinya sekali, seakan dia ingin
mengiyakan dan malah kalau bisa menurutinya sekarang. Klara bimbang, dia
dilema. Ada apa dengan calvin saat ini ? mengapa dia bersikap seperti ini
padanya ? apa memang dari dulu pria ini menaruh hati padanya dan
memperhatikannya ? memang sih, enam tahun bekerja di perusahaan itu klarabela
doang yang nampak biasa saja dan tidak terlalu histeris kalau bertemu calvin,
apalagi kalau tiba-tiba calvin masuk ke ruangan kerja minta dikerjain
berkas-berkas penting saat itu juga. Kalau teman sekerjanya pada heboh klara
mah biasa aja.
Dan
sore itu akhirnya mereka dekat. Menghabiskan waktu untuk bercerita satu sama
lain. Layaknya dua orang yang sudah lama akrab, tidak ada lagi kecanggungan
pada diri mereka. Baru kali ini calvin Anthony seperti ini, dibuat penasaran
oleh karyawan nya sendiri. Dia sanggup menceritakan pengalaman sukses dan karir
serta keluarganya, hanya pada klarabela. Entahlah, untuknya klara sangatlah
special. Sudah dari dulu dia seperti ini padanya sudah sejak lama tapi tidak
ada keberanian. Semoga saja semuanya tidak sia-sia.
“ terimakasih ya kla, sudah mau berbagi tawa sore
ini… “
*
* *
Sejak mengiyakan
permintaan calvin sore itu klarabela tidak bisa hidup tenang, awalnya semua
hanya niat baiknya membalas budi dan menerima permohonan maaf atasannya tapi
semua malah jadi bencana. Ada yang benci setengah mati dengan klara, lalu
berita backstreet nya dengan aldevo pun menyeruak disekeliling kantor. Entah
siapa yang berbuat, tapi sekarang klara sudah jadi artis top dikantor. Semua
mata mengarah padanya, semua nya nyinyir memandangnya. Semua negatif. Klarabela
sudah berubah menjadi buah bibir. Ada yang bilang klarabela memanfaatkan
calvin, lalu pura-pura menjalin cinta dengan aldevo si berondong karena tidak
enak hati menolak cinta anak kencuran, intinya pura-pura. Ada aja orang sirik
yang nggak suka.
“ jadi lo sama berondong, bener nggak sih kla ? “
tanya cia saat makan siang di meja kerjanya. Klara nggak nafsu makan, dia menghentikan suapannya segera. Nggak ada
yang salah sebenernya dengan jadian nya klara dengan devo, nggak ada hubungannya
sama kantor juga. Iya, itu karena mereka cemburu aja calvin dekat dengan klara
jadi masalah kehidupan pribadi klara disangkut pautin segala. Lagian siapa sih
yang sampe hati nyebarin rahasia ini ?
“ sekarang gue tanya balik ya, jadi kalian makan
diruangan gue Cuma mau cari info ? iya ? kalo gue jawab iya atau enggak, ada
untungnya emang buat kehidupan kalian ya ? “ klara yang awal gossip niatnya
nggak mau ambil pusing banget sekarang malah jadi marah beneran. Dia buru-buru
keluar ruangan meninggalkan teman-teman kerjanya itu. Dia bertemu calvin
didepan pintu. Mata mereka bertemu.
“ yang harus kamu tau juga vin, pacarku berondong.
Puas kamu? “ klara sudah dipuncak kesalnya, dia nggak tahu kenapa bisa berkata
seperti itu kepada calvin. Tapi pria itu tak menanggapinya . “ kalo pacaran
sama berondong bikin aku nista banget dikantor ini, besok mungkin aku nggak
akan kerja lagi vin. “ mata klara panas sekali tapi dia mencoba menahannya, dia
keluar meninggalkan calvin segera.
Apa
yang klara takutkan selama ini kejadian juga, hubungannya dengan aldevo lambat
laun pasti terbongkar. Delapan bulan mereka bersama, klara sudah sangat nyaman
dengan hubungan ini dan ia lupa memikirkan segala resiko yang akan terjadi,
sekalipun solusipun tidak mereka jumpai untuk saling bersama. Klara menyayangi
laki-laki itu tanpa dipaksa, pria mapan necis dan berwibawa seperti calvin saja
tidak mampu menggantikannya. Dia sudah terlanjur cinta. Ini baru warga kantor
yang tahu, bagaimana kalau sampai di telinga mama dan papa nya ya ? ya tuhan,
kenapa klarabela harus seperti ini lagi.
Klarabela
terisak, dia berlari ke arah lobby. “ nona klara… “ itu pak dedy. Dia sudah
disana sedari tadi mungkin. “ non kenapa?
“
“ bapak ngapain disini ? “ dia malah balik nanya.
“ diperintah tuan buat jemput non klara, mari non.. “ klara mengiyakan, klara sebodo amat keluar melenggang dari kantor, padahal ini masih jam makan siang. Dia cuek aja, dia pusing.
“ diperintah tuan buat jemput non klara, mari non.. “ klara mengiyakan, klara sebodo amat keluar melenggang dari kantor, padahal ini masih jam makan siang. Dia cuek aja, dia pusing.
“ pak kita mau kemana ? “ tanya klara disela isak
tangisnya sewaktu didalam mobil dan mulai berjalan.
“ non jangan nangis ya, ntar tuan sedih. Senyum
dong… “ dia nggak menjawab pertanyaan klara, klara diam membenarkan dan
menghapus air mata
“ jangan bilang tuan nya bapak ya kalo saya nangis
barusan. “ sepakat. Pak dedy menggangguk dan meluncur ke tujuan. Mereka ke
taman kota. Klara menghapus air matanya, bercermin memakai bedak dan lipstick.
Daripada bête mendingan pacaran deh, batinnya. Dia keluar pintu mobil semangat
membara.
Klara
mencari sosok aldevo disekitar taman kota, mereka memang sekarang ini jarang
bertemu. Paling komunikasi lewat telepon atau sms saja, alasannya sih devo lagi
sibuk mikirin kuliah dan ngejar skripsi. Klara mengerti saja dan nggak mau
ganggu. “ al…” klara terbata. Lidahnya kelu sekali ingin meneruskan, dia
menemui kekasihnya itu. “ devooo… “ air mata klara tak bisa dibendung lagi.
Klara sedih sekali. Dia mendapati kekasih hatinya di atas kursi roda, dia
terlihat pucat dan menggunakan syal tebal serta switer di hawa panas seperti
ini. “ sayang kamu kenapa ? “ klara malah sesenggukan. Dia menyentuh pipi devo,
laki-laki itu menatapnya dan tersenyum
“ kok nangis sih ? “ dia menyentuh tangan klara,
tersenyum manis dan santai . “ kemaren abis nemenin ponakan berenang eh
kepeleset… “ dia terkekeh sendiri. Klara terisak, aldevo pasti berbohong. “ sini dudukk… “ dia mempersilahkan
klara duduk disampingnya dibangku taman. “ apa mau aku pangku biar nggak nangis
lagi ? “ dia masih seperti aldevo-nya dahulu, senang sekali bergurau. Klara
tahu betul devo pasti membohonginya.
“ kenapa sih semua orang hari ini pada seneng banget
bikin aku emosi…”
“ sayang… “ potong devo lemmbuutt sekali. “ kamu
nggak perlu cerita apapun, aku udah tau semua. Kamu jangan bilang gitu ya, aku
nggak mau jadi salah satu orang yang kamu keselin hari ini. “ dia mengelus mesra
rambut pirang kekasihnya itu. Aldevo sayang sekali pada wanita dewasanya ini.
kalau saja tuhan memberinya kesempatan panjang ia ingin sekali terus
membahagiakannya. “ senyum ah, aku nggak suka liat kamu nangis gini. Tuh liat
tuhhh…” devo menunjuk kulit dibawah pelupuk mata klara, klara paling sebal
kalau devo sudah meledek mengarah ke sana.
“ iya iyaa keriput. Puas kan ? “
“ ih aku nggak bilang sih.. “ ledek devo geli.
Mereka tertawa bersama.
Yang bikin klarabela nyaman dan betah disamping devo
ya seperti ini, selalu dilindungi dan dihargai sebagai wanita. Selalu disayang
pake banget.” Kamu sekalinya ngajak ketemuan tiba-tiba kondisi nya begini pula.
Seneng banget sih bikin aku khawatir..” klarabela ngedumel. “ kamu bilang mau
skripsian dulu tapi kok malah nyuruh pak dedi buat jemput aku trus kondisi kamu
begini..”
Aldevo sih sebodo amat, dia malah senyum-senyum. “
kamu nih, aku udah bilang aku kepeleset kemarin, cukup kan ? “ klara tahu
banget sifat devo, dia pasti lagi menyembunyikan sesuatu.
“ aku mau ajak kamu ketemu keluargaku yuk. “
Klara mendelik. Aldevo ingin mengajaknya bertemu
keluarganya apa tanggapan mereka nanti kalau lihat klara.
“ gak usah mikirin yang aneh-aneh, aku udah siapin
jawaban kalo ada yang rese nanya. Ayuk.. “ devo pun memahami isi kepala
klarabela. Tak lama kemudian dia membantu devo mendorong kursi roda dan masuk
ke mobil. Mobil devo pun melesat meninggalkan taman ke arah rumah maminya.
Banyak
sekali mobil diparkiran rumah besar orangtua aldevo. Mental klara seketika
ciut, di dalam mobil dia lebih banyak diam dan murung. Diotaknya masih penuh
dengan kejadian tadi siang dikantor eh ini mau ditambahin lagi kalau-kalau
keluarga devo ada yang rese melihat klarabela berdua devo. Sungguh klarabela
belum siap mempublikasikan hubungannya tapi klarabela juga belum rela kalau
pisah sama devo. bagaimana nanti tanggapan keluarga besar devo melihat kekasih
yang di bawa devo ternyata lebih tua dari nya, seorang anak kuliahan menjalin
hubungan dengan wanita dewasa. Aduh…
Aldevo
nekat turun dari mobil tanpa bantuan kursi roda dan mampu sendiri, klarabela
dan pak dedy sudah mau membantu tapi dia menolak keras. Klara masih nggak bisa
berfikir normal, ini masih membingungkan. Ada apa dengan aldevo saat ini.
“ santai ya, aku mau semua keluargaku kenal kamu..”
bisik devo lembut sewaktu mereka sudah beriiringan jalan menuju ruang tamu,
klarabela masih tetap diam gugup. Sama persis kayak anak abege pertama kali
ketemu orang tua pacar.
“ aldevooo… “ suara merdu dari seorang perempuan
setengah baya menghampiri mereka. Itu mami devo pasti.
“ mii.. “ mereka berpelukan, si mami mencium pipi
kanan kiri serta kening anak laki-lakinya itu.
“ sudah sehat sayang ?” tanya mami masih diposisi
memeluk, klara yang dengar agak kaget.
“ devo nggak papa mi. “ dia melepas pelukan mami. “
ini klarabela mi…” aldevo memulai aksinya memperkenalkan diri klarabela. Si
empunya nama Cuma bisa mematung. Ini yang dibilang mamanya ya, yang namanya
tante sofia mami aldevo mantan tetangganya dulu? Cantik, awet muda. Aduh gimana
ya kalau sampai dia cerita-cerita ke mamanya tentang ini.
“ klarabela tante. “ klara mengontrol detak
jantungnya. Dia tersenyum
“ ini yang kamu sering certain ya sama mami
ditelepon ? “
Klara melongo. Mati lu! Cerita apa tuh devo ke mami
nya.
“ iya mi, lebih cantikkan ?”
Mami manggut-manggut mantap. Klarabela tersenyum
kecil dan lega melihat raut wajah mami devo, dia sangat tulus dan hangat
menerima kehadirannya sore ini. “ ommmmm evoooo “ suara anak laki-laki
terdengar nyaring sekali berlari ke arah devo, menabrak devo sampai minta
digendong. Aldevo dengan sigap mengendong meskipun merintih, karena selain anak
itu gemuk devo juga masih belum stabil dengan kesehatannya.
“ kamu nih, om kan kaget .. “ ledek devo. “ kapan
datengnya? “
“ abisan om lama banget sih.”
“ om jemput tante cantik duluu dong, katanya mau
ketemu…”
bobby melirik klarabela. “ nice to meet you tante…”
Anak ini tampan sekali, persis seperti devo. apa
mereka bersaudara ? sayang sekali devo kepada anak ini..
“ kamu lagi libur kerja ya bel ? “ tante sofia
mendekati klarabela. Dia ramah dan juga lembut. Klara masih nggak percaya aja
sit ante sofia memanggilnya dengan bela. Ini pasti kerjaan devo deh.
“ iya tan, lagi libur..” klara menjawab bohong,
aldevo berkedip centil. “ devo cerita apa aja tentang saya tante ? yang
jelek-jelek ya ? “
Lalu
tante sofia dan anak laki nya tertawa bersama, klara sebel. “ bener ya kata
devo kamu orangnya asik hehhee..”
Dipuji seperti itu klarabela otomatis tersipu malu,
dia nggak percaya aja respon tante sofia kepadanya sangatlah baik. Jadi makin
cinta nih sama devo. sesudah itu tante sofia dan klara terlibat dalam obrolan
seru, klarabela sadar betul dunia nya nggak jauh dari tante sofia. Wanita
dewasa yang punya hobi sama, berkelut dibidang bisnis dan berperanan penting
dalam jabatannya dikantor. Klara pun nyambung dengan setiap obrolan yang
dibahas tante sofia. Dari mulai rumah tangga, urusan dapur, kantor, bisnis
sampai restaurant. Klarabela hanyut sekali, dibiarkannya dua wanita itu
bersama, sementara devo pindah ke ruangan lain.
Aldevo
memperhatikan keduanya dari jauh, dia tersenyum lega. Bahagia sekali melihat
dua wanita kesayangan dan yang paling dia cinta bisa bersama dan cepat akrab.
Rasanya ingin sekali cepat meminang klarabela dan menjadikannya menantu kesayangan
mami. Biar mami ada teman ngobrol seperti ini. dan yang paling aldevo bahagia
serta lega adalah seluruh sanak keluarga nya sore itu yang tengah berkumpul
sangat hangat menyambut kehadiran klarabela. Mereka menghargai aldevo, mereka
memahami setiap keputusan aldevo. Dan mereka mendukung baik. Klarabela pun lupa
dengan kesedihannya hari ini.
Dua
jam berlalu klarabela bersama keluarga klara. aldevo sangat tidak menyangka
kalau respon mereka sepositif ini apalagi klarabela menyukai anak kecil.
Keponakan devo sangat nyaman dengan kekasihnya itu apalagi si bobby. Keponakan
devo yang paling gendut dan bule yang daritadi ngegelendotin om nya mulu.
“ tante, aku sayang sama tante. “ bobby menghampiri
klara sewaktu wanita itu tengah sibuk
memasak bersama devo. klara terharu sekali mendengarnya, sejauh inikah rasa
sayang nya kepada aldevo serta keluarga yang baru saja dia kenal ? rasanya
memang berbeda sekali dengan kehangatan keluarga dhafin terdahulu. Ya tuhan,
bila saja aku bisa memilih. Ingin aku terlahir kembali sebagai jodoh aldevo.
Klara berdoa dalam hatinya.
“ baru kali ini om evo ngenalin pacarnya, sebelumnya
mah nggak pernah. “
“ heheh…” klara mulai bingung dan nggak enak ati.
Ini anak nyerocos aja sih, masih kecil juga. “ udah ah, tante GR banget bob. Lagian
kan tante baru kenal bobby..”
“ iya tante tapi bobby yakin, tante tuh….mmmm apa
ya..” dia menaikan matanya seperti sedang kebingungan menyusun kata. Devo
menahan ketawanya melihat perbincangan dua orang kesayangannya itu. “ apa ya
tan…” bobby masih bingung.
“ awet jagoan !” om nya yang rese ikut ambil suara
bikin klara mencubit perutnya.
“ kamu nih, ngajarin anak kecil jangan kaya gini ah.
Awas aja ya dia dewasa sebelum waktunya. “ cerocos klarabela sok kesal. Devo
meringis sakit diiringi kekeh ketawanya
“ tapi makasih ya doa bobby, tante amin-in sekali…”
Aldevo
terdiam, terpaku diposisi berdirinya. Tawanya henti seketika. Hatinya seperti
ditonjok keras sekali. Rasa percaya diri dan optimis tinggi ini kembali hilang,
entah kenapa. Apa yang aldevo perbuat kepada wanita ini, sakit rasanya bila
suatu saat nanti melihat kenyataan yang tidak berjalan sesuai harapan bobby dan
diri klarabela saat ini.
“ udah yuk ah, makan. Om laper nih “ aldevo kembali
normal, dia mengalihkan obrolan. Dia menggendong sepupunya itu, diikuti klara
kea rah ruang makan. Disana keluarganya sudah berkumpul semua.
Keluarga
besar aldevo sudah berkumpul di meja makan, klarabela duduk bersebelahan dengan
aldevo. Klara merasakan gugup yang sangat hebat, dia gemeteran sekali
berhadapan dengan keluarga devo ini, tapi sekali lagi klara sangat bersyukur
karena laki-laki ini nggak pernah kehabisan cara untuk membuat klara selalu
nyaman didekat nya dan keluarga nya. Di genggamnya erat dan hangan jemari
klarabela, dia liriknya lembut kekasihnya yang lagi gugup itu. Klara membalas
dengan senyum. Kedewasaan aldevo ini memang sangat klara acungi jempol, dia
tahu sekali bagaimana bersikap baik dan menyayangi perempuan. Ah, aku ingin
sekali rasanya ini tak cepat berakhir…
“ kenapa kamu gak kenalin dari dulu aja sih vo si
klarabela ini.. “ mereka terlibat dalam obrolan seru di tengah makan malam,
kini giliran aldevo-klarabela sepertinya yang mau dibahas, klarabela menarik
nafasnya dalam-dalam berusaha kalem. Di tanya begitu klarabela deg-degan.
“ susah om dapetin hatinya. Susahhh banget, ini aja
devo rasanya kayak menang lotre bisa jadian sama dia. Bangga banget ngenalin
kekalian…. “ penjelasan aldevo ini terlalu dilebihkan memang tapi mampu membuat
klarabela sedikit tenang. Baik sekali dia, memuji klarabela begitu.
“ and you are lucky one to have him, klarabel…” mama
nya bobby kini gentian memuji ponakannya itu. Klarabela tersenyum manis. “ yang
terbaik untuk kalian ya..”
Aldevo
tersenyum kecil. ini sakit sekali. Entah apa yang muncul di dada nya sekarang,
ingin sekali menjerit keras-keras. Ingin sekali menceritakan apa yang dia rasa
sekarang tapi tidak bisa. Bibirnya kelu. Devo merasakan sesuatu yang indah
sepertinya akan dia rasakan sebentar saja. Aldevo harus siap, aldevo harus tahu
konsekuensi nya. Aldevo harus ikhlas. Dia mencintai klarabela. Dia lah wanita
pertama yang sangat ia kagumi selama ini, dia harus bisa membahagiakan
klarabela sesingkat apapun nanti waktunya bisa bersama klara. seenggaknya dia
pernah ada dikehidupan klarabela dan menggoreskan kebahagiaan yang bisa diingat
seumur hidup wanita itu.
*
* *
Jam di mobil aldevo menunjukkan pukul sepuluh malam,
klarabela baru mau pulang. Si raffa dari tadi sudah nelponin mulu. Dia pasti
khawatir berat kenapa sampai selarut ini kakaknya belum juga pulang, apalagi
ditambah si denis yang sibuk telepon ke rumah mastiin klara sudah pulang belom.
Raffa takut ada apa-apa sama kakaknya itu. Kenapa denis menelpon, padahal kan
mereka sekantor ?
“ makasih ya sayang, aku seneng banget. Hilang
seketika nih kesel dari pagi..” klarabela mengecup pipi kekasihnya itu. Dia
kembali duduk dan memeluk lengan aldevo. Panas, suhu tubuhnya panas sekali.
Tapi klarabela nggak boleh panik, aldevo pasti marah.
“ aku yang makasih sama kamu bel.” Dia menatap lurus
dan dalam mata klarabela. “ jaga diri kamu ya.. “
Klara diam , kaku. Dia merasakan ada yang aneh di
tubuhnya saat ini. panas sekali, semuanya. Ada apa ini ? kenapa kalimat devo
barusan bisa membuat efek sehebat ini. jaga diri ? emang dia mau kemana? Klara
merasakan kembali padam wajahnya saat ini. sesak sekali dadanya. Kenapa ya
dengan dirinya sekarang ? apa ini karena seharian nangis ? tapi kenapa dia
merasakan tidak ingin berpisah dengan kekasihnya untuk hari ini, seakan mereka
tidak akan bertemu lagi untuk selanjutnya.
“ kenapa kamu bilang kayak gini, vo ? kamu nyerah
sama semua ini ? “
Klara nggak tahu apa yang terjadi dengan dirinya
saat ini, kenapa pula dia bisa menangis sekarang dihadapan devo. Rasanya ada
yang berbeda hari ini, kepengen selalu bersama kekasihnya itu. Memeluk nya erat
dan menghabiskan hari bersama. “ aku nggak bisa ngejanjiin kamu kehidupan yang
indah selamanya bel, tapi ingat selalu ya. Aku nggak akan pernah untuk berhenti
mencintai dan mengagumi kamu, meskipun nantinya kita harus pisah. Tuhan punya
rencana yang lebih indah dan lebih baik di atas segala rencana umantNYA bel,
aku selalu percaya itu. Dia menggantikan yang terbaik dengan yang terindah. “
“ kamu nggak percaya kita bisa bersama? Kamu nyerah
sama perbedaan usia kita, iya vo? “ klara mulai menaikkan suaranya, rasanya
tidak bisa menerima dan mencerna omongan devo barusan. Tapi devo berusaha
tenang. “ aku udah berusaha semampu aku buat mengakui semua ini vo, pelan-pelan
mempublikasi kan nya tapi kok… “ klara terisak lagi. Dada nya sakit bukan main.
Sekian bulan bertahan kenapa akhirnya seperti ini, apa iya tuhan punya rencana
lebih indah lagi ? apa iya dia harus berpisah dengan aldevo ? apa karena
perbedaan usia saja ? ya tuhan.. apa iya klarabela harus merasakan lagi
pahitnya patah hati.
Aldevo
membiarkan wanita nya itu menangis tertunduk kelu. Dia terdiam , di raihnya
tubuh klarabela ke dalam pelukkannya. Dalam. Dan erat. Klarabela makin
sesenggukan. “ maaf kalo aku bikin kamu terlalu jauh bel, jujur aja aku nggak
bisa jauh dari kamu. Semenitpun. Aku nggak pernah mau pisah sama kamu tapi kamu
harus ingat, tuhan punya kuasa di atas segalanya. Udah ya sayaang, jangan sedih
lagi. Aku tetap sayang sama kamu, menjaga kamu sesuai kemampuanku kok “
tuturnya lembut. “ udah ya, aku paling nggak bisa liat kamu kaya gini. “
Klarabela mengangkat wajahnya, menatap aldevo lurus
tajam. “ kamu yang bisa bikin aku jatuh cinta segini hebatnya vo, aku bahkan
nggak memperdulikan apa yang mereka bilang nantinya. Usia, perbedaan. Aku nggak
peduli, selama itu masih bisa bareng sama kamu. Paham kan? “
“ dan kamu yang bikin aku selalu dan nggak pernah
habis buat jatuh cinta sama kamu setiap menit, detik dan hari nya klarabela. “
aldevo mengusap lembut pipi klarabela tulus, kali ini klarabela merasakan
sesuatu yang indah dan nyaman dalam hatinya yang nggak bisa dijelaskan dengan
kalimat. Ingin sekali rasanya menghentikan waktu agar terasa lama berdua
bersama kekasihnya ini.
Aldevo
menatap klarabela lurus, dan lembut. Klarabela mulai tenang, di kecupnya dahi
kekasihnya itu. Di genggamnya erat tangan klarabela saat itu. Tak bisa
sedikitpun lepas pandangannya dari mata klarabela, terimakasih tuhan sudah
memberikan kesempatan terindah seperti ini dalam hidupnya untuk mengenal dan
mencintai sosok indah seperti wanitanya ini. diciumnya lembut bibir merona
klarabela saat itu, dalam. Lama. Dan tenang
*
* *
Tiga bulan kemudian..
Sudah
tiga bulan berlalu sejak malam bersama aldevo itu. Klara tidak mendapat kabar
sedikitpun tentang aldevo, hancur hati klarabela berkeping-keping. Sudah tidak
ada lagi yang bisa klarabela jelaskan pada siapapun isi hatinya saat itu. Dia
kembali masuk dalam fase dunia kelamnya, bahkan bisa dibilang lebih kelam
daripada sebelumnya. Dia minta resign kantor tapi pimpinannya tidak mengizinkan
dengan alasan selama ini klarabela lah yang mampu memberikan keuntungan untuk
perusahaannya dengan ide-ide nya yang cemerlang maka dengan kebijaksanaannya,
diberikannya cuti istirahat untuk klarabela sementara waktu sampai ia tenang
kembali.
Mama
dan papa juga sudah mengetahui tentang hubungan anaknya itu dengan aldevo,
teman sebaya raffa. Awalnya mereka berfikir klarabela depresi sampai nggak bisa
menemukan tambatan hati lain , anak kuliahan di pacari juga. Tapi setelah
mendengar cerita dari raffa dan melihat perubahan positif klarabela setelah
mengenal aldevo, mama dan papa akhirnya bisa menerima. Meskipun akhirnya
klarabela harus merasakan sakitnya lagi.
Tiga
bulan sudah aldevo menghilang. Nomor handphone dan rumahnya pun tidak ada yang
bisa dihubungi. Ribuan email serta pesan singkat sudah dikirim klarabela tapi
tidak ada satupun balasan, hingga suatu malam klara begitu merindukan sosok kekasihnya
itu. Dia meminta raffa mengantar nya kerumah aldevo, tapi percuma saja di rumah
itu sudah gelap gulita dan tertera tulisan ‘for sale’ . rasanya sakit sekali,
melebihi sakitnya dahulu. Entahlah apa lagi yang aldevo buat selama ini.
Air
mata klarabela sudah kering, ribuan doa sudah dia panjatkan kepada pemilik hati
dan kuasa alam semesta ini. dia selalu berharap keajaiban pasti datang dan
membawa aldevo nya kembali. Rindu sekali klarabela dengan keceriaan laki-laki
itu. Entah apa yang membuat mereka terpisah selama ini. tuhan tengah
menunjukkan kuasanya. Klarabela ingat betul malam terkahir bertemu dan
mengingat kalimat aldevo. Ini campur tangan tuhan, manusia punya rencana tapi
dia lebih tahu apa yang terbaik untuk aldevo maupun klarabela. Semoga saja
tuhan memberikannya kesempatan lagi bersama dengan aldevo.
Subjek : kangen si bawel
Jadi gini cara kamu bikin aku makin jatuh cinta dan
nggak mau ngelepasin kamu, hey anak muda ?
Kenapa sih suka banget bikin aku cepet keriput ?
Nggak. Tenang aja, aku nggak nangis kok.
Cepat kembali ya,
Aku rindu.
Sangat.
Regards,
Anastasia klarabela
Klik. Klarabela menutup laptopnya, airmata nya
menetes kembali.
Klara harus kembali normal,bagaimanapun susah dan
pahitnya kenyataan sekarang ini. beginilah konsekuensi menjalin hubungan dengan
anak abege, masih labil dan suka bikin nyesek. Klara harus bangkit lagi,
meskipun kalau lagi bengong terus ingat semua tentang aldevo lalu kembali
keingatan ditinggal selama tiga bulan ini dengan kondisi yang memprihatinkan,
klara sulit sekali move-on. Oh tuhan berikan keajaiban…
“ drrrtttt…drrttttt….” Getaran handphone klara
dimeja sangatlah kencang membuat si empunya sontak melirik, berharap dan selalu
berharap itu aldevo.
‘ calvin Anthony calling.. ‘
Klara menhembuskan nafasnya panjang, mau apa lagi
bos nya ini menelepon.
“ ya.. “ klara mengangkat teleponnya, dia menghargai
kebaikan pria diseberang telepon itu selama ini. karena selagi kondisi klara
seperti ini calvin selalu support, bahkan keinginannya untuk mengundurkan diri
dari perusahaan calvin tidak di setujui. Dia malah memberikan keringanan, cuti
istirahat saja yang bikin seisi kantor kembali nyinyir dan menjadikan klara
buah bibir setiap harinya. “ kenapa pak…mm maksut saya vin.. “
“ sibuk ya ? “
“ udah terlanjur diangkat teleponnya nih, masih
berani nanya sibuk ? ada apasih? “ klara mulai nyolot, tapi nggak membuat
calvin jera
“ sudah sehat belum bel…? “
Klarabela rindu aldevo. Panggilan itu mengingatkan
dirinya. “ iya udah vin, kenapa ? besok aku udah mulai ngantor kok. Makasih ya
sebelumnya kamu baik banget ke aku ? “
Pria diseberang telepon sana tertawa. “ aku seneng
dengarnya. Udahlah nggak usah dibahas, aku berhak mempertahankan orang yang
berjasa buat kantor juga kan ? “
“ bisa aja. “
“ kalau saya ajak makan malam, kamu mau nggak ? “
Klarabela
bengong. Ini maksutnya kencan resmi ya ? apa iya aldevo nggak bakalan kembali
lagi nantinya ? tapi mau sampai kapan klara menunggu tanpa komunikasi
sedikitpun, mana dia tahan ? apa iya dia mengiyakan ajakan calvin, apa nggak
terlalu cepat ya ?
“ ehehe…boleh deh.. “ klara mengiyakan. Entahlah
kekuatan apa yang masuk ke tubuhnya saat itu, dia seperti mendengar bisikan
yang menyuruhnya pelan-pelan membuka hati kembali.
“ okay, I’ll pick you up honey… “
Klik .
Calvin menutup telepon, klara mematung. Dia nggak lagi salah dengar kan ya barusan,
calvin ingin menjemputnya sekarang ? mereka akan pergi bersama lagi setelah
beberapa bulan yang lalu semenjak di restaurant elite itu untuk pertama kalinya
dan kini terulang kembali ? pasti canggung sekali, apalagi calvin dan klara
sempat renggang semenjak gossip merebak dikantor. Malu sekali kalau ingat
beberapa bulan lalu. Tapi klarabela nggak mungkin menolak ajakan calvin hari
ini biar bagaimanapun juga dia atasan klara toh nggak ada salahnya menurut dan
membuka diri, untuk berteman lagi. Eh tapi tunggu dulu, barusan di telepon
calvin memanggilnya ‘honey’ . ini pendengaran klara yang lagi bermasalah akibat
depresi atau emang calvin serius sih.
Tiga
bulan sudah dia terpuruk, seperti ini lagi, lagi dan lagi. Klarabela bukan tipe
seperti wanita lainnya yang lemah karena cinta, dia harus kembali tegar harus
kembali bangkit. Ini bukan seberapa, klarabela harus berjuang lagi. Tuhan pasti
punya rencana indah.
“ criing.. “ bagai disambar petir di tengah terik
siang, klara mendekatkan dirinya ke arah
laptop yang di buka nya lagi tadi sekedar mengecek kalau-kalau ada email masuk
dari aldevo. Dan tangan tuhan memang bekerja, ada email masuk saat ini
Subjek : rindu si cantik
And you always be my favourite.
Wish you were here..
Klara
ingin sekali menangis ingin juga loncat kegirangan layaknya anak sekolahan yang
ditembak pacarnya tapi sekali lagi klara yakinkan dirinya, dia menarik nafas
nya panjang. Kali ini dia harus kuat, aldevo pasti sesaat memberikannya
kesenangan. Dia nggak boleh kegirangan. Klara nggak mau sakit lagi. Klara
percaya rencana tuhan saja sekarang, kalau memang dia berjodoh dengan aldevo.
Laki-laki itu pasti mencari nya dan kembali ke pelukannya sekarang. Tidak
seperti sekarang, datang lalu menghilang.
Klara mematikan laptopnya.
Dia berjalan ke arah lemari pakaian, bersalin menggunakan
dress sebaik mungkin untuk memenuhi makan malam calvin. Si boss yang baik hati
dan teramat ramah kepada dirinya.
***
Calvin
sudah tiba dirumah klarabela lima belas menit yang lalu, dia asik ngobrol
diruang tamu dengan raffa dan anin tapi klarabela sendiri belum turun juga dari
kamar, katanya sih lagi dandan.
“ sorry ya pak, lama. Bela kalo dandan gitu emang “
raffa yang resah sendiri, masalahnya kakaknya itu kalau janjian dandannya
memang paling lama padahal tadi waktu raffa tanya dikamar males-malesan
jawabnya mau ngedate sama calvin, gak semangat lah gak mood lah gak bergairah
lah. Dasar perempuan.
“ iya ga papa raf, emang begitu kan kodratnya
wanita. Bersolek yang lama demi membahagiakan pria nya. “ katanya sok bijak,
raffa sama anin senyum geli aja. “ eh nggak usah manggil bapak ya raf, saya
juga bisa bersikap santai kok. Lagian ketuaan ah..”
“ gak gitu juga kali pak…” raffa tertawa, bisa
dibilang dia mulai nyaman dengan kehadiran calvin saat ini.
“ kalian kapan married ? “ tanya calvin lagi, anin
merona malu
“ nanti vin, kalo bela udah nikah, menghormati
lah..” tandas raffa segera
“ oya, kapan tuh? “
Lalu mereka diam seketika. Ups! Kayaknya calvin
salah nanya deh
“ oh sorry, I mean semoga disegerakan ya. “ ralatnya
lagi
“ terimakasih kak…” anin membalas sopan. Nggak lama
setelah itu turunlah klarabela dari kamarnya. Malam ini klarabela nampak cantik
sekali. Dress merah marun dan highheels nya serta rambutnya yang digerai
membuatnya terlihat indah apalagi dia menggunakan make-up komplit tapi tampak
natural. Calvin Anthony pun menganga dibuatnya, melotot dan tak berkedip.
Cantik dan anggun sekali wanita ini. pujinya dalam hati
“ ayo vin… “ klara berusaha ceria. Anin mendekati,
memperhatikannya dari ujung kaki sampai kepala.
“ kak, cantik banget kamu…” puji anin cepat.
“ ih apasih, aku malu tau kalian liatin gini. Biasa
aja dong…”
“ aku suka kak liat nya nih, kapan-kapan bantuin aku
make-up ya kak. “ pesan anin lagi akrab, klarabela mencibir.
“ yuk..” calvin menyodorkan telapak tangannya saat
itu. Nggak ada perasaan takut ataupun cemas lagi saat itu. Disambutnya tangan
calvin segera. Yatuhan dosa kah ia menghianati aldevo, tapi…. Klara nggak kuat
menahan sakit menunggu kembalinya aldevo sekarang ini.
“ tunggu vin “ sebelum menutup pintu rumah, dia
membalikan badannya. “ eh adik-adik sayang, kalian jangan macem-macem ya
dirumah. Ayo bubar… pacaran di mall aja sana. Mbak ety lagi gak dirumah. Awas
ya kalian nakal.” Pesan klara rempong, sempat-sempatnya. Bikin si raffa sama
anin geli dibuatnya.
Klarabela
masuk mobil diikuti calvin. Kali ini dia yang menyetir tidak dengan supirnya
lagi, mungkin biar makin romantis kali ya berduaan klara. raffa memperhatikan
kakak kesayangan nya itu, ingin sekali rasanya menitikkan air mata. Kasihan sekali
dia pada kakaknya itu, sudah bahagia lalu kembali terpuruk, begitu terus. Ada
apa dengan pria-pria itu ? sebegitu jahatnya menyakiti klara. raffa jadi merasa
bersalah memperkenalkan aldevo kepadanya, mereka dekat dan berani nekat pacaran
backstreet. Klara mulai membuka diri dan melupakan kisah percintaannya dengan
dhafin. Klara mulai menemukan keceriaannya. Hanya hitungan beberapa bulan,
setelah itu nggak ada lagi cerita tentang aldevo. Nggak ada lagi kabar dari
sahabatnya itu. Kediamannya yang didekat rumahnya pun kosong, dikampus juga
nggak ada kabarnya padahal dia lagi sibuk skripsian kayak raffa. Kemana
sebenarnya aldevo selama beberapa bulan ini ? setega itu kah dia menyakiti
klara. dulu raffa ingat janji devo padanya, dia berjanji akan membuat kakaknya
bahagia dan tidak terpuruk lagi mengembalikan keceriaannya tapi kenapa sekarang
begini ? klarabela hancur lagi hatinya mungkin lebih dalam. Semoga saja apa
yang dibilang klarabela tadi benar, tangan tuhan sedang bekerja menyiapkan
kebahagiaan besar untuknya.
Klara
kebingungan sekali sewaktu mobil calvin berhenti di parkiran kantor, katanya
mau dinner kok malah kesini ? oh mungkin mau ngeberesin berkas sebentar kali
ya.
“ gak usah bingung, aku sengaja kok ngajak kesini.
Yuk… “ mereka turun bersamaan, digandengnya tangan klara lembut. Dada klara
berdesir hebat.
“ aku tutup ya mata kamu… “ pinta calvin, klarabela
menurut saja.
Mereka
memasuki lobby kantor yang gelap. Entahlah, klarabela rasanya sudah pasrah
kalau saja calvin bertingkah konyol kepadanya. Abisan udah terlalu depresi.
“ kamu boleh buka mata kamu, aku itung sampe tiga
ya.. “ perintah nya ditelinga klarabela, dia manggut saja. “ satu…dua….tiga…”
“ surpriseeeeeee………………. “
Mata klarabela terbuka lebar, terbelalak kaget.
Sangat kaget. Seisi lobby itu teman-teman kantornya. Ini lobby didesain khusus,
dengan tulisan ‘welcome back klarabela’ dimana-mana. Teman-temannya bersorak
teriak semangat. Satu persatu menghampiri memberi nya pelukan dan bersalaman.
Klara masih diposisi mematung. Dia nggak percaya semua ini. seperti mimpi,
dirinya kan tidak sedang ulangtahun kenapa ada perayaan seperti ini. bukannya
teman-temannya masih kesel pada dirinya gara-gara calvin yang lagi baik-baiknya
sama klarabela dan menomor satukannya ?
“ welcome back sayaaang….” Itu denis, dia memeluk
paling meriah. Klara tersadar
“ ini kenapasih nis ? bingung gue.”
“ buat lo, kita semua sayang lo. Jangan kelamaan
cuti. “ bisiknya
“ iya tapi.. “
“ makanya kalo cuti jangan ngalahin orang lahiran.
Lama amat “ si denis asal banget jawabnya. Bikin klarabela meninju bahunya. apa
yang denis bilang ada benarnya juga, ini pasti karena yang lain menyayanginya,
nggak mungkin mereka terpaksa melakukan hal ini. ini juga pasti ulah calvin
deh.
“ vin… “ dia melirik calvin yang sedari tadi Cuma senyum-senyum
lega aja
“ for you bel. “ katanya pelan.
“ kamu nih vin, aku malu tau. “
“ biar kamu yakin sekarang, kalo selama ini yang
sayang sama kamu banyak dan nungguin kamu buat seaktif dulu. Nggak Cuma aku
loh.. “
Klarabela
tertawa kecil, calvin benar. Dia memang tidak seharusnya membenamkan dirinya
terlalu berlarut-larut. Dia tidak seharusnya berfikiran negatif ke rekan-rekan kerjanya.
“ kla, kerja lagii donngg…” itu si cia. Si biang
kerok si tukang gossip tapi hari ini dia nampak sekali merindukan klara. klara
membalasnya dengan senyum
“ iya neng, mamang jadi kangen neng. Gak ada yang
mamang temenin lembur lagi sampe gelap nih neng.. “ mang junet ikut ambil suara
dibarengin tawa geli teman-teman lainnya.
Klara
tersenyum, tangan tuhan bekerja secepat ini. raffa benar, kalau kita ikhlas dan
mampu menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai masalah dan rintangan pasti
hasilnya akan indah. Meskipun pelan-pelan. Terimakasih tuhan.
“ terima kasih ya buat semuanya, aku nggak nyangka
banget bisa kayak gini. Mudah-mudahan besok atau lusa udah bisa ngantor kok…”
“ makasih juga dong sama bos…” timpal denis
berteriak. Klarabela diam merona, menyimpan malu nya. “ yaudah, kalo malu, kita
paham kok. Abis ini bubar nihhh…” jelasnya lagi. Dan benar saja, satu persatu
mereka meninggalkan ruangan, tinggal lah calvin dan klara
“ aku…makasih banget buat usaha kamu. “ klara
membuka suara, mendekati calvin. Pria itu menatap nya penuh kehangantan.
“ yah Cuma mau ingetin kamu aja sih kalo yang sayang
sama kamu itu nggak Cuma satu orang, tapi banyak. “
“ maafin aku udah negatif terus ya ke kamu..”
“ never mind..” balasnya . “ suka nggak ? “
“ iya, banget. Maafin ya udah terlalu kekanakan
banget sampe separah ini. kamu tuh baik banget sama aku, aku gak ngerti harus
balas dengan cara apa. Jarang banget boss begini loh…”
“ iya, kangen liat kamu dikantor juga sih..”
Dan
disini klarabela merasakan degupan jantungnya yang cepat dan keras. Ini yang
dia rasakan sewaktu bersama aldevo. Kenapa beberapa sifat mereka mirip. “ eh
ini aku saltum dong berati vin.. “ klara mengalihkan rasa malunya.
“ gak kok, cantik. Lebih anggun “
“ makasih ya.
You help me twice “
“ oh ya ? yang mana ? “
“ yang cuti dan yang ini nihhh….” Klarabela
mencibir. Ingin sekali dia peluk pria baik hati dihadapannya ini, tapi wajah
devo muncul sekelebat dipikirannya.
“ yuk, dinner. Café sebelah yah..”
Klarabela
membiarkan tangannya digandeng calvin menuju café sebelah kantor mereka.
Klarabela ingin membiarkan ini berjalan begitu saja adanya. Kenangan aldevo
setiap harinya tidak mungkin ia lepas begitu saja. Lagian status mereka memang
masih jadian, klara hanya ingin membuka hati untuk berteman lagi dengan calvin.
Klara berhutang kebaikan pada orang ini.
“ harusnya aku nanya dulu ya, mau makan dimana.
Salah kostum gini..” klara masih nggak enak hati sama penampilannya malam ini,
apalagi Cuma ke café sebelah kantor, abisan dikirain ke restaurant bintang lima
kayak pertama kali mereka ngedate sih
“ kamu nih, cerewet banget ya. Emang ada yang peduli
ya dengan pakaianmu? “ si calvin mulai bisa bercanda, klarabela manyun. “
lagian aku terima kamu apa adanya kok, kalau kita nikah kan nanti kamu bakalan
nggak pake busana didepan aku. Aku terima kok..”
“ calvinnnnn…” klara melotot banget, nggak nyangka
aja ternyata calvin lebih ngeselin daripada aldevo. Calvin terkekeh.
‘kalo kita nikah ? ‘ kok omongan calvin to the point
banget sih. Siapa coba yang mimpi nikah sama bilyuner kayak gini. Mau sih mau
banget tapi kayaknya gak mungkin.
Malam
itu calvin bahagia, akhirnya klarabela bisa dibujuk. Akhirnya dia bisa ketemu
langsung dan mengajakknya makan malam lagi. Rindu sekali dirinya dengan sosok
klarabela ini. seandainya sedari dulu dia punya kekuatan seperti ini
mendekatinya, pasti sudah sejak lama mereka bersama dan malah sudah berkeluarga.
Tapi ini mungkin sudah di atur tuhan sedemikian jauhnya, semoga saja nanti
akhirnya mereka bisa bersama.
“ jadi, aku harus balas dengan apa ya kebaikan kamu
ini tuan muda ? “ klara mulai santai dan larut dalam suasana malam itu,
dirasakannya sudah hilang penatnya perlahan meski kadang bayangan aldevo selalu
terbesit dipikirannya. Namun dia selalu berusaha membuangnya jauh-jauh. Yah
seenggaknya untuk sementara agar hari nya bisa kembali normal lagi.
“ nanti ya balas budinya yang mudah aja. “
“ maksut kamu? “
“ kita ketemu mama papa aku aja ya. Itu aja sih
keinginanku “
“ lah ?”
Klarabela
melongo lebar, apalagi ini. kenapa si calvin persis banget sama kelakuannya
devo ya. “ kenapa ? katanya mau balas budi… “ ledek calvin sembari mencibirkan
bibirnya, klara diam.
“ yaudah deh. Daripada aku nurutin kemauan kamu yang
aneh-aneh..”
“ masasih ? “ calvin menyeruput teh di cangkirnya
sekarang, dia menaikkan alisnya, “ yah palingan Cuma minta di nikahin aja sih
sama kamu..” tandasnya lagi. Klarabela yang lagi meminum orange juice nya
mendadak keselek
“ uhuuuk….uhuukkk..prrrrttttt “ dia tersedak hebat.
Ngaco amat ya calvin ini, berani bener udah ngomongin nikah aja. Katanya dalam
hati
“ calm honey, its just a joke. Tapi kalo tuhan
maunya kamu sama aku jodohnya, aku bisa apa….”
Klarabela makin gak karuan saat itu. Ini yang nggak dia suka dari
‘kebaikan’ yang dibalas dengan ‘cinta’.
Nggak mungkin dia bisa secepat itu melupakan aldevo, sedangkan mereka
memang belum pisah kok
“ stop it. Aku pulang nih… “ ancam klara jadi salah
tingkah. Dress nya malam itu sedikit basah karena tersedak tadi, calvin melihat
klara seperti itu hanya bisa tertawa geli.
“ oke sekarang bahas kantor aja ya, kamu ini boss
aku loh. Nggak ada bahasan yang lebih bagus apa ya dari yang barusan…”
“ kamu pikir aku orangnya bercanda ya bel ? “
“ tapi kamu tau kan aku masih….”
“ aku nggak pernah maksa buat kamu ngelupain dia
kok. Aku Cuma mau dekat aja sama kamu sekarang bel. Kantor sepi banget nggak
ada kamu..”
“ gombal ya. Kan cewek-cewek dikantor heboh demen
sama kamu.”
“ tapi nggak ada yang menarik hatiku sebegini
hebatnya loh seperti kamu. “ potong calvin tegas. Klara melihatnya lurus. Pria
seumurannya ini memang terlihat serius kepadanya tapi tuhan, klara nggak bisa.
Hati nya masih menginginkan aldevo kembali, seberapapun lamanya dia menghilang.
“ semoga nantinya tuhan mendengar doaku bel. “
Hati
klarabela rasanya ingin sekali terbang tinggi sekali. Perasaan aneh ini muncul
kembali, jatuh cinta. Mau jadi apa klarabela sekarang ini. cepat sekali dia
berganti pasangan, apa yang akan dibicarakan orang sekitarnya ya. Apalagi kalau
si dhafin sampai tahu kalau akhirnya klara pisah dan di tinggal pergi aldevo,
si pacar berondongnya.
***
Subjek : I love you
Kamu
yang terindah dan terbaik dari kehidupanku selama ini Anastasia klarabela.
Semoga tuhan menjagamu untukku. Mungkin tangan ini tak bisa lagi memeluk dan
mendamaikanmu tapi doa ku yang mewakilinya sayang…
Selamat ulang tahun…..
Regards,
Aldevo putra.
‘
cring.. ‘ pukul lima sore itu sebuah email masuk, klarabela yang masih lembur
buru-buru melihatnya. Matanya kini tertuju ke layar. Hancur. Ingin sekali air
matanya mengalir lagi setelah sekian lama kering, tapi dia berusaha menahannya.
Dia harus kuat. Dia harus kembali menjadi klarabela yang tegar dan tak lemah
oleh apapun.
Dimana
aldevo selama ini. dimana dia. Ribuan email masuk disaat hati nya sudah mulai
lelah dengan hal yang tidak mungkin ini. disaat dia sudah bisa membuka hatinya
untuk seorang pria baik hati dan amat mencintainya, yang rela memberikan waktu
sibuknya untuk menemaninya. Kenapa aldevo hanya muncul melalui email ? kenapa
dengan dirinya ? sehat kah dia ? kenapa dengan anak muda itu ?
Enam
bulan berlalu. Selama itu tidak ada yang tahu satu pun keberadaannya. Selama
itu hubungannya pun tidak jelas, rasa sayang yang banyak pun berkurang
perlahan. Selama ini dia menghilang, kemana dia ? untuk apa dikirimnya email
berkali-kali kalau menunjukkan dirinya pun dia tidak sanggup ? lalu untuk apa
dia pernah hadir dikehidupan klara ?
Hari
ini tepat klara berusia 28 tahun, dia tidak se excited seperti biasanya
merayakan hari jadinya. Biasa saja. Dia bahkan lupa dengan ulang tahun nya
sendiri hari ini. klara bahagia biarpun tidak jelas dimana keberadaan dirinya
tapi aldevo masih mengingat hari lahir klara. sore itu dia sengaja lembur,
kerjaannya banyak.
“ belaaa belaaaaa beleeeeeee….happyyy birthdaaay
sayaaanggg…” rombongan sirkus menyeruak masuk ke ruangan kerjanya. banyak
sekali yang hadir.
“ kerjaa teruuusss….nikah dong nikaah…tuwir lo ah. “
si denis masuk heboh sendiri. Klara berdiri. Raffa dan anin ada sore itu, anin
yang membawa cake menghampiri klarabela
“ make a wish kak… “ kata anin cepat. Klara bela
nampak mencari seseorang, matanya mengedar di antara kerumunan banyak orang
itu. Dia bête.
“ cari apa sih kak ? “ kata raffa reseh.
“ boss lagi meeting diluar klaaaaa “ cia yang tahu
benar apa yang dicari klara langsung paham, yang disindir malu dan buru-buru
menurut. Memejamkan mata lalu meniup lilin ulang tahunnya.
‘
tuhan aku percaya rencanamu lebih indah dari rencana apapun. Kau lah yang
memiliki alam semesta ini, bahagia kan aku selalu berikan untukku kekuatan
jasmani dan rohani, berikan aku tempat bersandar paling nyaman nantinya ya
tuhan pemilik seluruh alam semestaku ini. amin ‘
Begitu lilin ditiup sorak sorai
bergembira pecah diruangan sore itu, klara nampak biasa meskipun tawa nya
lebar. Ada yang kurang.
“ thanks ya, gue aja lupa hari ini ganti umur..” dia
tertawa. Seperti terpaksa
“ cari apa sih bel ? “ denis ikut geregetan, karena
sedari tadi klarabela memang nampak gelisah dan nggak bersemangat banget. “ dibilang
si boss lagi ada meeting, emang udah cinta mati banget ya..” skakmat ! klara
mati kutu di hadapan teman-teman dan adiknya. Dia malu banget
Tumben
banget sih calvin absen di acara seperti ini, kan biasanya dia yang jadi
penyalur ide. Kemana ya dia? Masa dia
lupa ulang tahun kekasih nya.
“ selamat ulang tahun ya kak… “ raffa mendekat.
Mencium pipi kanan kiri serta kening kakak kesayangannya yang masih bengong. “
semoga bahagia selamanya ya kak..”
“ makasih ya faa.. “ klara memeluk adiknya erat.
Sayang sekali dia kepada adiknya ini, selalu saja perhatian dan peduli.
Klara
diam sesaat. Dia menarik nafasnya panjang, dada nya kembang kempis. Dia harus
kuat, tegar. Dia harus membuang siapapun yang membuatnya sakit dan kecewa di
tahun lalu. Ini usia nya yang baru, dia harus bangkit dan hidup kembali dengan
suasana baru tanpa dibayangin rasa sedih ataupun kehilangan. Tuhan sudah
menyiapkan yang paling terbaik. Dan klarabela selalu mohon ini adalah jalinan
asrama nya yang terakhir dan yang direstui tuhan agar berakhir indah. Amin
“
happy birthday sunshine… “ seseorang muncul dari balik punggung klarabela. Dia
membalikkan badannya semangat.
“ katanya kamu…”
“ kamu yakin aku nggak dateng ya ? “ orang itu
tersenyum lebar, suara cie-cie terdengar jelas dan kencang saat itu juga. Klarabela
tersenyum malu, wajahnya memerah. Ini indah sekali
“ dan aku nggak mungkin absen dong di ultah calon
istri aku…” dia memberikan rangkaian bunga mawar besar, klarabela menerimanya
haru.
“ makasih sayang….” Ya, sayang. Klarabela menyayangi
pria ini sekarang. Sayang sekali. Hidupnya kembali berwarna setahun belakangan
ini. indah sekali. Dia mampu mengisi kekosongan hati dan membiarkan luka-luka
ini lenyap perlahan. Dan yang hebatnya, dia mampu memberikan kekuatan klarabela
menerima lamarannya. Calvin Anthony, pria yang mengisi hari nya setahun ini,
yang menyayanginya seperti aldevo nya dahulu yang memberinya kenyamanan dan
kepercayaan yang luar biasa. Terimakasih tuhan
“ aku punya sesuatu buat kamu… “ kata calvin saat
itu juga. “ ikut aku yaa..”
Klara mengernyitkan dahinya bingung. “ thankyou ya
semua. Kalian emang paling bisa deh di andalkan..” calvin menaikkan jempolnya
ke arah kerumunan staff kantor dan lainnya. Mereka pun tersenyum mengiyakan
“ ciyee… mau kemana sih boss buru-buru amat.. “
denis mulai reseh. Tapi dia ikut senang juga. Akhirnya klarabela mendapatkan
seseorang yang terbaik sekarang ini, seenggaknya ada yang menjaganya kalau
denis sudah tidak bisa sedekat dulu dengannya.
“ pengen saya DP sih rasanya… “ calvin menjawab
ngawur bikin yang lain ngakak geli banget, si klarabela mencubit perut calvin
sampai dia kesakitan.
Sesudah
pamitan sama yang lain, akhirnya calvin dan klarabela meninggalkan kantor.
Klara tetap membawa ragkaian bunga mawar dari calvin. Klara nggak merasakan ada
yang aneh, dia malah kepedean kalau si calvin mau mengajaknya candle light
dinner atau mau memberi nya kejutan lain yang lebih indah dan spektakuler. Sore
itu Jakarta sedikit lancar, dan calvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan
tinggi. Klara bingung sekarang, kenapa si calvin diam saja sedari meninggalkan
kantor. Palingan sesekali menoleh dan tersenyum kecil saja.
Mobil
audie hitam calvin menepi di parkiran rumah sakit mewah dibilangan Jakarta
selatan saat ini, klara nampak bingung sekali. Ini maksutnya apa yak kok dibawa
ke rumah sakit ? kenapa nggak ada romantis nya amat di bawa kerumah sakit ? apa
lagi sih rencana si calvin ?
“ gak usah bingung sayang, kamu aman sama aku. Yuk..
“ calvin menenangkan perasaan campur aduk klara saat ini. dia mengandeng tangan
calon istrinya itu erat sekali. Klara masih diam diposisi bingungnya sekarang.
Dia tetap membiarkan calvin genggam tangannya memasuki rumah sakit.
Klarabela
merasakan jantungnya berdebar saat ini, kencang dan cepat. Ada perasaan ngilu
dan nyeri sedikit. Keringatnya mulai menetes, ada perasaan takut, ada perasaan
yang tak bisa diungkapkan saat ini. ada apa ya dengannya ? kenapa calvin
membawa nya kesini ? apa mungkin dia mau jenguk dulu abis itu mengajaknya
dinner ya ? ah.. ikut aja deh.
Calvin
semakin mengenggam erat tangan klarabela dan sesekali memandang kekasih nya
itu, klara makin nggak paham. Klara merasakan ada yang berdesir di hatinya
sekarang memasuki lorong ruang ICU. Matanya panas, kayaknya airmata nya mau
keluar. Tapi kenapa ya ? .
Ada
beberapa orang di depan ruang ICU yang dia sangat kenal, tapi klara belum
merasa aneh. Calvin juga belum mau membuka suaranya, dan mereka semakin dekat.
“ sayang, aku mau ajak kamu ketemu seseorang… “ calvin berdiri berhadapan
dengan klara. klara bingung dan nggak tahu harus jawab apapun, ini pasti ada
yang aneh, ini pasti sesuatu yang besar deh.
Dokter
memberi arahan kepada calvin dan klarabela untuk memakai baju steril dan
masker. Klara menurut pula, klara saat ini merasakan sakit luar biasa di
dadanya tapi klara nggak tahu apa yang terjadi sekarang. Calvin membuka ruang
ICU, dia menggandeng klara pelan memasuki ruangan itu. Sunyi. Senyap.
Klarabela
mematung seketika. Airmatanya jatuh saat itu juga, mengalir deras tanpa bisa
mengeluarkan suara. Sakit sekali. Klara tidak mampu membuka mulutnya sekarang,
kelu dan susah.
“ dia yang minta semua ini selama setahun, sayang.
Jangan kamu bikin dia merasa sakit dan terus menyalahkan nya ya… “ calvin
berbisik lembut. Klarabela terisak hebat.
Itu
aldevo. Dia terbujur lemah tidak berdaya di atas tempat tidur ruang ICU,
ditubuhnya banyak sekali alat rumah sakit, banyak kabel. Tangannya banyak
sekali infus, dan sepertinya pernafasan pun dia dibantu alat. Ada apa dengan
pemuda ini ?
Rasanya
seperti kehilangan nafas saat ini. kayak dilempar batu besar ke dadanya,
sakitnya bukan main. Di ruangan ini kah selama ini aldevo menghabiskan waktunya
? selama apa dia berbaring ? kenapa dengan dirinya ? dan ada hubungan apa
dirinya dengan calvin ? apa lagi yang kau rencanakan tuhanku…
“ dokter bilang mungkin ini saat terakhirnya bel…”
Klarabela ingin sekali teriak sekencang mungkin,
tapi dia gak mampu. Dia menangis sejadinya didalam pelukan calvin. Sakit
sekali. “ aku gak mau jadi orang paling bersalah kalo sampe hati ngebiarin kamu
nggak pernah tau keberadaan dia…” calvin merintih. “ maafin aku, ini bukan
mauku. Aldevo orang baik bel, dia orang yang baik sekali. Sepupuku yang paling
dekat dan banyak sekali impian indahnya. Tolong kamu…”
“ aku udah maafin semua nya vin, semuaaa…” klara
terisak. Sakit memang dia rasakan sekarang, tapi klara nggak mau membiarkan
kesakitan aldevo semakin panjang.
“ dia yang mau aku menyayangi kamu seperti dia dulu
bel….”
Klara
melepas pelukan calvin saat itu. Dia menghampiri aldevo di atas ranjangnya. Ya
tuhan, kasihan sekali dia sekarang. Aldevo nya yang ceria, yang pecicilan dan
selalu gembira kini terbujur tidak bertenaga dan tidak memiliki semangat
seperti biasanya. Dia sakit apa selama ini tuhan ? kenapa aldevo menutupi semua
nya. Kenapa baru sekarang klarabela mengetahui semuanya ? di saat dia baru
bangkit dari terpuruknya dan berusaha melupakan devo. kenapa laki-laki ini
muncul dengan kondisi seperti ini. ingin sekali memeluknya, klara nggak bisa
membohongi dirinya juga sekarang dan calvin pun paham. Klara merindukan sosok
pemuda itu.
“ hai anak muda… “ klarabela mendekat, mencoba
menyentuh jemari pemuda itu yang mulai bengkak karena infusan. Dia nggak kuat,
air matanya terus mengalir, sesekali terisak mengatur nafasnya. “ jadi gini
cara kamu bikin aku kangen ya….” Klara kembali dalam memori indahnya terdahulu.
Dia tertunduk kelu. “ kamu itu hebat vo. Terimakasih udah pernah hadir dan
membuat hidupku berwarna….”
Calvin
diam membiarkan itu semua terjadi, tidak ada rasanya cemburu. Calvin tahu benar
rasanya klarabela sekarang. “ terimakasih buat kebaikan dan perhatian kamu.
Doain ya pernikahanku lancar…” klara berusaha mengatur setiap katanya, dia
masih sesak sekali. “ aku sayang sama kamu, sejauh apapun kamu pergi dan selama
apapun kamu kembali nantinya. Terimakasih buat semuanya. Kamu bilang emang
benar, sekuat apapun kita berusaha bersama kalau tuhan mau kita pisah, kita
bisa apa… “ calvin menghampiri klara. “ rencana tuhan memang lebih indah dari
rencana yang kita buat, kalau kamu mau istirahat sekarang, aku ikhlas…. “
klarabela menghapus air matanya, mencoba tegar di tengah sedihnya. “ semoga
tuhan memberikan tempat paliiiing indah untuk orang sebaik kamu…. “
Aldevo
merasakan kehadiran sosok klarabela, air mata nya menetes. Alat di monitor pun
sudah tidak bisa dikendalikan lagi, nggak lama kemudian aldevo menutup matanya
perlahan. Dan rapat. Klarabela menangis sejadinya ke dalam pelukan calvin.
Sakit dan pedih. Orang yang amat dia cintai, orang yang amat misterius yang
penuh kejutan dan selalu bisa membuatnya tertawa yang selama ini menghilang
dengan lamanya kini sudah dia temukan. Tapi tidak dengan kondisi seperti sedia
kala yang ceria dan enerjik, kali ini dengan kondisi yang sudah terbujur kaku
dan tidak mampu berbuat apapun. Aldevo meninggal.
* * *
Sore
itu sedikit mendung tapi prosesi pemakaman aldevo harus tetap dilaksanakan.
Semua sudah berkumpul. Klarabela menangis tidak berhenti dibalik kacamata
hitamnya. Keikhlasan hatinya kemarin ternyata seperti ini. pencarian nya selama
setahun ternyata berakhir begini, dia kehilangan aldevo selamanya. Klarabela
kehilangan pemuda nya yang enerjik dan yang selalu ia rindukan kehadirannya.
Kini dia pergi untuk selamanya, bukan untuk mengurusi skripsi atau urusan
lainnya. Kini dia sudah bersama tuhan.
Banyak
sekali yang datang mengantar aldevo ke peristirahatannya terakhir kali sore
itu. Dia memang orang yang baik, pasti banyak rekannya. Papa dan mama klara pun
turut hadir sore itu, setelah raffa menelpon mereka buru-buru melesat ke
Jakarta. Tapi yang bikin klarabela sadar selama ini, ternyata café star itu
milik aldevo. Pantas saja dulu dia akrab dengan semua waitress nya sampai
dipanggil bapak, dan kini mereka hadir disini. Semua menangis, terisak, ikut
larut dalam kesedihan mendalam yang dirasakan klara. calvin si sepupu yang baru
ketahuan kemarin pun menangis melihat saudaranya dimasukkan di liang lahat. Dia
masih nggak nyangka aja..
“ yang tenang ya vo… “ klarabela berbisik lemah
disela tangisnya sewaktu bunga mulai ditabur di atas makam aldevo. Kini hatinya
sedikit tenang begitu melihat senyum calvin disampingnya, klara yakin sekali
semua memang sudah tuhan atur sedemikian jauh dan rapihnya. Orang yang tidak
pernah dia dekati dan tidak terbayang sama sekali dihidupnya kini akan menjadi
calon suaminya. Dia yang akan menggantikan kehadiran aldevo, sepupunya.
Usai
pemakaman klarabela dan calvin meluncur ke arah taman kota sesuai permintaan
klarabela. Mereka duduk di bangku taman.
“ maaf kalo selama ini aku nggak cerita, ini kemauan
almarhum… “
Klara
membalas tatapan calvin. “ maafin aku udah jauh banget berbuat seperti ini ke
kamu, bukan aku mau memanfaatkan sesuatu tapi aku… “
“ terimakasih ya sudah hadir untukku. Aku sudah
ikhlas dengan semua ini. aku nggak mau bikin devo nggak tenang. Tuhan pasti
menempatkan nya disisiNYA ditempat yang paling nyaman dan baik. “ klara berucap
lirih. Dia nggak boleh menangis dan berlarut dalam kesedihannya sekarang. Biar
bagaimanapun juga dia harus mengikhlaskan aldevo pergi, dia pasti bahagia
sekarang. Klara harus bisa membuang rasa rindu nya jauh-jauh.
“ nanti aku tunjukin kamu sesuatu ya. “ calvin
merangkul kekasihnya itu. Dia mencium kening nya lembut. Salut sekali dia
dengan wanita ini. cepat sekali dia berusaha bangkit dari sakit dan pedihnya
kehidupan yang dia jalani, nggak salah pilih emang. “ bantu aku ya untuk
membimbing kamu, aku emang nggak bisa seperti aldevo. Tapi aku pasti usaha
bikin kamu…klepek-klepek deh. “
“ apaan sih kamu iniii !!! “ klara sewot banget.
Calvin ini selalu ada aja ulahnya. Diwaktu begini masih aja bercanda. Dan
mereka pun tertawa bersama.
“ ini ada titipan untuk kamu. “ calvin memberikan
notebook silver ke arah klarabela, wanita itu menerimanya bingung. “ itu punya
aldevo. Isinya tentang kamu. Semua. Kalo kamu kangen dia, dibaca aja..”
Klarabela menitikkan air matanya. Sedih campur haru
dan nggak menyangka saja. Calvin baik sekali. Dia nggak membiarkan klarabela
melupakan aldevo secepat mungkin, dia malah berkata demikian. Ya tuhan inikah
jalan takdir darimu?
“ seenggaknya tuhan nggak ngebiarin aku sendiri
sekarang. Makasih sayang udah baikkk dan sabar banget sama aku…” klarabela
menghambur ke dalam pelukan calvin saat itu juga, dia terisak hebat. Tangisan
bahagia nya.
Malam ini acara tahlilan dirumah orang tua aldevo.
Klarabela hadir beserta calvin, raffa, anin dan mama papa. Biar bagaimanapun
juga aldevo adalah tetangganya dulu di bandung. Hari pertama tahlilan pun
banyak yang hadir. Teman kampus, karyawan café dan teman lainnya, hampir penuh
isi rumah. Sebelum acara tahlilan di mulai klara duduk di bangku taman dekat
kolam renang, dibangku itu dimana dia dulu menghabiskan sore bersama aldevo.
Calvin membiarkan wanita nya itu sendiri.
Klara
membuka notebook milik aldevo perlahan. Dihalaman pertama itu ada fotonya
dahulu. Ada raffa dan aldevo kecil umur setahun dan ditengahnya klarabela
menggunakan baju SD nya. Ah ingat sekali anak ini masa kecil mereka. Lagian
rajin banget sih punya notebook segala. Dasar emang orang aneh. Batin klara
geli sendiri dalam hati
“ bela, rasa sayang dan kagum aku ke kamu nggak akan
pernah habis sedikitpun. Dari mulai kita masih kecil sampe akirnya ketemu lagi
di Indonesia. Mungkin waktu kamu baca tulisan ini aku udah nggak bisa liat kamu
senyum-senyum lagi. Aku aneh ya ? kerajinan banget ya ? hahah biarin ya… biar
kamu tau. Rasa sayang dan pembuktian cintaku ini nggak pernah bisa ditulis dan
dijabarkan satu buku ini. aku sayang kamu, melebihi apapun… “
Klara diam mematung, dia merasakan angin berdesir
dibelakang pundaknya sore itu. Dia mencoba menenangkan diri.
“ dan semua impianku menjadi kenyataan waktu kamu
bilang iya. Rasanya dunia ini milik aku sama kamu. Rasanya di sisa umurku ini
aku ingin sekali buat kamu bahagia, biar kamu selalu ingat aku. Kamu nggak
perlu takut, tuhan sudah menyiapkan gantinya. Terimakasih untuk keceriaan kamu
selama ini. kamu yang bikin aku semangat hidup lagi, kamu yang bikin aku selalu
semangat saat kemoterapi, kamu yang selalu bisa bikin hari aku berwarna dan
selalu semangat meminum setiap obat-obatan yang masuk tiap harinya. Aku lemah
ya, maaf ya aku nggak bisa jagain kamu kayak yang aku janjiin dulu ke kamu.
Dokter memvonis umurku tinggal beberapa bulan lagi, kanker darah yang aku punya
setahun ini cepat banget kerjanya. aku sekarang nggak sekuat dulu. Aku malu…”
Klara menangis. Jadi selama ini, pemuda itu berusaha
sekuat tenaga berusaha seperti orang sehat dihadapannya ? jadi selama ini
aldevo lah yang sebenarnya memiliki kesakitan yang lebih parah darinya ? jadi
selama ini dia berusaha menutupi sakit nya ini. kenapa ?
“ aku nggak suka liat kamu deket sama laki-laki
lain. Termasuk calvin. Dia sepupuku. Aku tau kalian sepantaran dan aku nggak
suka. Tapi aku nggak boleh egois, calvin memang pilihan paling baik untuk kamu
bel. Aku percaya dia, kamu ada di orang yang tepat. Kalau kita nggak bisa hidup
bahagia berdua seenggaknya aku udah bisa liat kamu bahagia sama calvin. Aku
ikhlas lahir bathin, aku tenang. Aku menghilang bukan karena aku jahat dan
nggak peduli sama kamu, tapi aku nggak mau jadi beban untuk hidup kamu. Kamu
udah terlalu banyak terluka. Aku minta maaf…”
Klarabela tidak mampu menahan air matanya, dia
sesenggukan membaca tiap lembar tulisan rapih tangan aldevo…
“ kalau nanti kamu baca ini kamu harus cobain masuk
ke kamarku deh. Disana kebaikanku, surgaku dan betah banget didalamnya. Disana
aku menghabiskan waktu sehabis kemoterapi yang sakitnya bukan main. Aku botak
sekarang bel, aku gak seganteng dulu. Aku malu dan nggak siap ketemu kamu. “
Klara berdiri dari posisi duduknya, dia lemas.
Rasanya tidak kuat menggerakan tubuhnya tapi klara penasaran sekali dengan isi
tulisan aldevo ini. dia menuju kamar aldevo, dia mencari bobby. Sepupu aldevo.
Agar mengantar nya ke kamar aldevo. Dia ingin melihat.
Klara membuka perlahan pintu kamar aldevo, ada angin
yang berhembus kencang menyeruak dari kamar. Adem dan sejuk. Aldevo pasti ada
disini. Bobby menunggu di depan pintu kamar. Klara masuk perlahan, matanya
melebar seketika, panas yang dia rasakan. Air matanya mengalir di atas pipi.
Klara menutup mulutnya, nggak percaya. Dia sesenggukan.
Betapa
tidak percaya nya klarabela saat ini melihat isi kamar aldevo. Didindingnya
penuh dengan foto dirinya. Itu hasil jepretan dari kamera miliknya, bahkan
klarabela pun nggak menyangka tiap jepretannya. Itu dilakukan nya diam-diam.
Banyak sekali. Dan ada satu yang paling besar seukuran lukisan terletak
ditengah kamar. Klarabela menangis tidak percaya. Sebesar ini rasa sayang
aldevo kepadanya. Secepat ini pula dia harus pergi tanpa ada sepatah katapun
sebelum kepergiannya.
“ tante, ini om evo yang foto sendiri. Tante gak
sadar kan “ bobby menghampiri klara yang duduk di atas ranjang aldevo.
Klarabela mengganguk mengiyakan. “ di kamar ini om sering kesakitan, kadang
suka teriak sendiri. Kasian tan…” bobby ingin menangis, klarabela mengusap
kepala anak itu.
Klara
masih mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia baru tahu sekarang, kenapa dia nggak
diizinkan tahu semua, kemana dia sewaktu aldevo membutuhkan kehadirannya
?kemana dia sewaktu aldevo kesakitan.
Klara tertunduk lunglai, dibuka nya halaman terakhir
notebook itu..
“ dan aku berterima kasih sama tuhan sudah diizinkan
sejauh ini mengenal kamu penyemangatku. Aku nggak pernah marah sama takdirnya,
ini pasti jalannya. Aku ikhlas, kalau kamu tahu. Belajar ikhlas itu memang
susah, tapi aku selalu percaya dibalik semua itu ada keindahan. Bahagia ya sama
calvin. Kakak ku. Dia yang bisa bikin kamu bahagia utuh menjadi wanita. Punya
keluarga tanpa harus diam-diam dan memiliki anak-anak lucu seperti impian kamu
yang selalu gagal dulu. Tolong ceritakan ke mereka nantinya, tentang aldevo
yang ngeselin ini ya. Aku sayang kamu, aku mengagumimu melebihi apapun. Bukan
jarak yang memisahkan kita, tapi tangan tuhan. Ia bekerja lebih hebat…”
Klara nggak kuat lagi, dia menangkap sosok seseorang
di hadapannya. Itu calon suaminya. Dia tersenyum lebar. “ akuu…aku…” klarabela
terbata, dia nggak kuat bicara. Calvin menyentuh lembut kedua pipinya,
memeluknya dalam dan sayang.
“ aku sayang kamu seperti aldevo menyayangimu
terdahulu. Jadilah orang yang aku kagumi selalu sayang…. “ calvin menambah erat
pelukannya. Klarabela terisak hebat dalam tangisnya.
Sekarang
klara tahu apa yang dimaksut dengan ikhlas yang ilmunya susah itu. Klarabela
harus mengilkhlaskan sesuatu yang pergi untuk mendapatkan yang lebih baik lagi.
Klarabela mantab melangkah ke pelaminan bersama calvin tanpa menutup semua
kenangan aldevo nya.
* * *
Hari pernikahan pun tiba…
Calvin
dari dua hari sebelum pernikahan sudah nggak bisa tidur, pikirannya semrawut,
panik dan grogi berat. Perutnya terasa mules, ini nyebelin ngelebihin ketemu
klien-klien bawel. Mami papi berusaha menenangkan, dan yang menambah kuat serta
kembali muncul semangatnya saat ia melihat mami aldevo hadir. Calvin tidak
boleh mengecawakan aldevo.
Calvin
menuruni lift keluar dari kamar hotel ke arah ruang resepsi di adakan. Acara
pernikahan itu diselenggarakan di hotel milik om nya sendiri. Dan terkesan
mewah, ya maklum namanya juga pesta bilyuner muda.
“ selamat ya sayang, mama senang sekali..” mama
menciumi anak perempuannya itu yang sebentar lagi bakalan melepas masa
lajangnya. Mama terharu, akhirnya perjuangan klara berakhir bahagia juga.
Akhirnya dia mendapatkan sosok pria yang baik serta sesuai impiannya.
“ gak boleh nangis ah, ntar mascara bela luntur nih
maaa… “ ledek klara. sebenernya dalam hatinya juga sedih banget, apalagi kalau
ingat dia bakalan meninggalkan raffa sendirian dan pindah ke rumah calvin.
“ selamat ya kak, jangan sombong lohhh..” raffa
mengenggam tangan kakaknya erat, dia menahan air matanya. Dia berusaha nggak
nangis biar kakaknya nggak ikutan sedih. Padahal mah kalau mau dijabarin
sekarang, raffa nggak ikhlas banget.
“ ih udah ah, aku nggak suka begini nih. Biar gimana
pun nanti, aku tetep punya kalian kok. Bela kalian, oke…” klarabela nyengir
lebar menahan sedih.
Akhirnya
sebentar lagi dia resmi menikah. Menjadi nyonya calvin Anthony dan melepas
status lajang serta predikat perawan tuanya. Akhirnya dia bisa merasakan
kehidupan sesungguhnya seperti yang dia harapkan dulu bersama
kekasih-kekasihnya. Menikah, bahagia dan memiliki banyak anak.
Klarabela
yakin sekali dengan pilihannya kali ini. calvin lah yang terakhir, orang yang
nggak pernah dia pikirkan sebelumnya. Orang yang nggak pernah terbesit jadi
bagian hidupnya. Dia bakalan jadi istri seorang pemilik perusahaan besar
tempatnya bekerja. Ya tuhan, rencanamu memang selalu indah.
“ udah siap nyonya Anthony ? “ seseorang mengulurkan
tangannya kehadapan klarabela yang lagi ngelamun, dia geragap.
“ lah, mama raffa papa anin, kemanain ?”
“ keluar. Lagian kamu ngelamun mulu…” kata calvin
cepat. “ yuk ah, payah banget nih. Hobi sih ngelamun, awas ya ntar malem aku
dianggurin…”
“ calviiinnn….” Klarabela menjerit kesal, calvin
terkekeh.
Calvin
dan klarabela berdiri berhadapan. Kedua nya saling pandang, dalam dan lurus.
Cantik sekali calon istrinya ini, betapa beruntungnya dia bisa memperistri
klarabela akhirnya. Perempuan yang diam-diam memang sedari dahulu sudah dia
taksir. “ kamu mau ngapain ? “ tanya klarabela panik.
“ mau……” dia mendekatkan wajahnya. “ mau nge-DP
kamu.”
“ ihhhh..calvinnn…” dia mendorong calvin kencang.
Calvin tertawa geli sekali
“
kamu nih pikirannya kotor mulu sih, bisa nggak sih sabaran dikit…”
“ aku nggak bisa sayang, hawa nya tuh kalo deket
kamu mau nyosor aja.. “ kata dia asal disertai tawanya yang geli. Klara diam
memperhatikan. Aldevo memang sudah tiada, tapi sikap nya yang enerjik dan
kadang ngangenin yang ceplas-ceplos masih suka hadir lewat calvin. Sikap mereka
hampir mirip. Memang klarabela tidak bisa melupakan setiap detiknya bersama
pemuda nya dahulu tapi mulai sekarang klara akan memulai kehidupan barunya
dengan calvin. Semoga tuhan merestui.
“ yuk ah, abisan kamu lama banget dandan nya sih…”
Dan
tuhan memang merestui mereka. Proses akad nikah pun berjalan lancar tanpa
hambatan. Calvin mampu menguasai ijab qabul sebaik mungkin, sewaktu semuanya
berkata sah. Meluncur lah tangis kebahagiaan klarabela saat itu juga. Dia
memperhatikan sekitar, dia tersenyum melihat aldevo sekilas di sudut ruangan
hotel tersebut. Akhirnya dia resmi menjadi istri, akhirnya dia menjadi wanita
seutuhnya. Akhirnya dia merasakan akhir bahagia perjalanan panjangnya. Terima
kasih tuhan…
‘ dan aku sadar, hadiah terindah yang pernah aku
punya sekarang adalah suamiku. Tuhan maha mendengar doa-doa hambanya, tangannya
bekerja lebih baik dari tangan hambanya. Terimakasih tuhan untuk nikmatMU..’
No comments:
Post a Comment